Suspect

1813 Kata
Ada sirat ketakutan yang Jake lihat dari Lily, tapi perempuan itu mencoba menyembunyikan dengan rapih walau masih ada celah yang dapat Jake lihat. Jake menyukainya. Menggoda perempuan pembohong itu. Mungkin dengan sedikit gertakan bisa membuat perempuan itu berbohong padanya. Toh Jake tidak akan segila itu melakukan hal lebih pada Lily. Dia punya pertahanan diri yang kuat. Tidak perlu khawatir tentang itu. “Sebenarnya aku ingin melakukan ini sejak pertama kali bertemu dengan mu, sayang.” Jake melepaskan dasi hitamnya terlebih dahulu, kemudian mengangkat tubuh Lily untuk duduk dipangkuannya. Dengan sigap dia mengalungkan tangan Lily di lehernya dan mengikat tangan mungil itu dengan dasinya agar tidak banyak bergerak. Jake semakin menipiskan jarak antara mereka dengan menarik pinggang ramping Lily. “Kau ingin melakukan apa, Tuan?” Lily masih berusaha menyembunyikan rasa takutnya dengan coba menanggapi Jake tanpa ada niat untuk melawan. Jake sangat tahu itu. Jadi, mari kita lihat seberapa pandai Lily untuk bisa pasrah dengan perlakuan Jake tanpa berminat untuk melawan. Jake mengusap bibir ranum Lily. “Aku ingin mencium mu terlebih dahulu, sayang.” Sadar jika nanti Lily akan menghindari ciumannya, Jake pun menahan tengkuk Lily ketika dirinya mulai memiringkan sedikit kepalanyanya untuk mencium bibir Lily. Tubuh perempuan itu yang berada dalam pelukan Jake terasa sedikit menegang. Bahkan tubuh Lily memberikan gerakan pelan menunjukan respon tak nyaman. Tapi, Jake tetap menyukainya. Itu mengapa dirinya menginginkan akses ciuman yang lebih. Lidahnya mencoba mendesak masuk ke mulut Lily, tapi nampaknya perempuan itu tidak menginginkan hal tersebut, sehingga Jake menggunakan cara sedikit kasar dengan mengigit bibir bawah Lily. Tak butuh waktu lama, Lily pun membuka mulutnya dan membuat lidah Jake berhasil menerobos masuk dan memperdalam ciuman mereka. Lenguhan dan decapan lidah mereka berdua membuat sesuatu dalam diri Jake terasa lebih memanans menginginkan yang lebih. Sial! Apa pertahanan dirinya tidak sekuat dulu lagi? Kadar oksigen dalam tubuh mereka sepertinya mulai menipis. Jake pun melepaskan ciuman mereka yang sebenarnya masih ingin sekali Jake nikmati. Dengan tidak sabaran, ciuman Jake yang tadinya hanya terpusat pada bibir Lily, kini meranjak turun hingga ke leher jenjang perempuan itu. Samar desahan Lily terdengar begitu lembut, seolah menginginkan yang lebih. Berbanding terbalik dengan tangan porselen tersebut yang sepertinya tergerak untuk melepaskan dasi yang mengikat pergelangan tangannya. “Berhenti…” lirih Lily disela desahannya. Jake masih terus membuat tanda di leher jenjang itu. Tangan kekarnya yang sebelumnya berada di sisi tubuh Lily, kini mulai merangkak naik menyentuh pinggul perempuan itu, hingga ke dalam kemeja kebesaran yang dipakai Lily. Tubuh perempuan itu amat halus saat bersentuhan langsung dengan tangannya. Jake kini menyentuh punggung Lily, menemukan pengait bra yang sebenarnya ingin dia lepas. Jika saja saat itu Lily tidak segera melepaskan dasi yang mengikat tangannya dan kemudian mendorong Jake menjauh untuk membebaskan diri agar lepas dari pangkuan lelaki itu. “Ayolah. Aku tidak akan melakukan yang lebih, sekadar foreplay tidak masalah bukan? Aku akan membayar yang lebih untukmu, sayang.” Kali ini Jake serius. Dia sudah tidak sedang menguji Lily lagi sebab saat ini pertahanan dirinya yang sedang diuji untuk menyentuh tubuh Lily secara lebih! Persetan dengan pertahanan diri yang kuat. Lily benar-benar membuatnya selemah itu. “Aku tidak mau, Tuan,” tolak Lily. Perempuan itu hendak akan melangkah menuju pintu lain yang dia gunakan untuk keluar dari ruangan ini, berbeda dengan pintu yang digunakan pelanggan, “aku akan membayar kompensasi karena pembatalan ini.” Dengan cepat Jake menarik tangan Lily, kini perempuan itu hanya tak berada dipangkuannya saja, namun kini sudah berbaring di sofa dengan Jake yang berada di atasnya. Napas lelaki itu memburu menginginkan nafsunya terpuaskan segera. Tak hanya mencium Lily secara agresif, kini tangannya lebih berani untuk membuka kancing kemeja Lily. “Berhenti… kumohon,” rintih Lily, ada sedikit isakan dalam suaranya. Jake tidak peduli. Dan Lily masih berusaha lepas dari lelaki itu. “Berhenti…” “Aku akan berhenti setelah melihat tubuh mu tidak mengenakan apa pun di depanku.” Seluruh kancing kemeja Lily telah terlepas semua. Dia ingin mengahancurkan pertahanan diri Lily juga, dengan mulai mencoba menyentuh bagian sensitive setiap perempuan. Tangannya terarah menuju ke d**a Lily, mengusapnya lembut dan memberikan sedikit remasan. Hendak menaikan bra milik perempuan itu. Lily kembali berteriak, “Jake hentikan!” Jake mematung mendengar namanya disebut. Seingat dia, dia tidak pernah memberi tahukan namanya kepada Lily ataupun staff yang ada di club malam ini. Diamnya Jake memberikan kesempatan kepada Lily, mendorong sekuat tenaga tubuh lelaki yang jauh lebih besar darinya itu. Berbeda dengan Jake. Lily baru menyadari yang dia ucapkan seperkian detik selanjutnya. Kini dia berdiri dengan jarak aman agar tidak tertangkap Jake lagi. “Kau… dari mana tahu namaku adalah Jake? Di tempat ini tidak ada seorang pun yang tahu dengan namaku, kecuali pemilik club malam ini yang notabene adalah sahabatku,” ucap Jake menyelidik. “Tuan salah dengar,” elak Lily, terlihat mengontrol kepanikannya, “maaf jika saya kurang sopan Tuan, Tuan ini salah dengan tadi yang saya sebut itu jerk bukan Jake.” Jake merasa tidak mungkin pendengarannya ini salah. Jelas-jelas tadi Lily mengucapkan namanya. Bukannya mengatai dia jerk, ya walau pelafalan itu terdengar mirip sekilas. Tapi untuk Lily yang tampaknya sangat membutuhkan pekerjaan ini, dia tidak mungkin akan berani mengatai pelanggan b******k. Sebab akan berakibat pada karirnya di sini. “Maaf Tuan saya tidak bisa melanjutkan ini. Saya akan bayar uang kompensasinya.” Lily membungkuk 90 derajat sebagai permintaan maafnya sebelum hendak melangkah keluar dari ruangan ini meninggalkan Jake sendirian yang masih mencerna keadaan yang terjadi. “Aku yakin dia tidak salah sebut. Dia menyebut namaku dengan benar,” gumam Jake. Selang dua hari semenjak kejadian di club malam. Jake masiihh memikirkan ucapan Lily, meski sekarang ini tengah berada di ruang rapat sekali pun. Mencoba fokus pada pekerjaan ketika ada hal pribadi yang mengusiknya itu, ternyata sangat tidak mengenakan. Saat meeting dia hanya bicara seperlunya saja dan sisanya dibantu oleh Adam. Jake memang terkenal sebagai atasan yang dingin, jadi para pegawainya tidak begitu merasa aneh dengan sikap Jake yang jarang bebicara selama meeting sedang berlangsung. Berbeda dengan Adam yang sangat mengetahui tentang sahabatnya. “Apa yang mengganggu pikiran mu sekarang ini?” tanya Adam ketika ruang meeting hanya tersissa mereka berdua saja. “Penari striptis yang aku kenal,” jawab Jake, “jadi waktu itu-” Adam menepuk pelan dahinya sendiri. “Kau… bisa-bisa memikirkan hal kotor saat sedang rapat penting begini?!’” seru Adam tak habis pikir. Jake berdecak kesal, mencoba meluruskan pemikiran Adam. “Bukan itu! Jadi dua hari yang lalu aku menepati janjiku untuk membuka topeng yang aku pakai-” “Kau membongkar identitasmu sendiri di depan perempuan yang tidak kenal?!” “Hei! Dengarkan aku selesai bicara dulu!” Jake sendiri ikut kesal karena Adam selalu memotong pembicaraan. “Iya silahkan kau lanjutkan. Aku tidak akan memotong ucapanmu lagi.” “Awas saja jika kau memotong ucapanku lagi. Sekali lagi kau melakukannya aku akan potong gaji mu,” ancam Jake. Entah ucapan Jake serius atau tidak. Lebih baik Adam mengiyakan saja tanpa protes dengan mengacungkan kedua ibu jari sebagai jawaban secara verba. “Jadi, saat aku melepaskan topeng di depannya. Dia cukup terkejut. Ku kira, awalnya karena dia cukup kaget melihat aku yang tampan ini.” Adam langsung mengernyit. Menunjukan ekspresi jijik saat Jake memuji dirinya sendiri. Bibirnya sudah terbuka dan hampir saja mengeluarkan suara jika Jake tidak memandangnya dengan tajam. Bibir lelaki itu jadi kembali berkatup rapat. “Tapi kemudian, aku sadar pandangannya itu, pandangan yang menunjukan jika dia mengenal ku. Aku spontan bertanya, dan tentu saja dia menjawab bahwa dia tidak mengenalku. Aku ingat ucapan seorang perempuan yang aku kenal, bahwa telinganya akan memerah jika berbohong. Jadi aku pikir, dia mungkin salah satu orang yang seperti itu juga. Aku yang berpikiran seperti itu, ingin mengerjai dia sedikit dengan mencoba menyentuh tubuhnya.” Adam membelalakan matanya. Mulut sudah gatal ingin mengetai Jake. Namun kini dengan gerakan verbal, Jake menyuruh Adam tetap diam hingga ceritanya selesai. “Kau tahukan aku punya pertahanan diri yang kuat? Kau tahu tidak, saat dengan penari striptis itu pertahanan diriku sungguh tidak kuat, dia punya lekuk tubuh dan bahkan wangi seperti perempuan yang aku kenal… ya intinya bisa membuatku tergoda. Jadi aku menyentuhnya secara lebih, aku menciumnya dan bahkan membuat kissmark di lehernya. Ketika aku ingin membuka bajunya, kau tahu apa yang dia katakan? Dia memanggil namaku! Dia memanggilku Jake, walau dia berdalih menyebutku jerk tapi yang telingaku tangkap ini, dia menyebut namaku. Aku yakin penari striptis itu adalah perempuan yang aku kenal!” Napas Jake sedikit terngah setelah bercerita dengan penuh semangat itu tanpa sekali pun dipotong oleh Adam seperti kemauannya. “Sekarang aku boleh bicara?” tanya Adam memastikan. “Silahkan saja.” “Kau curiga ‘kan jika penari striptis itu adalah perempuan yang kau kenal? Bagaimana jika kau memastikannya sendiri? Kau bilang jika kau membuat kissmark di leher penari itu. Coba kau temui perempuan yang kau kenal itu, jika memang penari itu adalah perempuan yang kau kenal. Dia pasti memiliki kissmark bekasmu di lehernya.” “Ah iya benar juga.” Jake baru berpikiran hal itu. “Eh tapi tunggu dulu,” Adam meralat ucapannya, “bisa saja perempuan yang kau duga itu memiliki kissmark bukan berasal dari mu, melainkan dari kekasihnya atau-” “Tidak.” Kali ini Jake yang memotong perkataan Adam, “perempuan yang aku kenal itu sangat membenci laki-laki, dan dia hanya memiliki satu sahabat lelaki, gossipnya sahabatnya pun seorang gay. Jadi tidak mungkin dia memiliki kekasih.” “Oh begitu,” balas Adam singkat. Atensinya itu menatap bingung ke Jake, merasa ada yang ganjal, “bukannya kau menyewa detective untuk menyelidiki penari striptis itu? Apa detective mu itu tidak berhasil kali ini? Sebab sudah lebih dari seminggu, kau masih menerka siapa penari striptis itu sebenarnya.” “Penari itu mempunyai seseorang penting yang membantunya menutup identitasnya.” Adam mengangguk paham. Matanya kemudian menangkap jam yang bertengger di dinding ruangan rapat. Segera dia membereskan dokumen milik Jake. Dengan gerakan tangan dia mengajak Jake untuk keluar ruangan sebab ada schedule yang harus mereka lakukan lagi. Jake pun mengikuti langkah Adam untuk keluar dari ruangan rapat. “Bicara tentang perempuan yang kau kenal itu. Aku merasa penjelasan dari mu, penari striptis mu itu sepertinya mirip dengan Jenni, tentang perihal membenci lelaki,” bisik Adam agar hanya dapat di dengar oleh Jake. Sebab tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada Jenni yang sedang berjalan menuju perpustakaan kantor dengan membawa kopi dingin di dalam kemasan kaleng. Jake tidak mengubsir ucapan Adam. Matanya fokus pada Jenni yang sudah tidak tertangkap oleh pandangannya. Perempuan itu mengenakan syal. Di cuaca yang panas seperti ini. “Adam. Kau ke mobil duluan saja. Ada sesuatu yang ingin aku cari di kantor.” Tanpa banyak bertanya seperti biasanya. Adam segera mengangguk. “Jangan lama-lama.” “Iya.” Jake berjalan lebih lambat menunggu Adam menghilang dari pandangannya. Dan ketika dirasa sudah aman dari sahabatnya itu. Jake mulai melangkahkan kakinya ket tempat yang sangat ingin ditujunya saat ini. Perpustakaan kantor, tempat Jenni sekarang berada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN