TTB 24. Cemas

1427 Kata
Rakha mengganti pakaian yang dikenakannya dengan jersey tim volinya. Sebelum keluar ruang ganti seluruh tim berkumpul dan membentuk bulatan lalu di pimpin untuk berdoa bersama. "Ica damage banget hari ini Kha!" bisik Andika saat dia memperbaiki ikatan tali sepatu. Rakha hanya menoleh sebentar, lalu kembali melanjutkan kegiatan. "Nggak dandan, pake hoodie aja dia imut, apalagi dandan! Beuh, langsung naik jadi spek bidadari. Kalau lamban, lo bisa ditikung kiri kanan, Kha!" "Lo merhatiin cewek gue banget ya?!" suara Rakha agak meninggi dan mata menyorot tajam. "Elah, di kasih motivasi malah nyolot!" Andika menepuk bahu Rakha dan melangkah pergi mengikuti timnya yang sudah lebih dahulu keluar. Rakha menegakkan tubuh lalu tersenyum penuh arti. Sebenarnya dia sudah merencanakan sesuatu untuk Ica. Dia ingin menyatakan perasaan dengan 'spektakuler' dan Rakha rasa inilah saatnya. Dia harus berjuang dulu memenangkan pertandingan ini agar rencananya terlaksana. Sambil tersenyum membayangkan wajah memerah Ica, Rakha melangkah keluar mengikuti yang lain. Di lorong, sosok yang tak asing bagi Rakha melangkah pelan sambil terseok memegangi paha. Jihan. Cewek tinggi juga mempesona itu mengenakan jersey voli yang nampak sudah basah karena keringat. Ah, siapa yang tidak terpikat dengan Jihan. Tinggi, berwajah cantik, dari keluarga kaya, di dukung dengan sejumlah prestasi di bidang olahraga maupun akademik. Sempurna. Dulu, hari-hari Rakha juga pernah diisi dengan memuja gadis ini. Sampai pada saat Rakha tau kalau ternyata Jihan berselingkuh darinya. Bukannya Rakha belum move on, dia malah tidak sakit hati. Terbukti tiga bulan setelahnya Rakha sudah punya gandengan baru. Lagi pula sekarang Rakha sudah menyadari perasaan sepenuhnya. Baik dulu maupun sekarang hanya Marisa Nariya Rais yang jadi pusat hidupnya. Gadis-gadis lain yang dipacari hanya sekadar singgah sebagai pembanding untuk memahami perasaannya sendiri. Katakanlah Rakha bodoh, tapi hati manusia memang penuh misteri. Tampaknya tim voli putri baru selesai bertanding. Rakha tidak terlalu memperhatikan pertandingan lainnya karena fokusnya hanya Ica sejak datang tadi. Sejenak pandangan mereka bertemu. Melihat sosok yang sangat di kenal berdiri tak jauh darinya, Jihan setengah berlari karena tak sabar untuk mendekat ke arah Rakha. Dia tersenyum sumringah melihat Rakha yang nampak gagah dengan jersey voli seperti dulu-dulu. Dia tidak sadar tali sepatu yang rupanya tidak terikat dengan benar membuat Jihan hampir tersungkur ke depan karena buru-buru berjalan. Sigap Rakha menangkap tubuh yang terhuyung ke arahnya itu. Menahan dengan kedua tangan di sisi tubuh si gadis. Jihan juga mencengkeram bahu Rakha dengan erat sebagai pegangan agar bisa berdiri imbang. "Hati-hati, Ji!" kata Rakha sambil tersenyum. Lagi, kedua netra mereka saling tatap. Rakha yang lebih dulu memutus kontak mata itu dan melihat ke arah bawah. Dia berjongkok mengikat tali sepatu yang terburai itu. Sungguh tidak ada maksud lain murni hanya ingin membantu. Mereka sekarang teman kan? Bukan musuh. Lagi pula mereka pernah dekat. Walau sekarang tidak ada perasaan apa-apa. Rakha menyugar rambutnya yang menutupi wajah agar bisa melihat jelas. Karena menuduk, rambutnya yang memanjang menutupi penglihatan. Gerakan tangannya terhenti saat dia merasakan jemari Jihan mengumpulkan helaian rambutnya dan mengikatnya menjadi satu ke belakang. Rakha mendongak, wajah mereka kembali berhadapan. Kali ini dengan jarak yang lebih dekat. Bahkan nafas Jihan bisa Rakha rasakan mengenai wajahnya. Cepat Rakha membalik wajah dan beringsut mudur sebelum akhirnya berdiri tegak. "Thanks Kha..." ucap tulus Jihan. Rakha mengangguk, "Kaki lo oke?" "Hmm tadi gue cidera, udah di obatin pas di lapangan kok!" Sekali lagi Rakha mengangguk, dia ingin berlalu dari situ, tapi terhenti lagi saat mendengar kalimat Jihan. "Good luck ya Kha." "Thanks," balas Rakha singkat dan kali ini benar-benar menjauh karena dia berlari kecil ke arah luar. "Kha... bisa nggak kita kayak dulu lagi?" lirih Jihan yang hanya bisa didengar dirinya sendiri. *** Pertandingan kali ini berlangsung dengan sengit. Lawan tidak bisa dianggap sepele karena memiliki kekompakan dan teknik bermain yang juga mempuni. Penonton juga semakin membludak. Tak hanya di tribun tapi juga memadati pinggir-pinggir lapangan meski sudah di pasangi pagar pembatas. Bahkan tempat duduk Ica, Karin dan Bayu ketutupan dari penglihatan Rakha saking padatnya penonton. Rakha hanya fokus bermain. Mencari titik lemah tim lawan yang nampak tidak ada celah. Teknik bertahan dan menyerang yang imbang. Tapi tidak dari stamina yang menurun. Satu set tambahan karena kedudukan satu sama. Kesempatan bagi Rakha dan tim untuk menguras stamina lawan. Celah kecil yang harus mereka manfaatkan di sisa terakhir tenaga mereka juga. Dan akhirnya smash terakhir Rakha menutup permainan dengan kemenangan di pihak mereka. Riuh penonton bersorak gempita, Rakha dan tim sampai sujud syukur di lapangan atas kemenangan itu. Hingga gelar Most Valuable Player di serahkan pada Rakha atas kerja kerasnya. Saat menerima trofi kemenangan bersama tim, Rakha yang juga mendapat trofi MVP diminta untuk memberi pidato singkat akan hasil yang diraih. Rakha tersenyum menang dalam hati, 'inilah kesempatan itu.' Sempat melihat ke arah penonton yang masih membludak, Rakha masih belum menemukan sosok Ica dalam pandangannya. Bahkan Karin dan Bayu juga tidak terlihat. Sedikit kecewa, tapi Rakha pikir mereka hanya tertutup penonton lain atau berpindah tempat duduk yang lebih nyaman. Rakha masih meyakini kalau salah satu teriakan penonton itu, ada suara Ica yang pasti juga bersorak bahagia. "Terimakasih untuk pelatih dan tim saya yang sudah berjuang bersama dalam pertandingan kali ini. Trofi MVP ini tidak akan bisa saya raih sendiri tanpa kerja keras kalian juga. Dan terakhir, trofi ini saya persembahkan untuk seseorang yang sangat spesial di hati saya. Semangat, pencarian, obat lelah, dan tujuan hidup saya pada akhirnya berhenti di hati gadis ini. Marisa Nariya Rais, will you be mine?" Riuh penonton bersorak membahana memenuhi lapangan. Penonton wanita bahkan berteriak histeris karena menganggap aksi Rakha yang gantle sekaligus romantis di depan publik. Gadis mana yang tidak melting kalau Rakha segagah itu, berdiri dengan penuh percaya diri menyatakan perasaan pada seorang gadis. 'Berasa dia yang ditembak kali.' "Marisa...." "Marisa...." "Marisa...." Teriak penonton, agar gadis itu hadir dan menerima trofi dari Rakha untuknya. Yang sama artinya Marisa menerima pernyataan cinta Rakha. Mereka juga penasaran dengan sosok Marisa yang disukai oleh cowok sekeren Rakha. Namun hingga menit berlalu, sosok yang di elu-elukan dan dicemburui seantero wanita di stadion itu tidak nampak juga batang hidungnya. "Mungkin gadis saya terlalu malu untuk muncul di depan kalian. Tapi akan saya pastikan dia menerima trofi ini." Rakha mengakhiri kalimatnya sambil mengangkat trofi dan tersenyum bangga ke arah penonton. Seketika, video Rakha yang sekarang mendadak menjadi salah satu most wanted and popular di kampus menjadi trending topic di seluruh laman sosial media kampus. Seluruh fakultas jadi penasaran dengan sosok Marisa yang disebut-sebut Rakha sebagai gadis spesialnya. Beragam komentar memenuhi lapak gosip lambe_kampus di grup sosial media. Para gadis ikut meleyot melihat ketampanan Rakha dan pernyataan cintanya. Videonya bahkan di unggah berkali-kali hingga benar-benar menjadi viral. Benar-benar spektakuler seperti yang diharapkan Rakha. Semua orang tau, kecuali satu sosok yang tengah dibicarakan. Ica. Seperti di telan bumi, dia benar-benar menghilang tanpa jejak. Berkali-kali Rakha menghubungi ponsel Ica namun tidak ada jawaban. Waktu sudah menunjuk angka delapan di malam yang cerah kali ini. Tapi Rakha mulai gelisah. Terlebih ketika dia tidak bisa menolak ajakan makan malam bersama untuk merayakan kemenangan mereka. Karena dia pemegang piala MVP yang bergengsi itu, maka dia yang menjadi pusat perhatian sekarang. "Gercep juga lo!" komentar Andika saat mereka sedang menikmati pizza di pusat kota bersama seluruh tim. "Bayu on the way kesini kan?" Rakha malah tidak menanggapi, dia benar-benar cemas karena tidak bisa menghubungi Ica. Terlebih ponsel Karin juga ikut tidak bisa di hubungi. "Noh orangnya, mepet mulu sama Karin!" Dimas menunjuk ke arah pintu masuk dengan dagunya. Sigap Rakha berdiri dan menyusul mereka tak sabaran. "Rin, lo liat Ica?" tanya Rakha saat mereka sudah berhadapan. "Lah, bukannya dia cariin lo di ruang ganti sebelum tanding tadi? Gue kira lo umpetin," cerocos Karin santai. Dia memang benar mengira Ica bersama Rakha. Karena setelah itu, dia dan Bayu malah melipir ke bioskop karena suasana stadion yang crowded. 'Deg' Perasaan Rakha semakin berkecamuk. Apa Ica melihat saat dia bersama Jihan. Jangan-jangan dia salah paham. Dimana Ica sekarang? Tuhan, Rakha benar-benar cemas. "Bukan sama lo emang? Handphone gue lowbat ini, nggak bisa telepon Ica." pertanyaan Karin tidak digubris Rakha karena bertepatan dengan dering di ponselnya. "Assalamualaikum Bun?" jawab Rakha berusaha tenang. "Waalaikum salam. Kha, kok kamu nggak bareng Ica?" Rakha mengerutkan kening, meski pertanyaan Bunda ambigu, Rakha tetap berusaha berpikir positif. Sayup-sayup di dengarnya suara orang berdo'a secara berjamaah. Mungkin bundanya sedang di pengajian pikir Rakha. Dia tidak ingin ambil pusing. "Nggak kenapa-napa," jawab Rakha datar. "Loh, Ica nggak bilang sama kamu ya?" "......." "Ica sudah ada di sini sejak sore Kha. Kamu dimana?" jelas Bunda dengan intonasi yang agak meninggi. "Dia ............." Seketika sekujur tubuh Rakha rasanya dingin. Bingung, khawatir, dan sedih menjadi satu. Rasanya dia ingin berteriak dan menangis saja. "Bun, tunggu Rakha! Aku pulang sekarang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN