“Makan kamu teratur?” tanyanya kemudian. “Mas Bian akhir-akhir ini sering keluar, Ma,” jelas Melati, paham betul kebiasaan suaminya. “Jadi lebih sering makan di luar. Lagipula, Kania juga banyak kegiatan di luar menjelang PAS semester kemarin, jadi—” “Itu bukan alasan, Melati,” potong Ranti cepat. Tatapannya beralih ke belakang. “Kania!” Gadis yang sedang memindahkan bahan makanan ke dalam kulkas itu langsung berdiri. Dengan langkah hati-hati, ia menghampiri ruang tengah yang jaraknya tak jauh dari dapur. “Ada apa, Tita?” “Duduk!” Kania menuruti perintah itu. Ia duduk di samping Melati, kepala tertunduk. Selalu seperti ini setiap kali berhadapan dengan Hanggara dan Ranti. Keberaniannya seolah luruh, bahkan untuk sekadar memberi perlawanan kecil. “Kamu tahu tugas kamu di sini, kan?”

