Elvy melewati koridor dengan terburu-buru. Sambil berlari, sesekali dia melirik jam tangannya. “Sial,” umpatnya. Dia terus berlari, tak perduli bahwa rambut yang sudah dia tata rapi berantakan. Mata kuliah hari ini benar-benar sangat penting bagi Elvy, telat dia tidak akan dikasih masuk. Elvy berbelok ke kanan, menaiki tangga cepat. Beberapa kali dia hampir terpleset saking terburu-burunya. Dia kembali berbelok ke kanan lagi. Kelasnya berada pada di ujung lorong lantai dua. Ini semua gara-gara dia tidak bisa tidur karena rasa penasarannya akan perjanjian itu. Nafasnya terus memburu. Langkahnya otomatis berhenti ketika sedikit lagi dia sampai pada kelas mereka. Perlahan tapi pasti dia melongokan kepalanya, mengintip ke dalam kelas. Matanya melebar, saat kelas itu kosong. Ini

