Bab 108-4

717 Kata

Ia menepuk dadanya sendiri. “Aku bukan pembantu!” Suasana dapur dikuasai sepenuhnya olehnya kini. Tegang. Mencekam. Tidak ada yang berusaha menyela. “Om Bian.” Kania menoleh pada Biantara. Tatapannya datar, nyaris kosong. “Bukannya Om yang janji sama Bia? Selama mereka pergi, Om yang tanggung jawab atas aku. Om yang jadi waliku.” Langkahnya maju ke arah Biantara. “Tapi apa? Om nggak pernah kasih aku kebebasan. Om nggak pernah biarin aku hidup seperti remaja pada umumnya.” Suaranya bergetar, tapi tetap keras. “Om egois. Om cuma jadiin aku—” Kalimat itu terhenti. Tenggorokannya tercekat. D.a.da Kania naik turun. Tatapan Biantara membeku. Dingin dan mengancam. Namun Kania tidak mundur. Ia beralih menatap Melati. “Dan kamu, Kak Melati,” ucapnya getir. “Kak Melati lihat sekarang?” Ia m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN