Ruang tamu yang biasanya memberikan suasana menyenangkan saat tamu datang, kini terasa berbeda. Suasana yang tercipta mencekam, bisik-bisik terdengar dari kanan dan kiri. Beberapa pasang mata terasa mengamati dua orang yang masih saling bertatapan. Sudah terlewat beberapa menit setelah mereka memasuki rumah, tapi keduanya seakan masih nyaman dengan posisi itu. “Tuh mata kayaknya udah di kasih batre super, nggak cape saling pelototan terus. Kalau gue lebih baik pelototin tv daripada sesama laki, ngeri.” Atta bergidik membayangkan keduanya yang saling bertatapan dengan penuh perasaan. Mereka juga penuh perasaan, tapi perasaan yang ingin membunuh satu sama lain. Evan menggepak kepala Atta. Dirinya sebenarnya geli, mendengar celetukkan Atta yang tidak tepat pa

