Bukan ini yang Naren harapkan, bukan kebencian, bukan jarak yang makin lebar di antara keduanya. Ia duduk di ranjang sembari mengacak-acak rambutnya kasar, kesal sekaligus bingung. Namun, gengsi dan rasa cemburunya lebih mendominasi. Pada akhirnya, ia tidak mencoba menyusul Kania dan meminta maaf. Ia biarkan gadis itu pergi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. ** Suara sepatu Kania beradu dengan lantai teras mansion yang luas, menggema di keheningan sore. Ia memang langsung pulang, mengingat praktikum kimia tadi adalah jam pelajaran terakhir. Begitu pintu tertutup, Kania langsung menuju tangga. Tubuh dan pikirannya sama-sama lelah. Kepalanya terasa berdenyut, seakan hendak pecah. Saat ini, yang ia inginkan hanya satu—tidur. Sekadar memejamkan mata untuk mengalihkan semua yang memen

