Ia berkedip berulang kali, berharap semuanya kembali normal. Namun tidak. Gelap justru merayap lebih cepat. Kakinya melemah, tubuhnya tak lagi mampu menopang diri sendiri. Kania ambruk. Perdebatan Nala dan Mr. Anton terhenti seketika. Para siswa langsung mengerubungi, rasa penasaran mendorong mereka mendekat. Bisik-bisik langsung bermunculan, masing-masing menyuarakan dugaan sendiri. Tiba-tiba, satu tubuh kekar menerobos keramaian dengan langkah tergesa. Naren. Wajah lelaki itu pucat oleh kepanikan ketika ia berlutut, menghampiri kekasihnya yang sudah tergeletak di tanah. Naren membawa kepala Kania untuk ditaruh di pahanya, menepuk pipi sang gadis beberapa kali. “Kania, bangun.” Nala menghempas tangan Naren yang menepuk pipi kawan karibnya sembari menggeram marah. “Lo ngapain,

