Bab 102-3

719 Kata

Tanpa banyak bertanya, Lovely mengangguk patuh. Gadis dengan wangi manis permen itu melangkah keluar dari UKS, meninggalkan jejak aroma lembut yang perlahan memudar seiring pintu tertutup. Keheningan menggantung sesaat di ruangan itu, menyisakan hanya suara napas dan detak jam dinding yang terasa semakin nyaring. Setelahnya, Naren menghampiri brankar tempat Kania terbaring. Langkahnya mantap namun rahangnya mengeras—sebuah pertanda bahwa ada sesuatu yang menekan di dalam dirinya. “Lo keluar, gue mau ngobrol sama temen lo.” Naren berujar sembari menatap Nala tanpa tedeng aling-aling. Kania tersenyum getir saat mendengar Naren mengganti namanya dengan sebutan “teman Nala”. Kata-kata itu sederhana, tapi cukup untuk menekan dadanya hingga terasa sesak. Ada perih kecil yang menjalar, seolah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN