Derap langkah Biantara makin mendekat, terdengar pelan namun menekan. Entah kenapa dadanya terasa sesak meski pria itu tak berkata apa pun. Lelaki itu berhenti tepat di samping ranjang tempat Kania berbaring. “Bangun.” Kata itu terdengar dingin, seolah tak dilandasi sedikit pun rasa empati. Padahal, kondisi Kania jelas jauh dari kata baik. Namun Biantara tetap memberi perintah dengan egois tanpa menimbang keadaannya. Dan kali ini Kania terlalu lelah untuk berdebat. Ia tidak punya cukup tenaga melawan. Ia bahkan tidak ingin mendengar suara keras pria itu—apalagi menghadapi perlakuan yang membuatnya merasa semakin direndahkan. Dengan kepala yang masih berdenyut, Kania memaksa diri bangun. Tubuhnya meringkuk saat hawa dingin menyeruak, kedua lengannya memeluk dirinya sendiri. Biantara me

