Sahabat itu, bukan orang yang hanya sekedar bertanya karena ingin tahu dan setelah itu pergi, tetapi orang yang bertanya karena mereka perduli dan siap untuk memberikan dukungan saat dibutuhkan. Eldwin membuka matanya perlahan. “Shit.” Eldwin mengumpat, kepalanya terasa sangat berat, efek dari minuman keras yang ia teguk tadi malam. Mengingat tadi malam, entah Eldwin harus merasa bahagia atau tidak. Pasalnya, dalam hari yang sama dia merasakan emosi yang berbeda. Kemarahan dari masa lalunya, dan kepedulian yang diterima dari Elvy, kekasihnya. Evan masuk ke dalam kamarnya dan langsung berkacak pinggang. “Shalat shubuh oi, malah senyam senyum nggak jelas,” sembur Evan langsung. “Lo seneng banget ya lo bikin kita khawatir.” Kata-kata itu langsung meluncur begitu saja dari bibir Evan. Eldw

