Ya, ia menganggap Kania gila. Karena hanya pada keponakannya, Biantara dibuat seberantakan ini. Punggung pria tersebut bersandar di kursi. Ia menengadah. Wajahnya tersorot lampu ruangan yang tidak terlalu terang, tapi hangat. Bunyi notifikasi yang terus terdengar di telinga terus menyisir sisinya yang tenang. Harusnya ia tidak melakukan ini. Semua sudah terlalu jauh. Terlalu dalam. Terlalu rumit untuk dicerna oleh akal sehat Biantara. Hubungannya dan Kania sebatas paman dan keponakan. Tidak lebih. Seharusnya Biantara pun tidak lepas kendali atas gadis itu. Tidak seharusnya ia memikirkan Kania sampai sedalam ini. Namun, bayangan sang keponakan terus menghantui kepalanya. Dorongan dari dalam membuat Biantara langsung berdiri. Ia melangkah keluar dari ruang kerjanya dan langsu

