Bab 59-2

700 Kata

“Kamu benar-benar liar, Kania! Tidak saya sangka jika tuduhan kami tentangmu adalah fakta!” Alih-alih terpukul, Kania justru mengangguk pelan. Sudut bibirnya bergerak naik, seperti menantang. “Bukankah lebih baik begitu, Om?” Nada suara itu datar, tapi sorot matanya menyala. Kania menatap Biantara tanpa kedip, lalu dengan sengaja mengaitkan jemarinya pada dua kancing teratas kemeja pria itu. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru, seakan ingin memastikan setiap detik terasa menekan. Biantara tertegun. Ada jeda ganjil yang menggantung di antara mereka. Napasnya tertahan, tubuhnya kaku, seolah dihimpit sesuatu yang tak terlihat. Ia sadar, seharusnya ia menghentikan ini—melangkah mundur, mengusir Kania, atau setidaknya menyingkirkan tangan itu sekali lagi. Namun kenyataannya, ia tidak be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN