“Jangan memancing saya, Kania.” Kata-kata itu terdengar peringatan mematikan. Wajah Kania menegang. Tubuhnya tetap diam. Ia tidak memberontak maupun melawan. “Aku nggak mancing apa-apa,” balasnya. Suara gadis itu gemetar tipis, tapi ia tidak menoleh, tidak menyingkir. “Aku cuma jawab jujur.” Hening. Sunyi yang berat. Ketegangan menggantung di sana, seolah siap mencekik Kania yang melakukan kesalahan. Biantara memejamkan mata sebentar, seperti sedang menahan sesuatu yang mengamuk di dalam dadanya. Ketika mata itu kembali terbuka, sorotnya sedikit berubah—bukan lebih lembut, tapi lebih terkendali. “Satu hal yang perlu kamu ingat,” ucapnya pelan, namun berbahaya, “selama kamu di sini, jangan buat saya kehilangan kendali.” Kania membeku. Tubuhnya terasa dipaku makin dalam. Tatapan i

