Bab 90-4

969 Kata

Sepatu pantofel hitam mengilap milik Biantara menimbulkan bunyi khas saat bergesekan dengan lantai marmer. Ia melangkah mendekat, berhenti di sisi tempat tidur, lalu menatap Kania dari jarak dekat. Kania sadar akan kehadirannya. Ia tahu betul pria itu sedang menatapnya dengan sorot penuh tekanan. Namun, Kania memilih bersikap acuh. Ia berpura-pura seolah kamar itu kosong, seolah tak ada siapa pun di sana kecuali dirinya. Hatinya terlanjur mati rasa—tidak lagi sanggup memaklumi apa pun. “Kenapa nggak makan?” tanya Biantara rendah. “Hm?” Hening. Kania benar-benar tidak menjawab. Ia diam seribu bahasa seperti orang bisu. Rasa muaknya sudah terlalu penuh. Lelahnya menumpuk. Ia tak punya ruang lagi untuk menerima apa pun yang datangnya dari Biantara. “Jawab.” Biantara kembali mendesak.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN