Hanya ada gelengan yang diberikan Kania. Sejujurnya, gadis tersebut pun bingung dengan dirinya sendiri. Ia seperti tidak punya arah ketika keinginan itu muncul. “Kalo kayak gini, lo candu namanya.” Nala kembali bicara. “Ngaku nggak ngaku, lo udah punya ikatan sama Si Om.” Mendengar itu, Kania menoleh. Ia menatap gadis di sampingnya penuh arti. Kata-kata tersebut seperti sebuah kebenaran pahit yang harus diterima. “Biar aja, Nal. Dari awal, aku emang udah rusak. Biarin aku rusak sekalian. Lagi pula ....” Kania menggantung ucapannya. Ia menunduk. “Aku ngelakuinnya cuma sama Om, kok.” Nala bisa melihat jelas bagaimanapun kesedihan gadis itu. Apalagi sayatan-sayatan di tangan Kania sudah cukup menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. “Tapi, gue gedeg banget sama Si Naren. Bisa-bisan

