Bab 2. Pria Misterius

1653 Kata
Malam pertama, kedua, ketiga, tidak ada yang spesial, Nora dan Saga hidup masing-masing seperti yang Saga inginkan. Pernikahannya hanya formalitas demi kepentingan keluarga masing-masing. Hari ini pun begitu, keduanya sarapan di meja yang sama, tetapi hening seperti biasanya. Nora sibuk berkecamuk dengan pikirannya. Sementara Saga masih sibuk menatap berkas, memeriksa beberapa pekerjaan yang tertunda. Hingga dering ponsel memecah kesunyian, Saga mengambil ponsel yang sebelumnya diletakkan di meja. Nora mencuri tatap ke arah suaminya, memperhatikan diam-diam, mengamati gestur dan mimik wajah pria yang selalu terlihat tegang itu. Tanpa diduga, Saga melirik ke arahnya, menangkap basah tingkah wanitanya. Sehingga membuat Nora tersentak dan berpaling, begitu salah tingkah. Akan tetapi, dengan dinginnya Saga mencelos dan beranjak dari duduk, tangannya masih sibuk dengan ponsel di telinga, sementara tangan lain menenteng tas kerja. Setelah menyadari Saga pergi, Nora pun menenangkan diri. Dia tak mengerti apa yang membuatnya bertindak seperti tadi. Padahal, tatapan itu sudah dia dapatkan berkali-kali. Namun, semakin ke sini itu semakin mendebarkan hati. “Sepertinya jantungku kurang sehat, akhir-akhir ini,” gerutu Nora, lantas bangkit dan membereskan piring-piring di meja, yang masih berisi sisa makanan. Gerakan tangannya terhenti, ketika mendapati berkas bermap biru tergeletak di meja. Benar, itu milik Saga, Nora tidak berani membukanya, tetapi dari judul yang tertulis di map, dia tahu jika itu berkas penting. “Kenapa Saga seceroboh itu?” gumam Nora. Dia mengambil berkas tersebut dan berusaha mengejar Saga. Namun, ternyata, mobilnya sudah menjauh. Nora pun kembali ke dalam untuk mengambil tas. Sembari jalan, gadis berambut panjang itu berniat menelepon Saga. Sialnya, dia tak menyimpan nomor suami. Selama ini, keduanya memang tak pernah saling berkomunikasi. Nora pun kebingungan, dan takut Saga marah jika dia datang ke kantornya. Namun, saat ini itu adalah pilihan satu-satunya. Akhirnya, Nora pun nekat pergi ke tempat suaminya bekerja, Antariksa Company. Nora membuka berkas sekilas, mencari alamat kantor suaminya. Lantas, dia pergi dengan mobil yang Saga belikan untuknya. Pria beralis simetris itu memang tidak pelit, hanya saja kata-katanya selalu menusuk, seperti seorang pembenci. Sial, Nora harus terjebak macet. Hingga membuatnya sedikit terlambat untuk mengantar berkas itu. Nora melirik jam di dashboard mobil dengan tatapan gelisah. Lututnya tak mau berhenti bergoyang, dan sesekali gadis itu menggigit kuku di jarinya. “Ayolah, ayolah, kumohon,” gumamnya. Dia memohon untuk kelancaran perjalanan atau apa, tetapi kecemasan jelas terpancar dari wajahnya. *** Sementara di sisi lain, Saga yang memang benci keterlambatan, selalu tiba tepat waktu. Saga melirik benda silver yang melingkari pergelangan tangan. “Sudah waktunya,” ucapnya, ketika melihat jarum jam berada tepat di angka sembilan. Seseorang mengetuk pintu dan membuatnya menoleh, dapat dia lihat sosok yang mengetuk pintunya dengan jelas. Ya, karena pintu kantornya terbuat dari kaca. Pria yang tampak lebih muda darinya itu membuka pintu, tanpa menunggu perintah Saga. Sepertinya dia memang orang yang Saga percaya. “Pagi, Bos! Ruang rapat sudah siap,” ucapnya. “Baiklah!” jawab Saga, tanpa basa-basi, dia pun hendak beranjak menuju ruang rapat. Baru selangkah, Saga meninggalkan ruanganya, tiba-tiba pria tampan berbibir merah muda itu berhenti. “Apa yang terjadi?” tanya pria muda tadi, saat melihat mimik Saga berubah kebingungan. “Berkasnya! Aku meninggalkan berkasnya,” oceh Saga seraya memutar tubuh atletisnya itu. “Berkas?” tanya pria yang mengikutinya. “Iya, materi untuk meeting hari ini,” jawab Saga sedikit berteriak, “sial, ini gara-gara wanita itu, kenapa harus menatapku seperti tadi, itu menakutkan.” “Tunggu sebentar, wanita siapa? Istrimu?” tanya pria yang bersamanya. “Ssstt!” Saga menekan telunjuk tepat di bibir pria yang berdiri di hadapannya. “Jangan kencang-kencang, Livan!” “Rivan, Bos, Rivan!” protesnya, karena Saga kerap mengejeknya seperti itu. Saga melepas jarinya, karena merasa geli. Lantas, dia kembali kebingungan karena berkas yang tertinggal. “Telepon saja istrimu, mungkin dia bisa mengantarkan untuk kita, biar aku memberi informasi jika rapat ditunda beberapa saat,” anjur Rivan tanggap. “Itu masalahnya!” teriak Saga, seraya memelototi Rivan. Namun, Rivan yang sudah terbiasa tak begitu terkejut dengan tingkah pria pemarah itu. “Apa?” tanya Rivan meminta penjelasan. “Aku enggak punya nomor telepon wanita itu,” ungkap Saga, wajahnya tiba-tiba menjadi datar. Rivan menatap bosnya dengan rasa tidak puas. Manusia perfeksionis itu, membuatnya kecewa untuk pertama kali. “Biar kuambil ke rumahmu,” ujar Rivan. Awalnya Saga terdiam, tetapi memikirkan jika Rivan akan bertemu Nora dengan cepat Saga mencegah Rivan pergi. “Jangan!” teriaknya. “Lalu mau gimana?” tanya Rivan. “Tunggu sebentar, biarkan aku berpikir,” ujar Saga. Di saat yang krusial, tiba-tiba pria penjaga keamanan datang menghampiri Saga dan Rivan. “Bos, maaf ….” “Diam!” sentak Saga dan Rivan secara bersamaan. Mereka yang bingung seketika menjadi kompak. Pria yang mengenakan setelan hitam itu pun terdiam, dengan tubuh yang sedikit gemetar dia menyodorkan berkas bermap biru di tangannya. Saga menoleh ke arah berkas itu, matanya membeliak seperti baru saja mendapat keajaiban. “Siapa yang mengantarkannya?” tanya Saga penasaran, seraya mengambil berkas tersebut. “Se-se-seorang wanita cantik, asisten rumah tangga Bos Saga,” jelasnya. “Asisten?” ulang Rivan, “itu is-” “Terima kasih, silakan kembali bekerja!” sela Saga. Setelah keamanan itu pergi, Saga pun kembali memarahi Rivan, karena mulutnya yang hampir membuka rahasianya itu. “Setidaknya kamu harus mengucapkan terima kasih pada istrimu, Bos!” ujar Rivan, seraya mengejar Saga yang kini sudah melenggang jauh menuju ruang rapat. “Aku tidak memintanya melakukan itu,” sahut Saga. “Tapi dia peka, kamu kayak batu,” ejak Rivan. “Diam!” “Batu!” “Livan!” *** Di perjalanan pulang, beberapa kali Nora melirik ke arah ponsel, dan berakhir dengan wajah kecewa. “Berharap apa aku ini?” ucapnya, lalu mengembuskan napas berat. Nora yang kebetulan keluar pun, berniat untuk menjenguk ayahnya lebih dulu. Ya, ayahnya mengalami demensia dan harus dirawat di sebuah panti, karena pria itu kerap menyakiti diri jika tidak ada yang mengawasi. Sore harinya, Nora kembali pulang. Tak ada yang aneh, sampai akhirnya ketika di jalan yang sepi, mobil yang dia kendarai tiba-tiba menambah kecepatan dengan sendirinya. Nora yang kaget, melepaskan kaki dari pedal gasnya, tetapi tak berpengaruh apa-apa. Nora pun panik. Dia semakin ketakutan ketika mobilnya benar-benar tak bisa dikendalikan. Nora berteriak histeris, meminta tolong, tetapi tidak ada yang mendengarnya. Mobil yang ditumpangi, berbelok ke jalan lain yang bukan arah ke rumahnya. Lalu, berhenti mendadak dengan sendirinya, membuat tubuh Nora tersentak ke depan hingga membentur kemudi. Tubuh Nora gemetar, dia mengangkat kepala perlahan dan menoleh ke sekeliling, benar-benar gelap. Tiba-tiba, seorang pria berpakaian hitam muncul dan berdiri di depan mobilnya, pria itu dengan brutal memukuli kaca mobil berkali-kali hingga pecah. Nora kembali kaget, dan hanya bisa berteriak. Dia ketakutan. Dalam kegentingan itu, Nora berusaha menghubungi polisi, untunglah itu direspon dengan cepat. “Tolong saya! Tolong!” Hanya itu yang keluar dari mulut gadis berambut panjang itu. Pria itu naik ke body mobil bagian depan, lalu merebut ponsel Nora yang membuatnya kembali berteriak. Pria itu memutuskan panggilan dengan polisi, dan mengetik sebuah nomor telepon yang ternyata nomor Saga. “Siapa kamu?!” teriak Nora. “Malaikat maut yang akan membunuhmu!” jawabnya. Pria itu menyeringai saat mendapati Nora tak menyimpan nomor Saga di ponselnya. “Jadi, benar, kamu hanya istri pengganti pria arogan ini, Adhara Elnora?” tanyanya, dengan nada penuh penekanan. “Dasar wanita bodoh, mau-maunya kamu dijadikan alat pertukaran,” ejeknya. Nora keheranan, tidak habis pikir pria itu bisa mengetahui semuanya. Padahal, hal itu sudah ditutup dengan rapat oleh kedua keluarga. “Saga Dewa Antariksa, kamu tak menginginkan wanita ini kan? Bolehkah aku membunuhnya?” ocehnya. Sementara pria itu menelepon, Nora berusaha keluar dari mobil dan kabur. Namun, pintu mobil terkunci dan tidak bisa dibuka. “Wanita mana katamu? Tentu saja istrimu, Bodoh!” “Kamu tidak menduganya, kamu tidak tahu aku menelepon dengan ponsel istrimu? Saga, Saga, jadi pernikahan ini benar-benar dipaksakan, hahaha!” “Kamu baru menanyakannya? Nora? Wanita itu, tenang saja, aku tidak akan membunuhnya saat ini. Tapi, akan kupastikan dia mati di tanganku!” Pria itu pun menutup panggilan telepon, lalu menyodorkan benda pipih itu ke arah Nora dari kaca mobil yang pecah. Setelah Nora mengambil itu, pria misterius itu pergi begitu saja. Sejurus, ponsel Nora bergetar membuat Nora tersentak dari ketegangannya. Teriakan kecil pun kembali terlontar. Untunglah penelepon itu adalah Saga, Nora menjawab, dan tanpa kendali dia menangis histeris meminta tolong pada suaminya. *** Di sisi lain, Saga yang mendengar Nora begitu ketakutan, segera mendatangi lokasi tempat Nora berada saat ini. Beruntung, Nora masih bisa diajak berkomunikasi dengan baik dan mengirimkan lokasinya. Panggilan itu masih tersambung, Saga melarang Nora mengakhiri panggilannya. “Aku akan segera sampai, kamu tetap tenang, dan perhatikan sekelilingmu, oke!” pinta Saga. “Cepatlah, aku takut pria itu kembali!” pinta Nora di sela tangisnya. “Okey! Kamu punya air di mobil? Sekarang minum dulu. Ingat, jangan mencoba keluar dari mobil dan lari.” Saga berusaha mengalihkan pikiran Nora, agar ketakutan wanita itu mereda. Setelah cukup lama di perjalanan, Saga pun melihat mobil Nora yang berhenti di jalanan menuju hutan. Dia membunyikan klakson, mengisyaratkan kehadirannya pada Nora. “Sial, ini pasti terencana!” ujar Saga, ketika melihat sekeliling begitu gelap dan sepi, bahkan tak ada satu pun kamera cctv yang terpasang di area itu. Setelah menghentikan mobil, Saga turun dan berlari ke arah Nora. Di dalam mobilnya, Nora masih ketakutan dan terkejut ketika Saga mengetuk jendela di sampingnya. “Jangan khawatir, ini aku!” ujar Saga, saat melihat Nora yang begitu panik. “Pintunya tidak bisa dibuka.” Setelah beberapa kali mencoba membuka pintu mobil, tetapi tetap tidak bisa. Saga pun melihat jendela depan mobil yang sudah pecah, dia melompat dan bermaksud mengeluarkan Nora lewat itu. “Naiklah!” pinta Saga seraya mengulurkan tangan, dia juga membersihkan pecahan kaca yang tersisa di bingkai jendela mobil Nora. Nora pun mengikuti instruksi Saga, seolah mempercayakan hidupnya pada lelaki beraroma maskulin itu. Setelah berhasil keluar, Nora tak bisa menopang bobot tubuhnya lagi, dia terkulai lemas dalam rangkulan Saga. “Nora! Nora!” Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN