Cukup lama gadis itu berkutat dengan peralatan dapur, bergerak seadanya sampai akhirnya sebuah suara ketus menyentak gendang telinganya. "Hati-hati kalau siapin makanan buat anak saya. Kehamilan awal ini rentan banget." Sesegera mungkin Kania menoleh dan mendapati Melanie melipat kedua tangan di depan d.a.da. Kedua mata wanita paruh baya itu menatap ke masakan yang sudah hampir siap, tidak melewatkan satu detail saja. Kania mengangguk paham. "Iya, Oma, aku tau." Ada rasa iri dalam hati Kania begitu mengetahui bahwa kehamilan Melati mendapatkan perhatian lebih oleh seluruh anggota keluarga, seakan-akan memang inilah waktu yang mereka tunggu. Sementara Kania tidak merasakan hal itu sama sekali. Jangankan diperhatikan, kehamilannya saja bahkan tidak diketahui oleh siapa pun, kecuali Nala

