Bab 82-3

702 Kata

“Lepasin, Om! Sakit ....” Kania memberontak. Ia menarik tangannya berulang kali untuk berusaha melepaskan diri. Namun, makin ia berusaha, makin kuat pula tekanan di pergelangannya. Lagi-lagi Biantara diam. Wajahnya terlihat lebih berbahaya. Tatapannya benar-benar seperti hendak menerkam Kania saat ini juga. “Om! Lepasin!” Teriakan itu membuat Biantara menarik Kania, berusaha menyeretnya keluar. Namun tubuh gadis itu justru melawan secara refleks. Kania mundur. Pergelangannya sudah terasa nyeri dan panas akibat terlalu lama melawan, tapi selalu berakhir sia-sia. Tanpa disadari, kejadian itu menarik perhatian banyak orang. Kerumunan mulai terbentuk. Beberapa tampak menyayangkan sikap Biantara terhadap gadis itu. Namun tak satu pun berani melerai. Mereka tahu betul kedudukan Biantara

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN