Beberapa kali, dengan gerakan perlahan, ia mengangkat tangan lalu memijat bagian sisi kepalanya—gerakan kecil yang menggambarkan betapa tidak nyamannya ia pagi itu. “Kak.” Panggilan lembut itu memecah lamunannya. Kania menoleh pelan. “Iya, Lang?” Elang mengamati gerak kakaknya dengan cermat. Ia sudah memperhatikan sejak mereka datang: langkah Kania tidak stabil, pandangannya sering kosong, dan kini, sikapnya yang tak menyentuh makanan membuat Elang khawatir. “Kakak sakit?” tanyanya hati-hati. Nada suaranya rendah, tapi jelas mengandung cemas. Kania menggeleng cepat—terlalu cepat hingga kepalanya sedikit terhuyung. “Enggak, kok,” jawabnya mencoba baik-baik saja. “Cuma pusing. Paling salah posisi bantal.” Lelaki tersebut tidak langsung percaya. Ia memaku tatapannya lama terhadap so

