“A–aku minta maaf, Om,” ucap Kania panik. Suaranya gemetar, nyaris pecah. “Aku nggak sengaja.” Tak ada jawaban. “Aku nggak bermaksud lukain Om. Aku—” “Lanjutkan.” Biantara memotong ucapan Kania. Ia melihat bagaimana takutnya gadis itu melalui sorot mata dan caranya bertindak. Kania menelan ludahnya cukup kasar. Kapas yang telah diberi antiseptik itu ditekan pelan ke luka pamannya. Pria itu mengerang ringan, menahan perih yang masuk ke celah luka tidak terlalu dalam itu, meski mengeluarkan banyak darah. Helaan napas pendek yang terlalu sering terdengar memburu. “Maafin Kania, Om ....” Sekali lagi, kata maaf itu terdengar. Tulus dan lembut, sama seperti tatapan yang kini terlihat dari mata gadis tersebut ketika wajahnya terangkat. Air mata Kania menetes lagi di tengah tatapanny

