Biantara memejamkan mata. Di detik itu, ia sadar—bukan Kania yang berbahaya. Melainkan perasaannya sendiri. Sekali lagi, Biantara teringat malam itu. Bayangan Kania dan gadis itu terlalu mendominasi otaknya. Biantara kalap. Ia terlanjur kehilangan akal sehatnya ketika gadis tersebut makin memperdalam ciumannya. Tengkuknya ditekan oleh jari-jari Kania. Begitu keduanya hampir kehilangan napas, Kania melepas ciumannya. Tangannya masih menggantung di leher sang paman. “Kamu harus membayar impas atas apa yang kamu mulai, Kania.” Gadis itu tersenyum kecil, menantang. Ia biarkan tangan sang paman menggendongnya seperti anak koala untuk dibawa ke red room. Keduanya melakukan di sana. Di ruang yang minim cahaya itu, dengan berbagai posisi sekaligus menuruti fantasi Biantara yang liar da

