Lovely sama terkejutnya. Ia tersentak dengan napas yang berhenti di tenggorokan. “Panas. Sakit—“ Nala berseru panik dan segera menghampiri keduanya. “Astaga, kena kulit? Bilas cepet!” Kondisi di laboratorium mendadak ricuh. Beberapa siswa segera mengerubungi mereka, ingin melihat dari dekat. Sementara, Kania masih memegangi tangannya yang terasa makin panas dan perih. Gadis itu menggigit bibir, menahan tangis. Hal yang sama juga Lovely lakukan. Di tengah kericuhan, pintu laboratorium terbuka. Naren berdiri keheranan. Ia menatap seisi laboratorium satu per satu. Guru yang berdiri dengan tegang. Beberapa siswa yang berbisik panik, hingga tatapan terakhirnya jatuh ke arah Lovely yang berdiri dengan wajah yang memerah. Lelaki itu pun berlari tanpa ragu dan langsung menarik tangan Lovel

