Elvy melangkah dengan cepat. Sesekali ia berhenti untuk merapikan rambutnya, melihat penampilan diri melalui kaca di jendela kelas yang ia lewati. Di tangannya ada sebuah map, tentu isinya skripsi. “Sial,” gerutunya ketika melihat lingkaran hitam yang tidak juga tertutup meski ia menggunakan bedak. Rencana untuk melupakan Eldwin, berhasil. Awalnya. Setelah berjam-jam terlewat ia kembali menangis, entah di depan laptop, di depan mesin cuci, di depan kompor, bahkan di depan burung peliharaan tetangganya tangisan muncul. Parahnya lagi adalah, ketika melihat burung berpasangan dia baper, dan langsung mengatakan, Awalnya aja sayang, nanti juga ditinggal. Gila. Melihat penampilannya yang sudah lumayan, Elvy kembali bergerak, melewati beberapa orang ya

