Katanya, ada dua ingatan manusia yang sulit dilupakan.
Yang pertama, tentu saja ingatan penuh kenangan paling membahagiakan. Bagi Jenni, ingatan itu mencangkup, tentang bagaimana dulu dirinya hidup di tengah keluarga yang harmonis dikala ayahnya masih sangat mencintai ibunya.
Yang kedua, adalah ingatan terburuk dari dalam hidup. Dan bagi Jenni, ingatan itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Mark, sebelum Henry menemukannya dan membawanya kabur ke tempat yang tidak bisa Mark jangkau.
Jenni masih ingat. Bagaimana dirinya yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan tubuh polos yang hanya mengenakan selimut tebal. Mark menggenggam tangannya kuat, mencondongkan tubuhnya untuk berbisik kepada Jenni,
“Kau tidak bisa kabur dariku. Semisal ada moment di mana kau bisa pergi dariku. Ku pastikan aku akan mendapatkan mu kembali, dan ketika itu terjadi. Kau tidak bisa lepas dariku.”
Suara baritone itu membuat tubuhnya gemetar ketakutan. Ironisnya di sebabkan oleh lelaki yang sudah dia anggap sahabatnya sendiri. Satu-satunya lelaki yang sangat dia percayai.
Dan setelah bertahun-tahun lamanya dia bisa hidup dengan tenang.
Kini matanya menangkap lagi sosok yang menjadi sumber ketakutan terbesarnya. Mark.
“Hei, Jenni,” tepukan pelan dari Celine menyadarkan Jenni, “kau fokus sekali melihat Mark? Kau salah satu fansnya ya?”
Jenni menggeleng kecil, dia menunduk untuk menghindari pandangan siapa pun dan memilih untuk tidak memegang sendok untuk menyelesaikan kegiatan makanannya, sebab tak ingin teman-temannya melihat dengan jelas tangannya yang gemetar hebat. “Oh tidak. Aku… hanya cukup kaget saja melihat Mark.”
“Aku juga,” timpal Anna antusias, yang tidak tahu sama sekali dengan keadaan Jenni, “dia tampan sekali!” pekiknya dengan suara pelan yang hanya dapat di dengar oleh Celine dan Jenni.
“Right! Dia seperti tokoh komik yang keluar ke dunia nyata. Ah, tapi sayang sekali ya…” Celine mengedikan bahu.
Anna mengangkat sebelah alisnya. “Sayang sekali kenapa? Aku tidak tahu info apa pun soal dia.”
“Gossipnya sih, dia itu gay,” bisik Celine yang membuat Anna terkejut.
Jenni diam saja, mendengar pembicaraan kedua temannya dengan seksama. Tanpa enggan berkomentar meski dia tahu jika Mark bukan penyuka sesama jenis.
Namun lelaki gila yang membuat hidupnya semakin hancur.
Henry : Aku lihat berita jika Mark datang ke perusahaan mu. Apa kau sudah bertemu dengannya?
Henry : Aku jemput ke kantor mu ya?
Jenni : Tidak perlu. Aku sudah pulang lebih dulu karena tidak enak badan
Jenni : Tidak usah khawatir, aku sudah sampai di rumah dengan selamat.
Jenni membungkus tubuhnya dengan banyaknya pakaian tebal. Semenjak kejadian yang membuatnya takut akan Mark, Jenni punya phobia sendiri jika tubuhnya dililit oleh selimut tebal.
Dia merebahkan tubuhnya di sisi ranjang dengan memeluk boneka beruang besar beraroma parfum Henry yang membuatnya sedikit tenang.
Jenni ingin beristirahat penuh hari ini, tidur seharian tanpa perlu memikirkan apa pun, itu mengapa dia meminum obat tidurnya. Tapi sialnya, ketika hendak memejamkan mata, bayangan tentang Mark kembali muncul tanpa dia kehendaki.
Jika tahu begitu, dia tidak akan meminum obat tidurnya dalam beberapa butir. Sehingga dalam tidurnya dia membayangkan Mark, bagaimana awal pertemuan dengan lelaki itu dan sampai pada di mana kepercayaannya, juga dirinya dirusak oleh lelaki itu.
Jakarta. 8 Tahun Sebelumnya
“Jake, sialan!”
Jenni memijat pelipisnya yang terasa pening karena harus mengulang membuat makalah yang akan dikumpulkan esok hari.
Ini semua karena ulah Jake! Notebook miliknya hanya dia tinggalkan di ruang BEM kurang dari sehari dan tanpa dirinya tahu Jake juga ada diruang BEM, dan ketika dirinya kembali, semua datanya hilang begitu saja dan Jenni yang kala itu terburu-buru untuk bertemu dengan dosen, tentu saja lupa mencadangkan beberapa file penting.
Sehingga pada waktu sore ini, dirinya masih betah berkutat di perpustakaan seorang diri.
“Hei, tak baik berbicara dengan suara keras di perpustakaan, karena nanti banyak yang dengar. Apa lagi kau mengumpat dengan menyebut nama anak pemilik kampus.”
Jenni menatap tajam lelaki yang entah sejak kapan duduk di bilik kosong sampingnya. Jake tengah menopang dagu di atas meja, namun lelaki itu menghadap ke arahnya.
“Persetan dengan kau yang merupakan anak pemilik kampus. Kau adalah manusia sampah yang memanfaatkan gelar untuk menindas orang yang jauh di bawah mu,” sarkas Jenni kembali fokus pada notebooknya
Jake tertawa keras. Beruntung ini sudah sore dan tidak ada yang memperhatikan mereka berdua selain penjaga perpustakaan yang sudah hapal dengan Jake yang selalu mengganggu Jenni.
“Menindas orang yang jauh di bawah ku? Wah, omongan mu itu membuat ku merasa seperti pembully.” Nada bicara lelaki itu dibuat seperti orang yang memelas seolah dirinya dijadikan kambing hitam.
“Kenyataannya memang begitu.”
“Tidak kok. Aku tidak menindas siapa pun. Aku hanya suka menjahili mu. Menyenangkan.”
Jenni meremas kertas berisi coretan penuh di sampingnya, kemudian melempar kertas tersebut tepat diwajah Jake. “Terserah kau mengganggu ku dengan cara apa. Aku akan membalas mu berkali-kali lipat.”
“Oh ya?” Jake menunjukan ekspresi menantang, “memangnya kau akan melakukan apa padaku?”
Jenni menghela napas panjang. Dia menutup notebooknya yang telah selesai dia gunakan, sebelum dimasukan ke tas punggung yang dibawanya. “Aku akan buat video dewasa dengan kau sebagai pemeran utamanya.”
Jake tidak terlihat terkejut sama sekali. Malah terseyum miring dan berkata, “kau mengajak ku untuk membuat video dewasa bersama? Kemudian kau akan menyebarkan video kita? Wah boleh, ayo kita buat.”
Jenni memukul kepala Jake dengan buku yang dibawanya. “Jangan menggangguku dengan omongan menjijikan seperti itu.”
Jenni beranjak dari kursi yang dia duduki. Kaki jenjangnya itu melangkah keluar dari perpustakaan dan Jake masih betah mengikutinya dari belakang.
Jake masih terus mengajaknya berbicara seputar video, yang membuat Jenni menyesal setengah mati sudah berbicara seperti itu hingga Jake terus meledeknya tanpa ampun. Jenni memilih diam sebab jika dia menyela, yang ada manusia pengganggu satu itu semakin semangat menjahilinya.
“Hei, Jake! Pulang sekarang!”
Teriakan menggelegar seorang perempuan terdengar di ujung koridor. Itu adalah Jasmine kakak perempuan Jake yang sangat Jake takuti meski memiliki wajah manis dan lembut. Karena sering diganggu Jake, Jenni juga sering mendengar ocehan kakak perempuan Jake yang memarahi adik lelaki satu-satunya.
“Maaf ya Jenni, Jake pasti mengganggu mu lagi.” Bahkan kakak perempuannya itu juga mengenal nama Jenni.
Jenni mengangguk kecil dan memberikan senyum tipis.
“Ayo kita pulang sekarang! Hari ini kita akan makan malam dengan papah dan kau harus ikut!”
Hanya Jasmine yang mampu membuat Jake diam dan menurut tanpa banyak perlawanan. Dengan hadirnya Jasmine membuat Jenni bernapas lega karena akhirnya bisa menatap punggung Jake menjauh darinya.
Kadang Jenni bingung. Dari sekian banyaknya perempuan yang bertemu dengan Jake, bahkan banyak perempuan yang sudah menyatakan cinta pada lelaki itu. Namun, kenapa hanya Jenni yang menjadi sasaran untuk diganggu lelaki itu?
Padahal Jake tahu, bahkan sepertinya semua lelaki dikampusnya tahu, bahwa Jenni sangat enggan dekat dengan lelaki mana pun.
Hanya ada beberapa keadaan saja yang mampu membuat Jenni sedikit melonggarkan jarak dengan lawan jenis.
Ketika ada tugas kelompok, rapat dengan anggota organisasi, atau ada hal yang membuatnya harus ikut campur seperti sekarang ini.
Hari itu seharusnya dia langsung menuju parkiran saja. Namun ingat ada barang di loker yang harus dibawanya, dia jadi beralih tujuan. Dan untuk menuju ke sana harus melewati taman belakang yang jarang di kunjungi orang-orang pada sore hari menjelang malam seperti ini.
Tak sengaja saat melewati taman belakang Jenni melihat seorang lelaki yang terkapar di tanah dengan wajah penuh lebam akibat hantaman tinju dari lelaki berpostur lebih besar dari lelaki yang terkapar itu.
Jenni mengambil ponselnya dari saku rok selulutnya dan menyalakan video dengan kamera tersebut.
“Kau itu pantas mati! Kau perlu jera dengan cara dibuat kritis!”
Tanpa takut Jenni menginjakan kakinya ke taman belakang dan berteriak. “Aku akan laporkan kalian jika kalian masih mengganggu!”
Tak ada ketakutan sama sekali dari dirinya meski lelaki yang dilawannya berjumlah tiga orang sementara dirinya hanya sendiri.
“Jangan ikut campur!” titah lelaki itu.
“Aku akan ikut campur jika kau menganggu orang lain. Kau kira kau hebat?”
Lelaki itu meninju udara sebagai bentuk kekesalahan. Dia mengenal Jenni, tentu saja, siapa di kampus ini yang tidak mengenal Jenni? Jenni adalah tipe yang tidak main-main dengan ucapannya.
Lelaki itu menghembuskan napas kesal, dan berdecak. “Dengar omonganku baik-baik ya. Kau akan menyesali perbuatan mu untuk menolong bajian seperti dia.”
Lelaki itu memberikan isyarat kepada kedua temannya untuk pergi dari taman belakang. Dan hanya menyisahkan Jenni dengan pemuda yang sama sekali tidak Jenni kenal ini.
“Kau baik-baik saja?” tanya Jenni khawatir.
Jenni membantu lelaki itu berdiri dan duduk di kursi panjang yang berada di taman untuk menyandarkan tubuh.
“Ya… seperti yang kau lihat,” ucap lelaki itu, dia menunjuk wajahnya yang terdapat luka lebam.
“Tunggu sebentar.”
Jenni mengeluarkan kotak obat yang selalu dia bawa dalam tasnya, dengan telaten dan berhati-hati, dia mengobati wajah lebam lelaki tampan itu. Wajah lelaki itu sebenarnya tak asing, sebab lelaki itu sering dibandingkan dengan Jake. Tapi Jenni lupa siapa nama lelaki itu.
“Selesai…”
Jenni menempelkan plester bulat di sudut bibir lelaki itu, kemudian mengusapnya pelan dan disertai senyum kecil dia berkata, “kau akan baik-baik saja setelah ini. Gunakanlah salep untuk mengobati luka lebam mu agar cepat membaik ya.”
“Iya, terimakasih.”
Jenni menyimpan kembali kotak obat tersebut ke dalam tasnya. “Jika orang-orang tadi mengganggu mu, jangan ragu untuk melapor. Kalau kau butuh bantuan, aku menyimpan video waktu mereka menganggu mu.”
Lelaki itu mengangguk kecil. “Iya, Jenni. Terimakasih.”
“Oh? Kau tahu namaku?”
Lelaki itu mengedikan bahu. “Kau sangat terkenal di kampus, banyak lelaki yang menyukai mu sehingga obrolan tentang mu banyak aku dengar di antara kumpulan lelaki. Tak mungkin aku tak mengenal mu. Berbanding terbaik dengan mu. Kau pasti tidak mengenalku kan?”
Jenni meringis, dia mengangguk pelan dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Merasa tidak enak dengan lawan bicaranya. “Tapi… kau juga terkenal kok. Aku hanya memang tidak tahu nama mu saja, kita juga tidak berada di satu fakultas yang sama ‘kan?”
“Tidak apa-apa. Tak usah merasa tidak enak begitu padaku.” Lelaki itu mengajak Jenni untuk berjabat tangan, “kau bisa memanggil ku Mark.”
“Ah iya, Mark. Aku baru ingat nama mu itu Mark.”
Setelah berkenalan itu, Mark tidak melepas jabatan tangannya sehingga membuat Jenni risih dan lebih dulu melepas jabatan tangan mereka.
Jenni berdiri dari kursi terlebih dahulu. Dia menundukan sedikit tubuhnya dan berkata, “senang berkenalan dengan mu. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan ya. Sampai jumpa lagi.”
Tanpa menunggu balasan Mark. Jenni berjalan keluar dari taman belakang.
Jika saja dia mau menoleh meski hanya sekejap. Mungkin dia akan melihat Mark yang menunjukan seringai kecil ketika melihat punggungnya menjauh.