TTB 23. Berakhir Kecewa

1523 Kata
Subuh menjelang, Mario merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Mereka sampai kontrakan hampir jam dua dini hari. Untungnya Dimas, Andika, Yoga dan Bayu nggak terlalu mabuk, jadi masih sadar saat diajak pulang. Rio keluar kamar mencari sosok Rakha yang tidak ada di sebelahnya. Dia juga mau ke kamar mandi, bersih-bersih lalu bersiap menjemput Rahne dan pulang. Sampai di ruang tengah, Rio cukup tidak percaya dengan penglihatannya. Dia menepuk pipinya takut cuma mimpi. "Subhanallah! Habis dugem lanjut shalat tobat nih ceritanya?" celetuk Mario melihat Rakha dan kawan-kawan yang nampak bersiap shalat dengan baju koko dan peci. "Buset, Abang ya, orang melangkah di jalan yang benar di ledek! Buru, nungguin abang ini buat jadi imam!" perintah Rakha. "Ho oh," timpal Bayu yang matanya padahal merem. Melihat tingkah Andika dan Dimas yang masih sender- senderan, Rio sebenarnya tidak yakin mereka bisa shalat dengan khusyuk, tapi langkahnya tetap menuju dapur untuk berwudhu. "Tiap hari kita juga gini kali Bang. Maksiat jalan, ibadah juga jalan," celetuk Yoga saat papasan di depan pintu kamar mandi. Mario memukul kepala Yoga pelan sambil terkekeh. Dalam hati dia bersyukur, meski jauh dari orang tua dan pergaulan yang bisa dikatakan bebas, tapi Rakha tetap terikat dengan Tuhannya. Rio semakin yakin kalau keputusannya untuk berpisah adalah jalan yang terbaik untuk dirinya dan Gisel. Karena bagaimanapun kita tetap akan kembali kepada Sang Pencipta, Tuhan yang kita yakini. *** Selesai membereskan barang-barangnya, Rahne beralih menyingkirkan hoodie milik Ica yang hampir memenuhi satu koper. Menyisakan beberapa helai saja. "Yah, kalau aku dingin atau mau keluar bentar musti banget dandan cantik ya Kak?" nada Ica seperti kecewa. "Pake cardigan atau bolero mulai sekarang! Ini sudah Kakak pilihin baju-baju kamu yang kece buat ngampus atau jalan. Tinggal kamu pinter-pinter mix and match aja ya, trus kalau nggak sempat touch up setidaknya pake lip tint, oke?" "Hemm," jawab Ica singkat lalu memeluk Ane erat. "Aku bakal kangen banget sama Kak Ane," gumam Ica. "Kakak juga. Hayuk turun, Bang Rio udah nunggu di bawah. Pake aja dulu hoodie nya, masa kamu singletan gitu!" Ica dan Ane sama-sama terkekeh. Lalu bergegas turun membawa tas kecil milik Ane. Karin masih setia dalam lelapnya, jadi Ica dan Ane enggan untuk mengganggu. Sampai di halaman Rakha sedikit terkejut dengan penampilan Ica. Dia tau Ica pasti belum mandi, hanya memakai celana pendek yang ketutupan hoodie dan rambut yang di gelung asal. Leher jenjang dan paha mulusnya terekspos sempurna. Muka bantal Ica super imut di mata Rakha, dia terlihat sangat menggoda. Untung saja teman satu kontrakan tidak ada yang ikut, jika tidak Rakha pasti tidak rela paha putih itu jadi tontonan. "Kedip Kha!" bisik Rio usil. Rakha meneguk salivanya dengan berat. Apalagi pas Ica sudah berada persis di depannya. Wangi tubuh Ica yang manis menggelitik menusuk inderanya. "Hati-hati ya Bang," kata Ica sambil mengulurkan tangan ingin salim tapi malah di tarik Rio ke dalam pelukannya. "Adek abang sudah gede ternyata, jaga diri baik-baik ya. Jangan ketipu sama rayuan kadal!" Rio sengaja melirik ke arah Rakha saat mengucap kata 'kadal' itu. Sama halnya Ica dan abangnya, kini Rakha dan Rahne pun saling mengucap kata perpisahan. Dan tak di sangka, Ane sengaja mengecup pipi Rakha membuat empunya bergidik risih. "Iihh Kak Ane, jijik tau!" sungut Rakha sambil menghapus bekas ciuman di pipinya kasar. Tapi Ane, Ica dan Rio malah terkekeh. Begitu mobil yang dikendarai Mario hilang di belokan, Ica yang masih kesal dengan Rakha segera berbalik. Ingin kembali tidur menyusul Karin. Tapi tangannya di tahan Rakha, "Ca, ntar siang anterin gue ke rumah sakit ya?" katanya serius. "Ngapain?" tanya Ica ketus. "Cek gula darah." Ica menaikan alisnya bingung. "Takut diabetes gue, lo manis banget soalnya!" Prett, kumat deh gombalan koinnya. Ica masih kesal lantaran dicuekin Rakha pas dia ketemu mantan di bioskop kemaren. Jadi, Ica hanya memasang wajah datar, walaupun ujung bibirnya sudah berkedut menahan senyum. Rakha lalu semakin mendekat dan berbisik, "Lain kali jangan keluar nggak pake celana gini ya, gue nggak rela di lihat sama orang aurat lo! Buat gue aja pas kita habis akad." 'Blush' Rona merah itu akhirnya tidak bisa di tutupi juga, Ica berbalik dan berlari kecil masuk ke dalam kos. Begitu sampai di pintu dia lalu sedikit berteriak, "Ntar sore pertandingan final kan? Jangan telat jemput!" Ica berbalik masuk sambil senyum malu-malu. Sementara Rakha, dia menggigit bibir bawahnya dan meninju-ninju udara saking senangnya. Dia berteriak tanpa suara meluapkan rasa bahagianya. 'Ah, baru gitu doang udah salting brutal, dasar bucin!' *** Sekali lagi Rakha di buat terpukau dengan penampilan Ica. Kaos putih lengan pendek pas badan yang di masukkan rapi ke dalam jeans dan sepatu kets putih yang menghiasi kaki jenjangnya. Rambutnya hanya di ikat tinggi seperti biasa. Tapi kali ini Ica memoles wajahnya dengan sentuhan make up korean look. Membuat wajahnya terlihat segar dan semakin menawan. "Kha, berangkat sekarang?" tanya Ica saat sudah berdiri di samping motor Rakha. Rakha mengatup mulut dan menggaruk tengkuk. "Kasih aba-aba dulu napa Ca?" gerutu Rakha. "Hm?" "Kalau mau dandan cantik begini kasih tau dulu, biar gue bisa nyiapin jantung, jadi nggak disko kayak sekarang." Ica sekuat tenaga memasang wajah datar, sudah ribuan kali mendengar gombalan Rakha tapi wajahnya selalu saja memanas. "Gombalan koin!" "Nggak percaya? Nih pegang..." Rakha meraih jemari Ica dan meletakkan di d**a. Bibir Ica akhirnya menyungging senyum tipis. "Nggak usah cantik cantik napa Ca? Gue gampang jatuh cinta sama lo soalnya!" "Udah ah, mau berangkat apa mau gombal terus?" Ica menarik tangannya dan memasang wajah jutek. "Kuy naik, pegangan yang kenceng ya kita lewat jalan pintas aja, takut kena razia. Razia orang cantik, lo pasti kena!" "Berisik!" Rakha terkekeh dan mulai menjalankan motornya ke lokasi Festival Olahraga Mahasiswa di adakan. Dalam hati Rakha, kebahagiaan itu membuncah sampai tumpah-tumpah melalui senyum lima jari yang tak mau berhenti. Pun dengan Ica yang memasang tampang cuek padahal sedang melambung melayang mabuk kepayang. Begitu sampai di stadion benar saja, tidak sedikit lelaki yang mencuri pandang pada Ica. Bahkan ada yang terang-terangan ingin berkenalan padahal Rakha berdiri di sebelah Ica dengan setia. Belum lagi cowok yang bersiul-siul mencoba menarik perhatian. Mulai dari peserta baik penonton. Rakha berdecak kesal. Dia lalu melepas jaket denim yang di pakainya dan memakaikan di tubuh Ica. "Lo di sini aja ya, tunggu sampai gue nyamperin. Jangan kemana-mana!" pesan Rakha sambil memasangkan jaketnya yang membuat tubuh Ica tenggelam. Mereka sekarang duduk di bangku penonton paling depan. "Jagain sekalian Ica ya, Bay!" perintah Rakha pada Bayu yang asyik ngobrol dengan Karin di sampingnya. Dua sejoli itu rupanya datang lebih dahulu. Penonton kali ini lebih padat dari biasanya. Maklum lah, karena yang berlomba dalam final kali ini bukan hanya voli putra dan putri, tapi juga cabang olahraga lain. Karena waktu pertandingan yang sudah mepet, Rakha meninggalkan Ica dan melangkah berkumpul dengan timnya di ruang ganti khusus pemain. Tapi sebelumnya Rakha sempatkan mengacak rambut Ica lalu tersenyum penuh binar bahagia. "Doain ya... dan nonton sampai selesai jangan kemana-mana! Ada surprise buat kamu," kata Rakha sebelum dia berbalik dan menghilang dalam kerumunan timnya. "Apa dia bilang? 'Kamu', iihh jijik banget. Tapi sukaaa... Surprise apa kira-kira ya? Rakha, jangan bilang lo mau lempari gue kodok lagi!" batin Ica bermonolog. Beberapa pemain sudah memasuki lapangan, namun belum terlihat batang hidung Rakha. Ica teringat sesuatu dan berdiri ingin menyusul Rakha. "Mau kemana Ca?" tanya Karin heran melihat temannya seperti terburu-buru ke arah ruang ganti pemain sambil melepas ikatan rambutnya. "Nyusul Rakha sebentar!" teriak Ica karena dia telah melangkah jauh. Begitu sampai di lorong, di depan ruang ganti Ica melihat Rakha tengah memeluk tubuh seorang gadis tinggi yang juga memakai jersey voli. Gadis itu nampak berkeringat seperti baru selesai bertanding. Mereka saling pandang dengan tangan Rakha memeluk pinggang sang gadis. Dan si gadis bergelayut di leher Rakha. Langkah Ica terhenti seiring detak jantung yang memompa kuat. Dia seperti patung menonton dengan setia adegan demi adegan di depan matanya. Jihan, gadis cantik itu nampak tersipu dan memerah. Seperti tersadar, Rakha lalu melepas tangannya di pinggang Jihan lalu berjongkok mengikat tali sepatu si gadis. Karena menunduk, Rambut Rakha yang memanjang itu menutupi sebagian wajahnya. Tak mau tinggal diam, Jihan lalu melepas ikatan rambutnya dan ikut menunduk mengikat rambut Rakha. Terkejut, Rakha lantas mendongak melihat ke atasnya, persis di depan wajah Jihan. Mata mereka kembali bertemu, beberapa centi lagi kedua bibir mereka bersatu. Ica berbalik tidak sanggup melihat adegan berikutnya seiring dengan pandangannya yang mulai mengabur terhalang buliran air. Dadanya tiba-tiba saja berdenyut nyeri. Kebahagiaan yang membuncah berganti dengan malu, perih dan sesal. Setelah dilambungkan setinggi langit dengan sikap manis Rakha beberapa waktu ini, kini Ica serasa dihempaskan dengan hebatnya hingga tenggelam di dasar laut. Seharusnya Ica sudah menebak kalau dia akan berakhir kecewa. Bulir bening di sudut matanya tidak mampu di cegah. Berlomba berhambur keluar membuat pandangannya semakin samar. Ica bahkan sudah tidak peduli dengan kerumunan penonton. Dia menabrakkan dirinya berusaha keluar dari tempat menyedihkan ini. Sampai badannya benar-benar terhuyung karena menabrak seseorang dengan sangat keras. "Ica?!" Sejenak Ica menarik nafas dan mendongak ke asal suara yang seperti tak asing. "Daniel," suara Ica bergetar. "Are you okay?" Daniel memegang kedua bahu Ica yang bergetar. Ica menangkap tangan Daniel dan meremasnya kuat karena dia hampir tumbang. Wajahnya yang sudah basah dengan air mata dan bibir yang terasa tercekat itu berkata lirih, "Niel, bawa gue pergi dari sini!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN