Aku mengembuskan napas panjang, mencoba tetap tenang di hadapannya. “Kupikir tidak perlu, Pak. Kita tidak dalam hubungan yang seperti itu,” ucapku datar, nyaris tanpa ekspresi. Arvind menatapku tajam, lalu meletakkan sendoknya dengan pelan di atas piring. Namun bunyinya terdengar seperti palu godam di telingaku. “Itu menurutmu,” balasnya lirih tapi bergetar penuh tekanan. “Tapi menurutku berbeda. Kamu pikir aku datang jauh-jauh ke sini cuma untuk jalan-jalan? Aku ke sini untukmu, Sanaz. Aku ingin menjelaskan tentang… yang seharusnya terjadi antara kita.” Nafasnya berat. Suaranya perlahan menurun, namun tiap katanya menusuk. “Kamu salah paham soal pembicaraan dengan kakakku malam itu. Kamu cuma dengar sebagian. Aku menginginkan anak itu, Sanaz. Saat tahu kamu hamil… aku punya sejuta mi

