Kalimat itu menggantung di udara dengan ringan, namun sarat luka yang selama ini dipendam. Tangan kanan Ranti terangkat. Dalam satu gerakan cepat, tamparan keras mendarat di wajah Kania. Bunyi pukulannya itu nyaring, tajam dan terdengar menyakitkan. Kania terhuyung. Ia yakin pipinya kini memerah. Rasa panas bercampur kebas menjalar sampai telinganya kembali berdenging. Refleks tangannya mengusap pipi dengan jemari yang sedikit gemetar. “Dengar baik-baik, Kania,” ujar Ranti dingin dan penuh tekanan. “Melati sedang hamil muda. Kalau sampai terjadi sesuatu sama dia, kamu orang pertama yang akan saya tuntut!” “Kak Melati dan Om Bian bukan tanggung jawabku, Tita,” balas Kania, suaranya bergetar tapi tidak surut. “Mereka udah bukan anak kecil yang butuh orang lain buat ngatur hidup mereka!”

