Bab 108-3

705 Kata

Ranti tertawa sinis. “Jangan harap kamu bisa istirahat sebelum tugas kamu selesai.” Aturan kejam itu membuat Kania semakin muak. Rasanya, ia tak ubahnya b***k di rumah ini. Tak ada sedikit pun belas kasihan untuk tubuhnya yang kian lemah. “Cepat, Kania! Om kamu itu paling nggak bisa telat makan.” Sungguh, Kania ingin menghilang saja. Rasanya ia tak sanggup bertahan lebih lama. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena dingin, tetapi juga karena kelelahan yang menumpuk. Namun Ranti terus mendesak. Wanita itu bahkan menarik Kania turun dari tempat tidur, lalu menyeretnya keluar kamar, memaksa gadis itu mengikuti langkahnya menuju dapur. “Ingat, Kania! Kurang dari satu jam, semua harus sudah tersaji!” Kania memilih diam. Namun, ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dirinya—sesuatu yang perl

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN