Menolak

1209 Kata
Tidak butuh waktu lama sampai dia datang lagi. Pria itu—Arvind Fariz Gumala—datang membawa ancaman lama yang masih menggantung di udara, menuntut jawaban yang selama ini kusimpan rapat-rapat. Jawaban untuk permintaan konyolnya—menikah denganku. Aku sudah memutar ribuan kemungkinan di kepala, mencari celah, mencari logika agar bisa keluar dari lingkaran ini. Tapi tidak ada jalan lain. Sejauh apapun pikiranku berlari, hatiku tetap berkata tidak. Tidak untuk lelaki itu. Tidak untuk keluarga mereka yang penuh luka, manipulasi, dan dendam. Aku berdiri di depan jendela apartemen, memandang langit Jakarta yang mulai meremang senja. Di kejauhan, lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, seperti bintang yang tumbuh di permukaan bumi. Tapi bagiku, semua itu hanya simbol kebebasan yang tak pernah bisa kuraih. Ketika langkah kaki Arvind terdengar mendekat, tubuhku refleks menegang. Bayangannya menjulang di ambang pintu kamar, sorot matanya tajam, seperti pisau yang siap menelanjangiku sampai ke dasar hati. Saat itu aku tahu, waktuku sudah habis. “Bagaimana?” tanyanya pelan, suaranya tenang, tapi tekanannya terasa seperti tambang yang perlahan melilit leherku. “Kamu sudah siap?” Aku membalikkan badan, menatapnya lurus, mencoba menahan getar di d**a. “Tidak jadi,” jawabku tegas, tanpa ragu sedikitpun. Sejenak dia mematung. Dahi tampannya mengernyit, seolah tak percaya telinganya sendiri. “Apa?” tanyanya dengan nada pelan tapi mengancam. “Aku tidak akan menikah denganmu,” ulangku, mengangkat dagu. “Aku punya jalan lain. Aku akan pergi. Aku akan tinggalkan Sony… dan kamu.” Tawanya pecah, dingin, nyaring, dan memuakkan. Seperti derai tawa iblis yang menikmati keputusasaan manusia. “Kamu pikir itu gampang?” Nadanya mengejek, mata tajamnya mengunci gerak-gerikku. “Sony punya kekuasaan. Dia bisa cium jejak kamu bahkan dari ujung dunia.” “Aku akan ke luar negeri.” Aku menatap matanya, mencoba menyembunyikan rasa takut yang masih tersisa. “Aku akan ubah identitasku. Aku akan mulai dari awal. Aku berjanji tidak akan muncul di kehidupan Sony lagi.” Dia mendekat, tatapannya melecehkan, jarak kami nyaris tak ada. “Lo kira lo lagi main film?” desisnya meremehkan. “Lo terlalu naif, Sanaz. Sony gak akan pernah ngelepasin wanita secantik lo begitu aja. Sayang, cantik-cantik pelakor,” ucapnya, setengah berbisik di telingaku, nadanya seperti racun yang mengalir ke otak. Aku menarik napas panjang, mencoba menahan amarah. “Dengar, Pak Arvind, kamu gak tahu apa-apa. Yang kamu tahu cuma cerita versi kakakmu. Aku gak pernah niat hancurin rumah tangga siapa pun. Sony yang datang ke aku. Awalnya dia ngaku belum nikah.” Arvind menyipitkan mata, wajahnya mengeras. “Lalu setelah lo tahu kebenarannya, kenapa gak kabur? Kenapa lo tetep bertahan?” Aku hampir kehabisan kesabaran. “Sony yang gak pernah ngasih aku pergi! Kamu denger gak sih? Dari tadi aku bilang dia yang nahan aku!” Wajah Arvind semakin gelap, tatapannya seperti badai. “Asal lo tahu, Sanaz,” desisnya, penuh kebencian, “gue gak peduli lo dipaksa atau rela. Faktanya, lo tidur sama laki-laki beristri. Kakak gue terluka. Itu cukup buat gue benci lo seumur hidup.” Aku menggigit bibir, menahan air mata yang mulai menggenang. “Apa kamu gak punya sedikitpun rasa kasihan? Aku juga korban di sini.” “Gak ada,” jawabnya dingin, setajam sembilu. “Karena lo bukan korban. Lo itu perusak. Titik.” Jemarinya menunjuk wajahku, gerakannya kasar. “Besok kita pergi dari sini. Gue bawa lo ke apartemen gue.” Ia meninggalkanku dalam diam. Hawa panas kebencian masih tersisa di udara. Tapi malam itu, aku tak lagi terpuruk. Untuk pertama kalinya, tekadku lebih kuat daripada ketakutanku. Aku tidak akan membiarkan lelaki seperti Arvind mengatur jalan hidupku. Aku tidak boleh lemah lagi. Semua ini demi Falen dan Zio—anakku. Demi dua jiwa kecil yang selama ini menjadi alasan aku bertahan hidup. Langit Jakarta sudah gelap total. Lampu-lampu jalan menyala, kota itu seperti tak pernah tidur. Suara kendaraan samar terdengar, di luar apartemen hotel murah yang kusewa dengan bantuan Iren. Mereka pikir aku menyerah, padahal malam ini adalah malam pelarianku. Aku mengambil tas kecil milik Iren. Isinya seadanya, dompet, kartu identitas palsu, dan uang sisa pengkhianatan mereka. Rasa sakit di dadaku kembali menusuk, mengingat Iren dan mami—dua orang yang seharusnya menjadi tempat pulang, justru mereka yang pertama menusukku dari belakang. Aku membuka pintu kamar penginapan perlahan, memastikan tak ada suara mencurigakan. Udara malam menyapa wajahku. Trotoar basah sisa hujan tadi sore memantulkan lampu jalanan. Langkahku ringan, tapi jantungku berdebar seperti genderang perang. Aku harus keluar dari kota ini. Dari hidup yang selalu membelengguku. Kalau perlu, aku akan menyeberang lautan, mencari tempat di mana aku bisa bernapas. Setiap langkah terasa seperti kemenangan kecil. Begitu kakiku menyentuh trotoar depan, aku merasa seolah rantai di kakiku terlepas. Angin malam menyapu wajahku, membisikkan kata-kata kebebasan. Tapi harapan itu hanya bertahan lima belas menit. Sebuah mobil hitam berhenti di ujung jalan, lampu depannya menyala terang, menusuk mataku. Pintu mobil terbuka—dan dari sana… dia keluar. Arvind. Wajahnya seperti badai yang baru meledak. Matanya—yang biaSanaza dipenuhi kecerdasan sinis—kini hanya menyimpan amarah membara. “b**o,” katanya datar, tapi suaranya seperti palu menghantam kepalaku. “Gue udah prediksi lo bakal kabur.” Aku memutar tubuh, bersiap lari. Tapi tangannya lebih cepat. Ia menarik lenganku kasar, menyeretku kembali ke mobil seperti aku bukan manusia, tapi sekedar barang tak berharga. “Lepas! Kamu gila!” teriakku, memberontak, tapi tenaganya terlalu kuat. “Lo pikir lo siapa?” bentaknya, membanting pintu mobil setelah mendorongku masuk. Wajahnya hanya beberapa jengkal dari wajahku, tatapannya penuh bara. “Gue udah cukup sabar.” Mobil melaju kencang. Jalanan Jakarta malam itu terasa panjang, sepi, mencekam. Di dalam mobil, aroma parfum maskulin Arvind tercampur dengan ketegangan yang menggantung di udara. “Lo bukan tahanan, Sanaz. Tapi lo buang-buang waktu gue.” Rahangnya mengeras, suaranya tajam seperti pisau. “Jadi mulai sekarang, gak ada pilihan. Kita menikah. Atau…” ia berhenti sejenak, menatapku tajam. “Gue serahin lo langsung ke Sony.” Dunia seperti berhenti berputar. Tubuhku mendadak dingin, keringat dingin mengalir di punggung. “Pilihannya cuma dua, Sanaz.” Suaranya begitu yakin, dingin seperti malam yang memeluk Jakarta. “Gue atau Sony. Dan percaya, gue jauh lebih baik dari dia.” Aku menatapnya penuh luka, bibirku bergetar. “Kalau kamu lebih baik… kenapa kamu jebak aku malam itu? Kenapa kamu tidur denganku cuma buat balas dendam?” Pertanyaan itu seperti pukulan telak. Arvind terdiam. Matanya menatapku lama, terlalu lama, hingga dadaku sesak oleh kecanggungan yang mencekik. “Karena gue pengen lo ngerasain gimana raSanaza dihancurkan dari dalam,” katanya akhirnya, suaranya pelan tapi menghantam seperti batu besar ke d**a. Aku memalingkan wajah ke jendela, menatap bayangan gedung-gedung yang melintas cepat. Hatiku perih. Aku membenci Arvind, tapi luka dari pengkhianatan Iren dan mama jauh lebih dalam, lebih tajam, lebih membunuh dari semua yang pernah Sony lakukan. Mobil berhenti tepat di depan apartemen mewah itu. Lampu-lampu gedung memantulkan bayangan suram di kaca mobil. Malam makin larut, tapi aku tahu, mimpi burukku baru saja dimulai. “Besok… kita ke KUA,” katanya, nadanya tetap dingin, penuh tekanan. “Lo gak akan bisa kabur lagi.” Aku menunduk, bibirku bergetar, tangan gemetar. Dunia sudah tak punya tempat aman lagi. Tapi dalam gelap malam ini, aku tahu, satu-satunya cahaya yang tersisa adalah tekadku untuk tetap hidup. Aku harus bertahan. Aku harus tetap hidup. Demi kedua anakku. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN