TTB 22. Sesi Curhat

1443 Kata
Oh Tuhan, kucinta dia Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia Utuhkanlah rasa cinta di hatiku Hanya padanya, untuk Ica... Lima pemuda asik menyanyi bersahutan di ruang tengah kontrakan dengan Rakha yang memetik gitar. Satu lagi cowok yang berusia lebih matang ikut bergabung. Sedari tadi Rio mengamati satu persatu ikan-ikan piaraan Rakha. Bukan hanya si Guppy tapi ada lagi beberapa jenis ikan yang bentuk dan warnanya unyu-unyu. Kini koleksi ikan Rakha juga di pajang di ruang tengah, karena kamarnya sudah penuh dengan ikan hias. Suasana itu mengingatkan Rio dengan rumahnya, yang juga di penuhi ikan-ikan koleksi Bue. "Gabutnya anak kos gini ya? Genjrang genjreng ganggu orang tidur aja," ledek Rio. "Emang abang mau biayain kita ke club?" celetuk Andika. "Siapa takut? Buru sono pake baju!" perintah Rio enteng. Andika, Dimas, Yoga dan Bayu sudah berdiri sebelum Rakha mencegah mereka. "Wait wait kalian nggak tau apa Bang Rio ini aparat. Macem-macem di laporin sama dia mampus lo!" "Tenang aja Kha! Abang sekarang cuti nggak lagi tugas. Lagian kita perginya ke club yang berizin kok. Kalian juga sudah cukup umur kan?" Mario menjawab kekhawatiran Rakha. "Tau nih si paling alim, tetumbenan! Biasanya juga dia Bang yang paling gesrek!" celetuk Yoga. "Carmuk depan calon abang ipar kali!" timpal Dimas. "Bacot lo ya!" peringat Rakha. "Bukan gitu Bang! Yakin nih bakal aman? Ica nggak bakal tau kan?" sambung Rakha ragu-ragu. "Ya elah takut bener ama bini!" Andika jadi ketawa. "Sejak kapan Abang cepu sih Kha? Lagian kalau dia tau Abang juga bakal celaka kali. Bisa habis di goreng Mama pas pulang." Rakha kini bernafas lega. "Okelah, cuci mata sekali-kali, di kontrakan doang liat muka buteknya Yoga, malesin." Yoga menepuk pundak Rakha tak terima yang dibalas kekehan oleh teman lainnya. Keenam pemuda itu kini sudah berada di tengah-tengah dance floor Athena diskotik, salah satu diskotik terbesar di sini. "Banjarmasin mana suaranya!?" teriak DJ yang disambut sorak riuh pengunjung. Lalu hentakan musik mulai membahana membaur dengan suasana pengap yang menghujam hingga di d**a. Suasana remang dengan bising yang memenuhi rungu. Puas jingkrak-jingkrak dan teriak-teriak, mereka mengambil tempat duduk yang agak jauh meski suara musik tetap merajai. "Abang kenapa si?" tanya Rakha bingung, tidak biasanya Rio dengan pembawaan kalem dan tegas secara bersamaan jadi seseorang yang bebas seperti sekarang. Mario meneguk air putih di depannya, lalu menghela nafas berat. "Hidup gini banget ya guys, becanda mulu! Empat tahun harus pisah gitu aja. Tau dari awal nggak usah di mulai aja kali ya. Nyesel Abang nggak dengerin kata Mama!" Rakha tau sekarang, sosok gagah di depannya ini sedang patah hati. Meski kenal sejak kecil, sisi Bang Rio yang melow seperti ini baru dia lihat. Rio kemudian menyalakan rokok di apitan jarinya. Menyesap dalam lalu menghembus ke atas. "Ujian terberat itu bukan pas kalian ujian semester, tapi di saat kalian harus memilih antara pencipta atau ciptaannya!" sambung Rio lagi. "Deep banget bang!" sahut Dimas yang terlihat menyeka air di ujung matanya. Kayanya tuh cowok mulai mabuk. "Sejak kapan abang jadi anak magrib gini?" tanya Rakha. "Lo emang paling jago kalau ngerusak suasana Kha!" Andika menoyor kepala Rakha gemas. Rakha lalu mencebik kesal dan melihat ke lain arah. "Serius nggak mau minum nih Bang?" tawar Andika. Rio menggeleng tegas, "Habisin aja kalo lo doyan!" "Abang yang patah hati, kita yang mabok dong!" celetuk Bayu. "Gue nggak ya!" protes Rakha. "Iye, si yang paling alim!" kali ini Rakha menghindar saat Yoga ingin menoyornya lagi. Rakha juga pindah tempat duduk jadi di ujung yang bisa melihat dengan jelas geliat manusia di dance floor. Di meja bar tadi dia sempat melihat kumpulan Rony dan teman-temannya. Meski sempat adu pandang tapi mereka bersikap seperti tidak saling mengenali. Toh mereka memang tidak akur. Netranya kemudian tak sengaja melihat sosok yang dia kenal polos dan lugu. Namun kali ini berpenampilan super seksi dengan dandanan menor menggoda. Gadis yang rambutnya selalu di kepang itu nampak seperti orang yang berbeda. Rakha menggosok matanya dan menajamkan penglihatan, takut salah orang. Gadis dengan memakai rok yang hanya mampu menutupi daerah sensitifnya. Dan atasan yang lebih mudah di sebut bra. Dia kemudian menghilang di antara kerumunan manusia yang berjoget setelah di tarik oleh seorang pemuda keluar diskotik. *** Jika para pemuda menghabiskan waktunya dengan dugem. Lain kisah para cewek ceriwis yang lebih suka nonton drakor di kos. Mereka kini berkumpul di kamar Ica setelah memasak makanan sederhana di pantry. "Lo goreng jenglot apa gimana ini?" celetuk Ica melihat hasil masakan yang di bawa Karin di piring. "Tempe bacem ini, Ropeah!" Ica dan Kak Ane tertawa setelah melihat ekspresi emosi Karin. "Lah bentukannya gitu, item pula. Kayak kelamaan di siksa api neraka!" "Au ah!" Karin lalu mengambil tempat duduk di depan laptop yang siap menayangkan drakor pilihan mereka. "Ahjumma, lo nutupin tau!" Karin berbalik dengan mata melotot sigap menyerang Ica. Membekap mulut sang sahabat dengan kesal. Habis sudah kesabaran Karin yang setipis tisu itu, "Apa lo bilang? Coba ulang hmm! Lo kata gue tante-tante!" "Stop! Udah udah!" Kak Ane melerai dua orang yang masih gelut di lantai sekuat tenaga. Butuh beberapa menit sampai akhirnya mereka berhasil di pisahkan. "Eonni, dia mendzolimi aku..." rengek Ica setelah tubuhnya berlindung di belakang Ane. "Heran sama kalian, kok bisa temenan kalau bawaannya mau berantem mulu!" "Dia duluan Kak!" tunjuk Karin sambil melipat tangan di d**a. Ica balas menjulurkan lidah dan merasa menang karena di bela Kak Ane, sebelum akhirnya bibir Ica kena pukulan sang kakak. "Diem!" "Rasain lo," Karin tertawa puas. Ica mencebik sambil menggosok bibirnya yang nyut-nyutan. "Tapi Kakak seneng deh, akhirnya Ica yang biasa balik lagi," lanjut Kak Ane. Ica mengangkat alis tak mengerti. "Ho oh, pulang bioskop kemarin diam bae kaya orang gagu!" timpal Karin. Ica tak menjawab lalu duduk lagi di ranjang sambil memangku piring pastanya. "Biasa aja!" sahut Ica akhirnya. "Elah, bilang aja lo cemburu kan liat Rakha ketemu sama mantannya itu!" Diamnya Ica berarti 'iya'. "Kamu sama Rakha pacaran Ca?" tanya Kak Ane serius. "Belom di tembak si Kak, tapi Rakha sikapnya ngasih harapan terus sama Ica. Kayak di gatungin gitu. Pacaran enggak, tapi gayanya mesra banget. Sok perhatian, ngejagain Ica banget!" Karin si paling sok tau emang. Yang ditanya aja belum sempat nyahut, eh dia nyerocos mulu kaya lambe turih. "Wah, bagus dong! Artinya Rakha suka beneran sama kamu Ca. Dari dulu sebenarnya Rakha tuh ngejagain kamu terus, dianya aja yang gesrek suka gonta-ganti pacar. Tapi nggak sesayang dia ke kamu. Tinggal tunggu waktu aja dia nembak," Kak Ane penuh semangat. "Aku nggak mau terlalu berekspektasi sama Rakha. Dia hidupnya di kelilingi cewek mulu," sahut Ica. "Elah, kamu nggak usah insecure! Yang di mall kemaren cuma mantan, tenang aja! Rakha nggak bakal pernah mau balikan sama mantan. Over all, kamu suka Rakha kan Ca?" tanya Kak Ane serius. "Ya suka lah Kak! Orang habis di anterin Rakha dia teriak-teriak nyanyi-nyanyi nggak jelas!" lagi-lagi mulut Karin yang nyamber kaya bensin. "Tuh jubir aku Kak, tanya aja dia!" sindir Ica. Karin dan Ane lalu terkekeh. "Fix, kabar baik buat Mama dan Bunda! Ntar kamu ubah sedikit penampilan ya Ca, nanti Kakak ajarin. Kita bikin Rakha ketar ketir liat kamu di pelototin cowok-cowok." Kak Ane lalu tersenyum misterius. "Lo sendiri, udah jadian sama Bayu, Rin? Gayanya nempel mulu lo kaya cicak. Pajaknya jangan lupa!" Ica mengalihkan pembicaraan. "Dikit lagi, doain ya..." Karin nyengir. "Tapi, gue kayaknya mulai goyah deh," ralat Karin setelahnya. Ica dan Kak Ane menunggu kelanjutan bicara Karin. "Bang Rio kan sekarang jomblo, misi menjadikan lo adik ipar gue perlu di pertimbangkan lagi khaan?" kata Karin dengan gaya centil "Ogah gue punya ipar kayak lo! Yang ada gue penuaan dini gelut tiap hari sama lo!" sambar Ica. Kak Ane tertawa geli melihat dua orang yang katanya sahabat ini tapi dari tadi saling adu mulut. Lucu sih, berasa kayak nonton tom and Jerry live. Tapi Ica jadi lupa dengan dilema hatinya. "Kak Ane sama Bang Rio kayaknya cocok!" celetuk Karin. "Idih, Kakak sudah ada gebetan ya di kampus. Lagian Bang Rio tu putusnya terpaksa karena keadaan, bukan karena nggak saling cinta. Jadi agak susah move on pasti. Secara kan mereka pacaran udah empat tahun, sempat tunangan pula. Nggak semudah itu buat orang baru untuk masuk ke hati Bang Rio." "Lah, Kak Ane kan bukan orang baru buat Bang Rio," sahut Karin lagi yang diangguki Ica. "Iihh orang dibilangin Kakak udah punya cowok di kampus!" "Punya cowok kok nggak ada hubungin Kak Ane dari kemaren Kakak di sini. Minimal Kakak sibuk balas chat nya kan." Si Karin mulutnya emang nggak ada akhlak ya. Ucapannya itu sukses buat Kak Ane salah tingkah. "Hp Kakak lowbat. Udah ah mending kita nonton!" Rahne lalu menurunkan bantal di lantai lalu tiduran. Diikuti Karin juga Ica. Tiga orang itu akhirnya nonton dengan damai sampai mereka ketiduran saling tumpuk kayak beruang hibernasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN