Tubuh mungil Jenni mulai bergetar ketakutan. Seakan tak ada kekuatan untuk mendorong Mark yang ada di depannya, agar dirinya bisa lari. Dirinya benar-benar terkurung. Tangan Mark berada di kedua sisi tubuh Jenni, mengunci Jenni agar tidak bisa keluar dari kukungannya. Mark memang tidak melakukan apa pun padanya, atau mungkin belum. Iris teduh Mark yang sangat Jenni sukai, kini menyimpan sorot tajam yang menyeramkan bagi Jenni. “Mark,” panggil Jenni pelan. Mark tidak menjawab. Tangannya yang tadi diam, kini bergerak menyentuh wajah Jenni, dan perlahan turun ke leher jenjang perempuan itu, menimbulkan sensasi aneh yang menjalar ke tubuhnya. “Sejujurnya, aku tidak menyukai lelaki. Aku ini normal.” Jenni terkesiap. Dia begitu mempercayai Mark selama ini, bahkan Mark pernah membawa lelak

