Bab 6. Keuntungan Sepihak

1326 Kata
Secepat kilat Hanah yang baru saja duduk, kembali berdiri. Dia melayangkan tamparan ke wajah Saga, lalu memelototinya. Nora yang melihat Saga disakiti mertuanya sontak tak terima. Buru-buru dia pun berdiri, dan merangkul lengan berotot suaminya, berusaha menenangkan. “Kenapa, Bu? Kamu akan memintaku bersikap selayaknya putramu, begitu?” sergah Saga. Sekali lagi, Hanah mencoba melayangkan tamparan pada Saga, tetapi Nora dengan cepat menangkis itu untuk suaminya. Kali ini, tatapan Hanah mengarah pada Nora, wajahnya terlihat seolah teebakar. Saga tak tinggal diam, dia melepas genggaman Nora pada tangan Hanah. Lalu, mengajaknya pergi dari tempat tersebut. Keduanya berusaha melindungi satu sama lain. Namun, hal itu membuat Hanah tampak benar-benar tak menyukainya. Tindakan Saga terlalu arogan baginya. “Sepertinya aku melihat cinta mulai tumbuh di antara mereka. Bukankah membatalkan pernikahan keduanya, akan berdampak buruk?” celetuk Utari seraya tersenyum miring. Hanah menoleh ke arah Utari dan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. “Anakku harus bersanding dengan wanita yang baik-baik dan keluarga baik-baik. Bukan anak seorang gundik,” sarkas Hanah. “Jaga mulut Anda, Nyonya!” hardik Utari, dia tak terima dengan apa yang dilontarkan Hanah. “Kamu yang harus menjaga sikap, Nyonya Dewangga!” balas Hanah, lalu pergi meninggalkan tempat itu. “Argh!” Utari benar-benar kesal dengan besannya. Perkataan wanita itu selalu saja tajam dan memghakiminya. Padahal, dia sudah berusaha bersikap baik selama ini. Ternyata, status sosial yang dia miliki, tidak mengubah apa pun di mata wanita itu. Insiden masa lalu, selalu menjadi pemicu Hanah untuk memakinya. “Memangnya salahku, jika Firmah lebih mencintaiku dibandingkan istrinya yang penyakitan, sial!” gerutu Utari lantas mengambil es kopi di meja dan mereguknya hingga tandas. *** “Kamu baik-baik aja, Nora?” tanya Saga, dia menggenggam erat tangan Nora yang terlihat masih gemetaran. Nora menggeleng, yang artinya dia sangat tak mengaharapkan situasi saat ini. “Aku memang sudah memikirkannya, tapi ini tetap terasa sulit untukku, Saga,” ungkap Nora, lalu menoleh ke arah Saga. “Maafkan aku, seharusnya aku datang lebih awal dan tidak membiarkan mereka menemuimu.” Saga menyesal, situasi harus berantakan seperti saat ini. Apalagi saat melihat Nora begitu tak ingin berpisah dengannya. “Maaf menyela, Bos. Haruskah kita pergi ke tempat yang lebih tenang dulu?” tanya Rivan yang saat ini berubah menjadi supor pribadi pasangan itu. “Kamu punya rekomendasi?” tanya Saga. “Tentu! Aku ahli dalam hal seperti itu,” sahut Rivan, penuh percaya diri. Sebenarnya, dia mencoba mencairkan suasana. Sebab, ini kali pertama untuknya melihat Saga bersikap seperti itu pada wanita. Sudah jelas, Saga sangat mencintai wanita yang belum dikenalinya itu. “Baiklah, antar kami ke sana.” Saga pun menyetujui itu. “Akan kukosongkan jadwalmu selama dua jam, apa itu cukup?” tanya Rivan. “Oke!” Rivan pun mengangguk setelah mendapat persetujuan dari Saga. Lalu, dia mengantarkannya ke tempat menenangkan yang dimaksud. Sementara itu, Saga masih sangat khawatir dengan keadaan Nora. “Kenapa kamu tidak mengatakan padaku jika ibumu dan ibuku mengajakmu bertemu? Aku kan bisa memberimu alasan untuk tidak menemui mereka.” Saga tampak khawatir, karena Nora masih terlihat sangat gelisah. “Enggak apa-apa, semuanya sudah terjadi,” jawab Nora, bahkan dirinya saja sedang tidak tenang. Namun, cukup jelas jika dirinya berusaha menenangkan Saga. *** Setelah sampai di sebuah resort dengan pemandangan yang cukup indah, Rivan pin membiarkan bosnya untuk menenangkan diri. Dia menutup semua akses yang akan mengganggu Saga. Terutama gangguan pekerjaan. “Aku akan menjemput Anda setelah dua jam, nikmati waktu Anda, Bos,” ujar Rivan. “Thank you!” Saga sangat berterima kasih atas bantuan asistennya itu, dia menepuk pundak pria yang lebih muda darinya sebagai apresiasi. Rivan cukup tanggap, dia juga tak bertanya tentang apa yang terjadi, atau kenapa Nora bukannya Megan. Dia bersikap layaknya asisten yang begitu loyal pada bosnya. Kadang, dia bersikap menyebalkan, tetapi saat ini dia bisa diandalkan. *** “Kenapa tidak menceritakannya padaku? Kenapa kamu tidak mengatakan kalau Megan sudah menghubungimu?” selidik Saga. Nora tersenyum pada Saga, lalu membelai wajahnya dengan lembut. Keduanya duduk di taman, dengan pemandangan indah dan menyejukan. “Kamu tahu kan, aku hanya peran pengganti. Sepertinya aku mulai serakah dan lupa diri, Saga. Aku takut, sangat takut,” ungkap Nora, matanya mulai berkaca-kaca. Butiran air asin mulai menggelayut di pelupuk mata berambut lentik itu. “Aku takut, saat memikirkan reaksi bahagiamu ketika peran utama dalam pernikahan ini datang. Aku takut, melihatmu dengan tenang meninggalkanku dan memilihnya, aku tahu itu tak boleh untukku, dan aku tahu ini akan terjadi cepat atau lambat. Namun, tetap saja, bagiku iti cukup sulit,” jelas Nora, tangisnya pun mulai terjatuh. Saga mengembuskan napas berat, tatapannya tak berpaling sedikit pun dari Nora. Hatinya begitu berdebar saat mendengar apa yang baru saja istrinya katakan. “Harusnya aku yang mengatakan cinta lebih dulu, kenapa kamu mencuri start?” ledek Saga, seraya mengusap air mata di wajah Nora. “Ck! Dasar bodoh!” Nora meninju pelan d**a bidang pria tampan itu. “Itu bukan pernyataan cinta,” tepis Nora. “Lalu apa?” tanya Saga, lalu mengarahkan Nora ke dalam dekapannya. “Aku tidak peduli, kamu peran pengganti atau apa pun. Bagiku, kamu tetap peran utamanya,” jawab Saga, memeluk Nora dengan erat dan mengecup pucuk kepalanya. *** Setelah membuat Nora tenang, Saga pun kembali bekerja. Namun, sebelum kembali ke kantor, Saga lebih dulu mengantar Nora pulang. Di perjalanan menuju kantor, Rivan pun melaporkan sesuatu pada Bosnya. Dia menyerahkan sebuah tab, yang layarnya menunjukkan informasi seseorang. “Jadi, dia anak pengusaha kaya raya?” tanya Saga memastikan. “Bukan hanya itu, ternyata dia putra dari rival Tuan Firman,” jelas Rivan. “Akh, sialan!” geram Saga, dia menutup tab itu dan menyimpan di dashboard mobil, lantas menyandarkan punggung ke sandaran jok dan memijat keningnya beberapa saat. “Apa Raditya Bagaskara mengusik Anda, Bos? Haruskah saya lakukan sesuatu?” tanya Rivan, penasaran. “Enggak usah, bukan Radit yang mengusikku, tapi pacarnya.” Saga yang sudah bingung harus bagaimana, akhirnya bercerita pada Rivan. Menurutnya, hanya dia yang bisa dipercaya dan diandalkan. “Mantan pacar Radit? Maksud Anda?” selidik Rivan. “Megan, dia hamil,” jelas Saga. Cit! Mendengar jawaban Saga, seketika Rivan menginjak rem yang membuat mobil berhenti mendadak. Badan kekar kedua pria itu tersentak ke depan dan hampir terbentur dashboard. “Anda menikahi adiknya dan menghamili kakaknya?” sembur Rivan, tentu dia langsung berkesempulan secara sepihak. “Aish! Mana ada!” sanggah Saga, tak terima dengan tuduhan tak berdasar yang dilontarkan pria bermata sipit itu. “Lalu?” desak Rivan. “Megan tidur dengan Radit, sekarang dia hamil, dan meminta aku menikahinya,” jelas Saga. “Apa?! Kenapa Anda harus menikahi wanita yang tidur dengan pria lain? Itu pembodohan!” protes Rivan tak terima. “Lagian, siapa yang mau menikah dengan Megan. Cukup Nora saja untukku,” sahut Saga. Ucapan Saga seketika membuat wajah asistennya tampak lebih lega. “Kupikir, Anda akan bertindak labil lagi. Aku tidak akan memaafkannya, jika bersikap seperti itu lagi, itu sangat tidak keren,” cerocos Rivan. “Sial, rupanya kamu pendendam!” cebik Saga. “Anda tahu kan, bagaimana perasaan saya pada Nona Adhara, tetapi saya sangat menghargai Anda. Jadi, tolong jangan sia-siakan kesempatan yang saya berikan. Sebab, mungkin saya akan maju jika Anda bersikap labil lagi,” oceh Rivan. “Oke oke, baiklah jangan bersikap sok keren di depanku!” sinis Saga, lalu tertawa kecil menggoda asistennya. Benar, Rivan dan Nora adalah teman saat kuliah. Entah ada rahasia apa di antara kedua pria itu, tetapi sepertinya mereka sangat mengerti satu sama lain. “Lalu apa rencana Anda untuk Megan? Jika keluarga Bagaskara terlibat, bukankah ini akan menjadi rumit?” Rivan mencoba mengingatkan bosnya tentang apa yang akan terjadi di masa depan. “Entahlah, aku pusing.” *** “Bisma Antariksa mengumumkan secara resmi pernikahan putra tunggalnya, Saga Dewa Antariksa, dengan Megan Ayudia Dewangga. Undangan akan disebar minggu ini, dan acara akan dilaksanakan secara meriah dan terbuka.” Sebuah berita sela tersiar di seluruh saluran televisi nasional. Nora yang tanpa sengaja menonton itu seketika lunglai. “Kenapa ….” Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN