Bulir keringat sebesar biji jagung mulai menetes dari pelipis Rakha. Anehnya meski sekujur tubuh terasa panas, telapak tangan dan kakinya sedingin es. Di depannya Papa Rais sudah duduk tegap dengan aura ketegasan yang siap menjabat tangan Rakha memimpin ijab kabul. Meski sudah seperti ayah sendiri, tetap saja saat ini Rakha merasa terintimidasi. Dia merasa gugup dan tidak karuan. Sebelumnya, Ayah dan Bunda sudah memberi wejangan panjang tentang tanggung jawab yang akan dia pikul setelah menyandang gelar suami. Maka bertambah-tambah pula tekanan yang Rakha rasakan sekarang. "Saya terima nikah dan kawinnya, Marisa Nariya Rais binti Imran Rais, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" 'Sah!' Sambutan saksi yang duduk di kiri kanan Rakha membuat dia bernafas dengan lancar. Gurat kelegaan

