Naren muncul dengan segelas teh di tangannya, diikuti seorang siswi berseragam PMR. “Lho, kenapa kamu duduk?” tanya Naren sambil mendekat. Ia lantas duduk dan membantu Kania meminum teh yang dibawanya—meniupnya terlebih dulu sebelum menyodorkan ke bibir gadis itu. Di saat yang sama, anggota PMR menyentuh kening Kania, mengecek suhu yang memang terasa cukup panas. “Kania mau gue antar pulang,” sahut Nala, menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan pada Kania. “Kasihan, dia nggak kuat kalau lanjutin pelajaran. Takutnya—” “Gue aja yang nganter,” potong Naren cepat, tak memberi Nala kesempatan menyelesaikan kalimatnya. Kania yang menyadari perdebatan itu akan memanjang segera menengahi. “Udah, Naren. Nggak apa-apa. Aku sama Nala aja.”Top of FormBottom of Form Saat Nala hendak kembali

