Bab 29

1609 Kata

Bab 28 “Karena kamu anak pembawa sial! Itu kenapa sebabnya kamu tidak mendapat perlakuan setara seperti adik-adik kamu!” Hans berucap berapi-api. Deru napasnya memburu. Wajah garang itu merah menyala dengan tatapan yang lebih daripada tajam. Kania sempat memejam sebentar. Air matanya turun perlahan. Meski sudah terlampau biasa dengan hal begini, tapi tetap saja hatinya sakit. “Kesialan apa yang sudah menimpa kalian sampai kalian sanggup membenciku?!” Kembali, Kania menuntut sebuah jawaban. Gadis itu ingin penjelasan. Namun, pada saat emosinya mulai menggebu, perut yang masih rata itu menegang. “Dengan hadirnya kamu saja sudah menjadi takdir sial untuk kami, Kania! Kami tidak pernah mengharapkan anak pertama adalah seorang perempuan!” Muak dengan tuntutan jawaban yang terus-meneru

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN