Eldwin masuk ke dalam rumah Evan dengan tampang keruh. Di tangannya tergenggam ponselnya yang sejak tadi ia gunakan untuk menelpon Elvy. Wanita itu tidak mengindahkan panggilannya, berulang kali ia menghubunginya, tidak diangkat. Ia sadar kata-kata yang terlontar dari bibirnya, sedikit kelewatan. Hanya saja, itu yang sebenarnya. Elvy tidak tahu bagaimana perasaan Eldwin, perasaan seorang anak yang ditinggalkan oleh seseorang yang dicintainya. Kenapa wanita itu marah pada situasi yang tidak tepat? “Berantem kenapa lagi lo sama Elvy?” Langkah Eldwin terhenti, ia menoleh ke arah kanan, dan menemukan Evan sudah duduk manis di ruang tamu dengan pakaian santai. Ia bisa melihat Evan menatapnya penasaran, meski hanya satu kalimat yang terlontar di bibir

