Bab 86-2

718 Kata

Terlalu berani. Terlalu keras untuk dipatahkan. Meski Biantara telah menggunakan berbagai cara untuk menghancurkan, nyatanya sang keponakan masih berdiri—belum juga runtuh. Entah sebesar apa kekuatan yang dimiliki Kania. Dari sekian banyak perempuan yang pernah Biantara temui, tak satu pun yang sekeras dan seteguh gadis di hadapannya kini. Biantara salah menilai. Kania bukan ranting rapuh yang mudah dipatahkan. Bahkan cara paling keji untuk merendahkan pun tak sanggup membuat keponakannya gentar. “Kenapa, Om?” Kania menantang, suaranya tenang namun menusuk. “Apa memang masih belum puas?” Rupanya Kania memang memilih jalan untuk terlihat berantakan di mata Biantara. Semua itu ia lakukan semata-mata demi memenuhi kepuasan pria tersebut dalam membencinya—seolah kebencian itu satu-satunya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN