Seperti ada sesuatu, perasaan tersebut terus merongrong pertahanannya yang dibangun keras dan tinggi. Melihat gadis tersebut menangis, seperti sebuah sayatan yang membuat hatinya perih. Perasaan sialan itu lagi-lagi menepis logikanya untuk terus melontarkan kebencian kepada Kania. Biantara bahkan sampai menggeram, menahan sesuatu yang berkecamuk dalam d.a.da. “Kamu sudah mengusik saya, Kania. Perlu diingat bahwa bimbingan yang saya kasih ke kamu tidaklah gratis.” Kania tertegun beberapa saat. Bisa-bisanya pamannya kini mengalihkan topik pembicaraan. “Dari awal Om nggak pernah bicara soal itu.” “Ya. Dan saya akan berbicara perihal itu mulai dari sekarang.” Napas Kania terputus. Makin sesak saja hatinya ketika Biantara punya cara untuk terus-menerus mengintimidasinya. “Baik, Om.

