Bab 85-2

717 Kata

“Cukup!” Melati memotong, suaranya meninggi. “Kakak kecewa sama sikap kamu, Naren. Kakak minta kamu jaga Kania, bukan buat ngerusaknya!” Naren menunduk dalam. Rasa bersalah itu kian menekan dadanya, terlebih pada gadis yang baru semalam resmi menjadi kekasihnya. Di mata Melati, dugaan itu kian menguat. Naren-lah yang ia anggap sebagai penyebab luka di bibir Kania, juga sosok yang membuat keponakannya tampak lemas dan pucat. “Kamu apakan keponakan Kakak, Naren?!” Nada bicara Melati berubah seketika. Tidak ada lagi kehangatan, tidak tersisa pula senyum ramah yang biasanya menghiasi wajah cantiknya. “Aku sama Kania ke klub, Kak.” Plak! Tangan Melati melayang ke pipi kiri Naren. Tamparannya tidak keras, tetapi cukup menyampaikan kekecewaannya. Lelaki yang selama ini ia anggap baik, tern

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN