Permaisuri di Atas Kertas

1344 Kata

Besok harinya, Arvind kembali menyetirku ke rumah orang tuanya. Begitu kami melangkah masuk ke ruang keluarga, keheningan menyergap seperti kabut dingin. Semua orang menoleh. Diam. Beku. Hening yang bisa memotong udara. Tanpa aba-aba, Arvind menarik tanganku ke sampingnya. Tubuhku nyaris tak sanggup berdiri tegak, tapi genggaman itu terlalu kuat untuk kulepaskan. “Perkenalkan,” ucapnya dingin, tajam seperti pisau es. “Ini istriku.” Seolah ia memperkenalkanku seperti selembar undangan kawinan murah yang dilempar di perempatan jalan. Nada suaranya datar. Hampa. Monik menatapku seperti aku adalah racun yang menyusup dalam rumah tangganya—dan ya, dia akan terus berpura-pura tidak tahu tentang skandalku dengan Sony. Topeng itu terlalu lekat di wajahnya. Seluruh keluarga Arvind terpana. Ter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN