Bab 28 “Karena kamu anak pembawa sial! Itu kenapa sebabnya kamu tidak mendapat perlakuan setara seperti adik-adik kamu!” Hans berucap berapi-api. Deru napasnya memburu. Wajah garang itu merah menyala dengan tatapan yang lebih daripada tajam. Kania sempat memejam sebentar. Air matanya turun perlahan. Meski sudah terlampau biasa dengan hal begini, tapi tetap saja hatinya sakit. “Kesialan apa yang sudah menimpa kalian sampai kalian sanggup membenciku?!” Kembali, Kania menuntut sebuah jawaban. Gadis itu ingin penjelasan. Namun, pada saat emosinya mulai menggebu, perut yang masih rata itu menegang. “Dengan hadirnya kamu saja sudah menjadi takdir sial untuk kami, Kania! Kami tidak pernah mengharapkan anak pertama adalah seorang perempuan!” Muak dengan tuntutan jawaban yang terus-meneru

