“Cukup.” Mark menjentikan jarinya. Kumpulan lelaki berbadan besar itu berhenti memukuli seseorang lelaki yang duduk bersimpuh dengan wajah penuh babak belur. Itu adalah lelaki yang memukulnya tempo hari, namun tak sempat menghajarnya banyak karena kepergok oleh Jenni. Hari ini Mark baru bisa membalasnya. “Aku maafkan kau. Karena kau berhasil membuatku mengenal perempuan seperti Jenni.” “Aku tidak butuh maaf dari kau sialan!” Lelaki itu masih terus memaki Mark. Mark tertawa pelan, dia duduk bersandar di kursi seraya melipat kaki untuk menopang dagu. “Well, aku dengar dia adalah perempuan yang paling sulit didekati, nyatanya semudah itu mencuri perhatian Jenni.” “Berhenti menganggap semua perempuan mudah jatuh kepelukan mu!” Lelaki itu meludah ke sembarang tempat mengeluarkan darah yan

