Gadis itu menunduk. Kepalanya terasa seperti diisi kapas yang bergerak tak tentu arah. Nafasnya berembus tidak teratur, dan d.e.sahan halus lolos dari bibirnya. Ia menumpukan kepala pada satu tangan yang ia letakkan di atas meja—upaya terakhir agar tubuhnya tidak limbung. Sementara Kania berjuang mempertahankan kesadarannya, Biantara memperhatikannya tanpa berkedip. Pria itu bersedekap d.a.da, tubuhnya tegap, namun sorot matanya penuh waspada. Ia meneguk soy milk tawar di depannya. Gerakannya santai, terukur, tapi tatapan mata tetap terkunci pada Kania. Ia tidak bicara, tidak berkomentar—hanya mengawasi setiap detail: gerak pundak yang naik turun, tangan yang lemah, napas yang tersendat. Saat gelas minumannya ia letakkan kembali ke meja, terdengar bunyi ringan. Dan pada saat ber

