TTB 25. Selamat Jalan Bue

1168 Kata
Daniel masih diam, menunggui gadis di depannya yang sedang menguras air mata sepuasnya. Dia tidak ingin menyela, hanya duduk diam menunggu. Sesekali dia menepuk pundak Ica yang bergetar hebat. "Lo kok... hiks... ada... ada... hiks... di sini?" tanya Ica di sela tangisan. Daniel malah merasa lucu. Bukannya tidak bersimpati pada Ica yang sedang bersedih, dia hanya gemas melihat wajah polos Ica yang sesenggukan tapi malah serius bertanya. Daniel tak bisa untuk tidak tertawa. Bersama gadis ini membuatnya tidak berhenti bahagia. "Udah dulu nangisnya?" Daniel memberikan tisu entah untuk yang keberapa, karena tumpukan tisu bekas ingus dan air mata Ica sudah bertebaran di lantai sebuah cafe yang untungnya sedang sepi. Ah, bukannya sepi, Daniel memang sengaja memesan seisi cafe khusus untuk Ica mewek. Di pintu depan sudah terpasang papan 'close' jadi tidak ada konsumen yang akan singgah. 'Horang kaya, beda level bucinnya say.' "Gue juga hiks... nggak mau nangis... hiks, air matanya... hiks.... keluar sendiri huhuuuu," Ica malah tambah kejer. Bukannya kesal, Daniel malah semakin terhibur. "Cup cup cup..." Daniel menepuk-nepuk pundak Ica pelan seperti sedang membujuk anak kecil. Sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan imagenya yang cool. Daniel juga belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, semua semata karena Ica. Untungnya hal itu berhasil membuat Ica terhibur. "Apa an si... hiks... hiks," Ica akhirnya tersenyum meski masih sesenggukan. "Lo udah bisa denger gue cerita?" Ica mengangguk sambil menggosok hidungnya yang mampet dengan tisu. "Gue mau nonton teman-teman waktu SMA tanding basket. Mereka juga mewakili kampus untuk final hari ini." "Sorry ya Niel, gara-gara gue, lo nggak jadi kasih support teman-teman lo," Ica sungguh menyesal dan merasa bersalah. Air matanya mulai berhenti mengalir sekarang. "Nggak masalah, karena gue ketemu lo sekarang, it was better than i expected!" Ica mengedipkan mata beberapa kali sesekali dia masih sesenggukan. Merasa janggal dengan kalimat Daniel, Ica tidak tau harus menyahut apa. Semakin gemas, Daniel mengacak rambut Ica. "Bisa nggak muka lo biasa aja? Gue takut nggak bisa nahan buat nggak nyium lo." "Hah?!" Daniel memalingkan wajah ke arah lain, tidak pernah dia merasa salting saat di tatap cewek sedekat ini. Biasanya dia yang membuat para gadis meleyot. Ica padahal diam saja, tidak berusaha menggoda atau merayu, tapi kenapa dia merasa salah tingkah parah begini. "Sekarang lo mau cerita? Lo tadi kenapa? Ada yang ganggu atau nyakitin lo?" Daniel merubah topik menutupi rasa gugup. Wajah Ica kembali murung. Dia menyentuh ujung jaket milik Rakha yang masih dipakainya sekarang. Ica teringat kembali reka adegan kemesraan Rakha dan mantannya itu. Padahal Rakha seperti memberi sinyal perasaan, perhatian, dan harapan padanya. Salahnya sendiri, kenapa mempercayai cowok tengil macam Rakha yang Ica tau selalu di kelilingi perempuan cantik. Juga mulut manis yang memang selalu mengeluarkan bujuk rayu. "Marisa..." Lamunan Ica terjaga mendengar suara lembut Daniel yang memanggilnya. Dia lalu tersenyum dan meraih tangan cowok itu. "Makasih, lo udah bawa gue ke sini. Lo nyelamatin gue dari rasa malu. Gue berhutang sama lo Niel." "Nggak perlu sungkan dan merasa berhutang. Karena nanti gue bakal nagih kalau ini termasuk hutang, beserta bunganya tentu." Ica dan Daniel terkekeh. "Diihhh, pantesan lo kaya, nyambi jadi rentenir ternyata," celetuk Ica yang disambut tawa renyah Daniel. Dia mencubit hidung Ica dengan gigi bergemeletuk gemas. Jadi, si Daniel ini tipe love language phisycal touch gitu ya. "Intinya hari ini lo udah bantuin gue..." kata Ica serius menahan tangan Daniel. Dia kini sudah benar-benar selesai dengan tangisnya. 'Caca marica hey hey caca marica...' Lagi, dering di ponsel Ica membuat tawa keluar dari bibir Daniel. Dia benar-benar merasa geli jika mendengar dering itu. Ica melirik sebentar ke arah ponselnya. Jika Rakha yang menghubungi dia akan abaikan. Ah tidak, mungkin sekarang Rakha masih bertanding dan di tunggui mantan terindahnya itu pikir Ica. 'Daewang Daebi Mama calling...' "Gue angkat telepon dulu," izin Ica seraya berdiri sedikit menjauh. Daniel hanya mengangguk dan kembali menikmati cappucino di depannya. "Ya Ma?" jawab Ica saat sudah menemukan tempat yang nyaman. "Caa hiks... hiks..." suara sesenggukan Mama di seberang menimbulkan rasa khawatir yang menjalar di sekujur tubuh. "Kenapa Ma? Mama nggak pa-pa kan?" Hening sejenak, hanya isak Mama yang terdengar. "Bue udah nggak ada Ca huhuuuu..." isak Mama akhirnya pecah sudah menjadi sebuah tangisan pilu. Seketika badan Ica terasa limbung. Mendapat serangan bertubi-tubi, kakinya sudah melemah untuk berpijak. Dia berpegangan pada ujung meja dan berkata lirih. "Tunggu Ica Ma, Ica pulang!" *** Melihat Ica yang grasak grusuk dan air mata yang kembali menggenang membuat Daniel menahan tubuh Ica dan mengangkat dagu Ica agar menatap ke arahnya. "What's wrong?" "Bue Niel...hiks... Bue udah meninggal. Gue harus pulang sekarang... hiks," Ica nampak mencoba berpikir jernih, meraih kembali ponselnya dan mencari kontak Rakha. Sebelum menekan tombol hijau, sekali lagi dia berpikir. 'Tidak!' Dia tidak perlu meminta bantuan Rakha lagi. Dia harus mulai membatasi interaksi dengan cowok itu dan belajar mandiri. "Taksi, gue mau cari taksi travel ke Sampit sekarang Niel..." "Wait wait..." Daniel menahan pergerakan Ica yang impulsif. "Lo ikut gue, kita bisa pulang secepatnya sekarang," tegas Daniel dengan sorot mata tajam yang nampak tidak bisa di bantah. Nurut, Ica mengangguk dan mengikuti langkah Daniel dengan tangan yang masih bertaut. Ya, Daniel menggenggam tangan gadis itu memberi kekuatan. Tangan lainnya dia gunakan untuk memegang ponsel dan mulai menghubungi seseorang. Dan di sinilah mereka sekarang, Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin. Ica menoleh meminta penjelasan pada Daniel. Karena setau Ica tidak ada penerbangan rute Sampit jika menjelang sore begini. Daniel hanya tersenyum dan menguatkan genggamannya. Dia mengangguk yakin dan melangkah bersama Ica ke bagian departure. "Niel, jangan bilang lo carter pesawat!?" selidik Ica. Daniel lagi-lagi hanya tersenyum tidak menjawab, yang langsung Ica artikan 'iya'. Ica mendesah lelah. Dia sudah tidak punya tenaga untuk protes. Tapi memang ini adalah cara tercepat untuk pulang. Jika bukan karena Daniel, mungkin seumur hidup dia tidak akan pernah merasakan naik pesawat yang penumpangnya hanya berdua seperti sekarang. Biarlah Ica pasrah saja, yang penting dia segera sampai. Urusan harus membayar sejumlah kompensasi kepada Daniel, akan Ica pikirkan belakangan. Menemui Bue, mengantarkan hingga ke tempat peristirahatan abadi adalah tujuannya sekarang. Bue adalah salah satu orang yang paling Ica sayangi. Bahkan dia tidak bisa membedakan mana yang merupakan cinta pertamanya, Bue atau Papa. Karena Bue selalu memperlakukan Ica selayaknya tuan putri dengan perhatian dan kelembutan seorang kakek kepada satu-satunya cucu perempuan. Ica sungguh-sungguh sangat menyayangi sang kakek. Dan benar saja, empat puluh menit di udara, burung besi yang mereka tumpangi kini mendarat sempurna di Bandara H. Asan Sampit. 'Jalur duit beda ya guys, cepet sampai nggak pake ribet.' Awalnya seluruh keluarga agak bingung dengan kehadiran Ica yang diperkirakan esok pagi baru akan tiba. Mereka tengah berunding tentang penundaan pemakaman Bue agar Ica sempat melihat Bue untuk yang terakhir kalinya. Kekagetan mereka semakin bertambah karena sosok yang menemani Ica pulang adalah Daniel bukan Rakha. Semua pertanyaan itu mereka simpan karena turut bersedih kembali melihat Ica yang nampak terpukul akan kepergian Bue. Ica meluruh bersama air mata yang kembali membanjiri korneanya. Menatap wajah tersenyum Bue yang nampak damai dalam tidur abadinya. Akhirnya sang pencinta bertemu kembali dengan kekasih di alam abadi. Pertemuan yang tidak akan terpisah lagi. Selamat jalan Bue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN