“Ada masanya kita ketemu sama yang cocok, Win.” Dokter cantik itu mengangguk-angguk setuju. “Iya juga, sih. Syukurlah kalau akhirnya kamu nemuin perempuan yang pas. Jangan dicuekin lagi, ya, Bi.” Biantara terkekeh pelan. “Dia sudah aku hamili, Win. Mau bukti apa lagi?” Tawa Wina langsung pecah. “Iya, iya. Percaya kok. Nggak mungkin yang sebening itu dicuekin. Yang ada, dihamilin terus tiap tahun.” “Rencananya,” sahut Biantara santai. “Dasar buaya.” Mereka tertawa bersama, mengisi ruangan dengan keakraban lama. “Tapi zaman sekarang, harus ekstra hati-hati jaga anak, Bi.” Dokter Wina menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya perlahan ke sandaran kursi, ekspresinya berubah lebih serius. “Nggak laki-laki, nggak perempuan, dua-duanya sama-sama harus dijaga.” Melihat cara bicar

