“Nora, apa yang kamu katakan? Kenapa aku harus menikah dengannya?!” teriak Saga, dia mengguncang tubuh istrinya. Namun, tak kunjung mendapat jawaban.
Sementara, di sisi lain, semua orang justru fokus pada Megan dan berusaha menghentikan tindakannya.
“Jangan berlebihan, Megan!” teriak Saga, geram. Dia tidak menyukai situasinya, situasi yang benar-benar di luar kendali.
Akan tetapi, Megan tak mendengarkan siapa pun. Tekadnya seolah begitu nyata, akan mengakhiri hidup demi mendapat persetujuan dari Saga–untuk menikahinya.
“Katakan, ya, Saga!” desak Nora, tubuhnya semakin lemas karena situasi ini.
***
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Nora. Ruangan bernuansa putih itu menjadi saksi bisu atas apa yang dilakukan sang ibu padanya.
“Apa yang kamu lakukan? Apa kamu bodoh?!” sentaknya.
Nora yang menunduk lesu dan masaih merasakan sakit di pipi, perlahan mengangkat wajah dan membalas tatapan Utari.
“Ini juga sulit untukku,” jawab Nora, singkat.
“Lalu kenapa kamu membiarkan suamimu untuk menikahi Megan, Nora! Kamu sudah gila? Apa kamu sebodoh itu?” cecar Utari tak terima dengan keputusan Nora yang menyetujui pernikahan menantunya dengan anak sambungnya.
Nora menghela napas panjang, dia memalingkan wajah sejenak, seolah enggan menjelaskan apa yang dirasakan. Padahal, sudah pasti Utari menginginkan semua itu.
“Nora! Jangan membuatku menyesal sudah susah payah merawatmu!” teriak Utari.
Nora menoleh cepat, “Lalu aku harus menuruti egoku, membiarkan seseorang mati karena itu. Seperti apa yang Mami lakukan pada Ayah, iya?!” Akhirnya Nora meluapkan segala emosinya.
“Semua yang mami lakukan itu demi kebaikanmu, Nora!” teriak Utari.
“Demi kebaikan Mami, bukan demi kebaikanku. Berhenti mengelabuiku, Mam!” sanggah Nora, saat terdesak akhirnya dia berani melawan perkataan ibunya. Walaupun untuk saat ini, Utari lebih benar.
“Kamu–” Utari yang tidak menyangka Nora akan berkata seperti itu, kembali mengangkat tangan, hendak menamparnya. Namun, urung dia lakukan saat melihat wajah anaknya yang tampak kesulitan.
“Dasar anak nakal!” desis Utari, lalu melengos pergi dari kamar perawatan Nora.
Tanpa mereka sadari, ternyata Saga mendengarkan semua itu di balik pintu. Saga pun kembali sembunyi, setelah tahu Utari akan keluar. Sementara Nora membanting tubuhnya ke brankar, dia menggerakkan kaki dan menendang selimut sembari terus mengumpat. Sisi lain dari gadis itu kini muncul. Yang biasanya terlihat lembut dan anggun, tetapi saat ini dia seperti bocah tantrum.
***
Setelah Utari keluar dari ruang perawatan Nora. Saga mengikutinya diam-diam, lalu bersandiwara seolah tanpa sengaja bertemu di lobby.
“Mam!” panggil Saga pada Utari, yang seketika membuat Utari menoleh ke arahnya.
Utari mendengkus, lalu memukul pelan d**a pria tampan itu.
“Kenapa gadis bodoh itu menyalahkanku?! Hah! Kenapa menjadi salahku? Aku hanya ingin kalian tetap bersama, apa aku salah?!” cerocos Utari dengan mata berkaca-kaca.
Wanita yang kini menjadi mertuanya itu memang masih muda, bahkan hanya terpaut 10 tahun saja dengannya. Saga hanya terdiam, mendapati situasi semakin runyam. Lantas, dia meraih tangan Utari dan menggenggamnya.
“Bantu aku agar pernikahan ini tidak terjadi, aku pun tidak ingin melakukannya. Aku hanya ingin Nora yang menjadi istriku, bukan Megan atau siapa pun. Lagi pula, aku bersumpah, itu bukan anakku,” pinta Saga.
“Apa yang bisa kulakukan, akan kulakukan,” jawab Utari, “kamu mencintainya, bukan? Kamu mencintai putriku, Nora?” tanya Utari.
“Menurut Mami, apa ada alasan logis untuk semua yang kulakukan padanya, selain perasaan yang disebut cinta,” jawab Saga.
Utari mengangguk, menyetujui permintaan menantunya. Kini, Saga memiliki sekutu, walau memang tak begitu tangguh. Utari lantas berbalik dan berniat pergi, lagi pula sudah sangat larut. Makan malam kembali kacau, setelah membahas pernikahan Saga dan Megan. Diakhiri dengan pingsannya Nora, karena syok melihat Megan melakukan percobaan bunuh diri.
Nora pun akhirnya dirawat untuk memulihkan kondisi psikisnya.
Saga melihat punggung Utari, hingga wanita itu pergi bersama supirnya. Saga menghela napas lega, lamtas dia kembali menemui Nora di ruanganya.
“Kamu sudah lebih baik?” tanya Saga, lalu duduk di kursi yang ada di samping brankar.
“Emh,” jawab Nora singkat.
“Megan bagaimana?” tanya Nora, “tadi aku sempat bertanya sama Mami, tapi dia justru memakiku,” ungkap Nora.
“Kenapa begitu menghiraukan orang lain, sementara dirimu lebih membutuhkan perhatian itu,” protes Saga, sedikit kesal pada Nora.
“Aku baik-baik saja.” Nora meraih tangan Saga dan menggenggamnya erat, sedikit usapan lembut dia lakukan di punggung tangan suaminya.
“Nora, semua itu enggak serius kan? Kamu enggak benar-benar ingin aku menikahi Megan?” Saga mencoba berbicara pada Nora dari hati ke hati.
“Aku tidak pernah main-main dengan keputusanku,” jawab Nora.
“Kamu bilang, kamu mencintaiku! Kenapa kamu seegois ini?” protes Saga, “kumohon Nora, anaknya bukan anakku. Kenapa aku harus–”
“Saga, ini pun berat bagiku. Tapi, aku memang hanya pengganti sejak awal. Aku lah yang salah, karena telah bermain perasaan, lalu memintamu bergabung di dalamnya,” tutur Nora, dengan mata berkaca-kaca, menatap suaminya begitu dalam.
Saga mendengkus kasar, masih ada yang mengganjal di hatinya. Dia tak terima dengan penjelasan Nora. Namun, untuk saat ini dia hanya bisa terdiam. Meski jiwanya meronta-ronta ingin mengungkapkan betapa sakit perasaannya.
***
“Kita harus mempersiapkan segera pernikahan Saga dan Megan,” ucap Firman, pad Utari yang baru saja duduk di meja makan untuk sarapan.
“Bagaimana dengan Nora?” tanya Utari.
Pertanyaan itu berhasil membuat tatapan sinis suaminya langsung menusuk tajam ke arahnya. Utari seketika itu menunduk, karena tak memiliki daya untuk memprotes.
“Maksudku dia masih pemulihan,” ralat Utari.
“Yang menikah Megan, bukan Nora!” tegas Firman, “kamu membuat pagi ini terasa lebih buruk.”
Firmah beranjak dari duduk, lalu melempar koran yang sedang dibacanya ke meja. Hentakan yang terjadi membuat Utari kaget, tetapi dia tak bisa berkata apa-apa lagi.
“Kenapa anak itu harus kembali, sial!” gumam Utari.
“Kenapa Mami? Mami tidak suka jika anak sulung Mami menikah?” Tiba-tiba Megan muncul dari arah belakang, dia memeluk Utari dan berbisik di samping telinganya.
Utari kembali kaget, karena tak menyangka Megan akan muncul begitu saja.
“Sebenarnya apa yang kamu rencanakan, Megan? Kenapa kamu harus kembali dengan cara seperti ini?” tanya Utari.
“Ya, mau bagaimana, aku juga enggak mengira aku mengandung bayi Saga, lalu siapa yang harus kucari jika bukan ayah biologisnya?” Megan melepaskan rangkulan di pundak Utari, lantas dia duduk untuk minum teh yang sudah disediakan.
“Kamu yakin itu bayi Saga?” selidik Utari, dia menatap tajam ke arah anak sambungnya, mencoba mengetahui kejujuran yang disembunyikan.
“Ck! Apa tes DNA belum cukup? Haruskah kita tunggu anak ini lahir untuk memastikan wajahnya mirip siapa?” oceh Megan seraya menyuapkan sepotong roti ke mulut.
Utari menatap Megan dengan begitu serius, “Kamu yakin, itu bukan bayi milik putra sulung Ankara Grup?”
Tiba-tiba Megan berhenti mengunyah ….