Bab 1 – Guru Baru, Hati Baru
Hari itu, suasana sekolah terasa sedikit berbeda. Matahari pagi menembus jendela kelas, menyorot meja-meja yang rapi, dan di antara tawa serta obrolan siswa, terdengar langkah kaki yang baru masuk ke lorong.
“Guru baru?” gumam Lusi dalam hati, matanya mengikuti sosok pria tinggi dengan senyum hangat yang masuk ke kelas. Namanya Efendy, guru laki-laki pertama yang mengajar di sekolah perempuan ini.
Lusi merasa ada sesuatu yang berbeda. Mungkin itu kharisma yang terpancar dari cara Efendy tersenyum dan menatap muridnya. Atau mungkin hanya dirinya yang terlalu peka, merasa kagum pada sosok pria yang terlihat dewasa, sabar, dan menenangkan itu.
Seketika, detak jantung Lusi terasa lebih cepat. Hatinya campur aduk antara penasaran, kagum, dan sedikit gugup. Dia bukan tipe cewek yang mudah terkagum, tapi sesuatu tentang Efendy membuatnya ingin lebih mengenal pria itu.
“Selamat pagi, kelas. Saya Efendy, guru baru kalian untuk pelajaran agama Islam. Semoga kita bisa belajar dengan menyenangkan,” suara Efendy terdengar lembut namun tegas, menyapa seluruh kelas.
Lusi menunduk sebentar, hatinya berbisik dalam diam:
“Wow… beda banget sama guru-guru sebelumnya…”
Sejak saat itu, Lusi tak bisa mengalihkan pandangannya dari Efendy. Ada rasa ingin tahu yang terus tumbuh, rasa kagum yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat hatinya berdebar setiap kali Efendy berbicara atau tersenyum.
Di sisi lain, sahabat-sahabat Lusi—Dewi, Diana, dan Putri—memperhatikan perubahan kecil di wajah Lusi. Dewi menepuk bahu Lusi dan bergumam nakal,
“Eh, kok matamu terus ngikutin guru baru itu sih? Berarti mulai kepincut, nih.”
Lusi tersipu, menunduk dan tersenyum malu. Diana tersenyum tipis, sementara Putri hanya mengangguk diam, seolah memahami perasaan Lusi tapi tetap menghormati privasinya.
Hari pertama Efendy di sekolah itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi Lusi. Tak hanya karena cara Efendy mengajar yang berbeda, tapi juga karena perasaan baru yang muncul di hatinya—perasaan yang akan terus tumbuh, tanpa Lusi sadari, seiring berjalannya waktu.