Jemarinya sempat mengetik beberapa kata, lalu berhenti. Ia menghapusnya. Mengetik lagi dengan kalimat yang lebih panjang, menatap layar sejenak, sebelum kembali menghapus semuanya. Kania tak tahu harus membalas dengan cara apa. Ponsel itu akhirnya ia letakkan di atas tempat tidur. Ia memilih keluar dari kamar dan turun ke dapur. Rasa lapar di perutnya tak bisa lagi ditahan. Dengan langkah pelan, Kania menyiapkan makan malam sederhana—telur mata sapi dan salad buah. Ia duduk di kursi pantri, menyantap makanan itu perlahan. Pandangannya berkeliling. Sepi. Tak ada siapa pun di sana. “Mba,” panggilnya akhirnya pada pelayan, memecah keheningan. “Om lagi keluar?” “Tuan ada di kamar, Non. Dari sore mual terus. Nggak ada makanan yang masuk. Padahal, kami sudah coba ganti menu sampai tiga kali

