Jenni dan Jake musuh selama kuliah. Alasan utamanya mereka bermusuhan pun, Jake lupa dan bahkan mungkin tidak tahu?
Meski begitu, dia tahu beberapa hal mengenai Jenni. Sebagian kecilnya adalah, Jenni tidak menyukai panas sama sekali, sehingga aneh dirinya memakai syal bahkan saat cuaca sudah memasuki kemarau. Kemudian, Jenni sangat menyukai buku yang berhubungan dengan bisnis.
Jadi jelas sekali tujuan Jenni berada di tempat sunyi seperti ini saat jam istirahat kantor, tentu saja untuk membaca buku berbau bisnis.
Dan benar saja, ketika Jake menginjakan kaki pada bagian rak buku-buku bisnis, dia mudah sekali menemukan Jenni.
Perempuan itu tengah asik dengan buku yang dia baca, sesekali meminum kopi yang dibawanya. Bahkan saat Jake mendekatinya, Jenni sama sekali tidak sadar.
Jake pun berdiri di belakang Jenni, mencondongkan sedikit tubuhnya dan berbisik di telinga perempuan itu. “Jenni.”
Hanya sebuah panggilan dengan suara bass khas lelaki dewasa. Mampu membuat Jenni terlonjak kaget dan spontan membalikan tubuhnya. Saat sadar di dekatnya adalah Jake, Jenni segera mundur hingga pungggungnya menyentuh rak buku dibelakangnya, membuat jarak aman antara dirinya dan Jake. Walau sepertinya, masih tidak begitu aman juga.
“Kau lebih cocok menjadi hantu dari pada menjadi seorang Branch Manager,” sarkas Jenni.
“Terimakasih atas pujiannya.”
Jenni ingin memaki, namun dia telan saja karena malas debat dan ingin segera menjauhi Jake. “Terserah kau saja.” Tanpa merespon banyak, Jenni hendak melangkah untuk menjauhi Jake.
Jake dengan sigap memblokir akses Jenni dengan mengukung perempuan itu menggunakan kedua tangannya yang berada di kedua sisi tubuh Jenni.
“Aku ada perlu bicara dengan mu.”
Jenni menaikan alisnya. “Kalau kau perlu bicara, kau bisa titipkan pada sekretaris mu untuk menyampaikannya padaku. Aku rasa, aku tidak mempunyai kedudukan sepenting itu sampai seorang Branch Manager perlu berbicara empat mata denganku.”
“Ini adalah urusan pribadi. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Jadi, aku tidak ingin siapa pun tahu selain kita.”
“Aku tidak ingin-”
“Kenapa kau pakai syal?” tanya Jake sebelum Jenni menyelesaikan ucapannya.
Pertanyaan itu membuat Jenni terdiam. Gerak geriknya masih biasa saja, tampak tidak mengernyi dengan arah pembicaraan Jake. “Aku pakai syal atau tidak. Tidak ada urusannya denganmu.”
Tapi Jake dapat membaca dengan jelas pandangan gelisah Jenni saat ini, dengan tidak ingin menatap Jake ketika berbicara. “Kau orang yang paling tidak tahan dengan panas. Dan sekarang kau memakai syal saat cuaca panas?” Jake melihat dahi Jenni yang berkeringatnya, dia pun mengusapnya dengan ibu jarinya, “kau tidak mungkin memakai syal jika tidak ada yang kau sembunyikan.”
“Aku sedang tidak enak badan, jadi tubuhku terus merasa dingin. Lagi pula tidak ada peraturan perusahaan yang tidak memperbolehkan pegawainya memakai syal.”
“Kalau begitu, mulai hari ini aku akan membuat peraturan perusahaan baru. Tidak boleh ada pegawai yang memakai syal saat ke kantor.”
“Dasar gila! Mana mungkin kau melakukan itu?”
“Right. Kau tahu sendiri jika aku memang gila. Seharusnya kau tahu kalau segila apa pun ucapanku, tentu akan aku lakukan,” Jake tersenyum miring, “well, aku bisa saja tidak membuat peraturan itu jika aku melihat leher mu sekarang.”
Jenni melempar buku dan kaleng kopi yang sudah kosong kesembarang arah secara reflek sebelum menggenggam kuat syalnya. “Aku bisa menuntut mu atas perlakuan yang tak menyenangkan.”
“Kau tidak punya bukti untuk menuntutku. Bagian tempat kita berada sekarang, adalah bagian yang tidak tertangkap cctv.”
Jenni mengadahkan kepalanya memvalidasi perkataan Jake. Saat sadar yang Jake ucapkan bukanlah sebuah omong kosong. Jenni pun tak bisa berkutik.
“Kau… a-apa kau tidak punya kegiatan hingga terus mengusik bawahanmu sendiri?” hardik Jenni.
Sudah berada di posisi terpojokpun, perempuan itu masih berani menunjukan taringnya. Itulah yang membuat Jenni menarik di mata Jake.
Jake merapatkan tubuhnya dengan Jenni, kembali dia berbisik pada perempuan itu. “Belum lama ini aku memberikan kissmark pada seseorang. Orang itu memiliki harum tubuh yang sama seperti mu.”
“Aku sama sekali tidak paham ucapanmu.”
“Kau tidak mungkin sebodoh itu untuk tidak paham ucapanku. Ya… lagi pulam kau mana mungkin mau mengaku ya. Jadi akan aku pastikan sendiri.”
Jake tadinya ingin langsung menyingkirkan tangan Jenni agar dia bisa langsung melihat apakah ada tanda buatannya di leher jenjang perempuan itu. Namun saat melihat bibir ranum perempuan yang jauh lebih pendek darinya itu, membuatnya kembali mengingat sensasi ciuman dengan Lily, bahkan bentuk bibir pun mirip.
Jake jadi tergoda untuk mencium Jenni. Sehingga tangannya yang tadi menggenggam tangan Jenni, kini beralih pada sisi wajah perempuan itu, merangkupnya dan menciumnnya meski Jenni tidak ingin.
Yang Jake rasakan adalah sensasi memabukan yang sama seperti ketika dia mencium Lily. Jake terlarut dengan ciuman Jenni. Dia tidak sadar jika Jenni memposisikan kakinya tepat di tengah kedua kaki Jake.
Tanpa berlama-lama ketika ada celah untuk melarikan diri.
“Akh!”
Jenni menendang s**********n Jake sampai ciuman mereka terlepas dan bahkan jatuh terduduk karena tendangan Jenni yang tepat sasaran.
“Terima itu jerk!” rutuknya penuh emosi.
“Kau… memanggil namaku?”
“Aku bilang jerk, bukan Jake. Dan kali ini, aku tidak salah sebut. Enyah kau dari pandanganku untuk hari ini. Dan jangan merusah hariku sehari ini saja, dengan cara tidak muncul atau menghubungi ku sampai lewat tengah malam!”
Selesai mengucapkan sumpah serapah sepuas hati, Jenni berjalan cepat menuju pintu keluar perpustakaan tanpa mempedulikan sampah kaleng miliknya dan buku yang masih belum ditaruh di tempat semula.
“Kali ini tidak salah lagi. Jenni memanglah Lily,” gumam Jake seraya menyeriang.
Jake memang tidak melihat ada tanda kemerahan di leher jenjang Jenni. Tapi dia mendapatkan bukti yang lebih akurat untuk menajamkan dugaannya, yang sama sekali tidak di sadari oleh Jenni. Kata-kata yang Jenni ucapkan ditambah lagi dengan kalimat penegas yang mengertainya, sama persis dengan ucapan Lily pada malam itu.
Jake mengambil ponselnya, mencari kontak detective yang biasa tanpa mempedulikan Adam yang sejak tadi mencoba meneleponnya.
Dalam deringan pertama. Detective tersebut mengangkat panggilan Jake.
Tak ingin berbasa-basi Jake langsung bicara ke intinya. “Selidiki Jenni bahkan dari awal dia bangun hingga memejamkan mata, selidiki Lily dan Jenni secara bersamaan. Dan beritahu hasilnya secepat mungkin.”
Setelah mendapatkan respon dari detective. Jake pun menutup sambungan teleponnya.
Pada malam minggu selanjutnya, Jake tidak menemui Lily kembali.
Tidak, bukan karena dia tidak mau. Namun karena malam ini Lily tidak berada di club malam karena alasan pribadi. Jadi sekarang ini, Jake memilih menghabiskan malam weekend ini dengan bertemu dengan Rio.
“Hal gila apa yang mau kau sampaikan padaku?”
Lain dengan Adam, di mana Jake tidak terlalu terbuka dengan sekretaris sekaligus sahabatnya itu, sebab Adam sulit sekali mempercayai omongan Jake dan bahkan selalu menimpalnya dengan pola pikir yang menurut Adam cukup logis dari pada penuturan Jake.
Sementara dengan Rio, Jake selalu bicara terbuka. Karena salah satu sahabatnya itu adalah pendengar yang jauh lebih baik dari pada Adam. Meski nilai minus dari Rio adalah tidak bisa menyimpan rahasia tentang pembicaraan dengan siapa pun.
“Sepertinya aku tahu siapa sosok Lily sebenarnya. Kau pasti sangat kaget karena dia adalah orang yang kau kenal.”
“Siapa?” tanya Rio dengan pandangan dipenuhi rasa penasaran.
Jake meminum sedikit long island iced tea miliknya sebelum menaruh gelas itu kembali ke atas meja. “Jangan kaget ya. Menurutku, Lily adalah Jenni. Jenni teman kampus kita yang tidak ada kabar semenjak semester 5.”
“Uhuk!” Rio langsung terbatuk setelah mendengar ucapan Jake, “kau menyuruhku untuk tidak kaget tapi kau memberi informasi yang tak masuk di akal?! Hei, aku tahu Jenni itu adalah musuh mu dulu, kau tidak perlu menuduh Jenni yang aneh-aneh. Kau sendiri tahu Jenni sangat membenci laki-laki. Tidak mungkin Jenni menjadi penari striptis yang notabene selalu menjadi incaran lelaki hidung belang.”
Jake menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Sebelum menautkan kedua tangannya dan memandang Rio dengan serius. “Aku lupa sudah memberitahu mu atau belum kalau Jenni adalah salah satu karyawan ku.”
Jake segera menaruh telunjuk di depan bibirnya, sebuah tanda agar Rio tidak menyela. Kemudian Jake kembali melanjutkan. “Aku yakin sekali Jenni dan Lily adalah orang yang sama, sebab aku membuat kissmark di leher Lily, sekitar dua hari setelahnya. Aku melihat ada kissmark di leher Jenni, di tempat yang sama ketika aku membuat kissmark di leher Lily.”
“Bisa saja, Jenni melakukannya dengan kekasihnya,” elak Rio, masih mencoba berpikir logis.
“Tidak,” sanggah Jake, “Jenni saja terlihat sangat benci dengan lelaki. Kau lupa ya?”
“Hei, itu sudah bertahun-tahun lalu. Tidak mungkin dia masih sama seperti saat masih kuliah.”
Jake berdecak. Dugaannya yang segila ini bahkan tidak dapat diterima oleh Rio juga. “Tunggu saja detective ku menyelidiki ini semua. Aku akan bawa buktinya di depan mu bahwa dugaanku memang benar!”
“Ya… habis tidak masuk akal saja untukku. Hanya ada satu orang lelaki yang bisa dekat dengan Jenni. Bahkan lelaki itu di gossipkan seorang gay.”
“Oh iya,” Jake menyadari sesuatu, “bukannya kau cukup dekat dengan teman lelaki Jenni itu yang namanya…”
“Mark,” timpal Rio.
“Ah iya, Mark. Bukannya kau dekat dengan Mark? Apa aku boleh minta kontaknya? Aku ingin tanya banyak mengenai Jenni.”
“Aku rasa itu akan percuma saja,” Rio mengedikan bahu, “Mark dan Jenni sama sekali tidka berhubungan semenjak Mark pergi keluar negeri dan menjadi seorang penyanyi di negeri tetangga.”
“Ah iya, sekarang Mark sudah sangat terkenal, bahkan keponakan ku sangat menggilai dia,” sahut Jake, “tapi masa mereka tidak pernah saling berhubungan? Dulu mereka sangat dekat bukan?”
“Iya memang. Kalau menurutku sih, Jenni yang memilih memutuskan hubungan dengan Mark karena tidak ingin terkena skandal dengan Mark,” ucap Rio, “karena selama ini Mark mencari keberadaan Jenni. Di kehidupan Mark, Jenni seperti hilang di telan bumi.”
Dahi Jake berkerut. “Aku rasa Jenni bukan tipe akan yang meninggalkan teman dekatnya dengan mudah. Apa lagi, Jenni sulit berteman, dia pasti sangat menghargai keberadaan temannya, bukannya meninggalkan tanpa ada kabar apa pun hanya karena takut skandal. Mungkin Mark melakukan sesuatu yang membuat Jenni memilih lost contact.”
Rio mendengus. “Kesalahan fatal apa? Kesalahan fatal dari pertemanan seorang lelaki dengan seorang perempuan adalah salah satu dari mereka ada yang jatuh cinta. Itu tidak mungkin ada di pertemanan mereka. Mark menyukai lelaki sementara Jenni sendiri sangat membenci laki-laki. Jadi di antara mereka tidak mungkin ada yang terlibat hal seperti itu.”
“Siapa tahu ya,” Jake mengangkat bahunya sesaat, “bisa saja dia gelap mata dan melakukan suatu yang seharusnya tidak dia lakukan terhadap Jenni. Kau tahu sendiri bukan jika Jenni adalah primadona di kampus? Tak hanya otak yang cemerlang dan wajah yang seperti malaikat, tubuh Jenni bahkan sangat sempurna. Aku yang punya pertahanan diri yang kuat saja, lemah jika mellihatnya memakai pakaian seksi.”
“Itu karena kita adalah pria normal. Beda dengan Mark,” timpal Rio, “lagi pula jika Mark melakukan itu, bukankah nama dia akan tercoreng dengan mudah? Tapi bahkan sampai sekarang Mark masih baik-baik saja.”
“Kau tahu ‘kan Mark sama sepertiku yang seorang tuan muda? Mark juga berada di agensi besar, pasti agensi melindungi segala hal buruk menyangkut masa lalunya.”
“Kau benar juga sih.”
“Ah iya. Untuk berjaga-jaga tolong jangan beritahu Mark, mengenai kecurigaanku bahwa Lily adalah Jenni. Hal seperti ini, cukup aku dan kau dulu saja yang tahu.”
“Iya, tenang saja. Omonganku sangat bisa dipegang.”