RED DAWN.

2468 Kata
Kami  bercinta  habis-habisan  sesudah insiden  didalam club semalam. Dan  terbangun tepat satu jam setelah matahari  terbit. Ash ingin kami meninggalkan hotel secepatnya, dia  mendapat firasat buruk setelah kejadian semalam dan ingin  kami cepat-cepat pergi dari Fall  Faye  secepatnya. Tepat  pukul 07.30 kami telah  usai berkemas, check-out  dan  bergegas  masuk kedalam  mobil tanpa banyak  bicara. Ash telah menentukan  tujuan kami berikutnya, Red  Dawn.       Masih  didalam  area California  timur, hanya butuh  tiga jam perjalanan  darat dari Fall  Faye. Kami  memutuskan  tidak melewati  Rute 66, dan memakai  jalan umum. Menurut Ash, tempat  ini merupakan kota kecil indah tersembunyi  diantara dua bukit. Ash mendapatkan lokasi Red  Dawn berkat informasi dari website resmi pariwisata  California.      “ Kamu  akan menyukainya” tukas  Ash menoleh padaku, jemariku terbungkus erat  didalam kehangatan tangan kekarnya.      “ Aku  selalu percaya  padamu” jawabku tersenyum. Bermalas-malasan  pada sandaran kursi. Kemudian menguap lebar.      Tertawa, Ash  menyahut. “ Tidurlah, perjalanan  kita masih lama. Nanti akan kubangunkan  jika sudah sampai”      Kali  ini aku  tak membantah. Rasa  lelah, kurang tidur, dan  kecemasan selama beberapa  hari terakhir telah menumpuk  menjadi satu dan mencapai batasnya. Mengangguk, aku  mulai membiarkan angin serta alam membuaiku. Menciptakan sensasi  menenangkan. Hingga rohku tertarik kedalam dunia lain. ***************************      Ash  membangunkanku  beberapa menit sebelum  kami mencapai perbatasan  menuju jalan masuk kota Red  Dawn. Satu kata untuk menggambarkan  tempat ini.      Menakjubkan      Sepanjang  perjalanan dari  gapura menuju pintu  masuk kota utamanya mataku  di manjakan oleh pemandangan keindahan  bunga aneka warna dan jenis yang ditanam  diatas tanah berhektar-hektar dikedua sisi jalan  rayanya.       Anggrek, melati, mawar  aneka warna, tulip, bunga  matahari, lily, chrysanthemum  beragam macam, dan masih banyak  lagi bunga jenis lain dikumpulkan  dalam satu area dikelompokkan berdasarkan  warna. Wangi keharuman beragam bunga berkumpul  jadi satu memenuhi paru-paru saat kaca jendela  kuturunkan, rasanya aku tak membutuhkan parfum dan  merasa ingin selalu hidup ditempat ini.      Ash  memperlambat  laju mobilnya  saat kami tiba  didepan gerbang masuk kota. Dua  orang polisi bertubuh sama-sama tinggi  dan kekar menghampiri kami, yang satu berkulit  gelap sementara temannya merupakan kebalikan. Dia  menurunkan kaca jendela, kedua petugas tersebut tersenyum  ramah.       Setelah  berbasa-basi  sebentar mengenai  tujuan kami ke kota  mereka, kamipun mendapatkan  informasi mengenai penginapan  bagus dengan harga terjangkau disini. Namanya  Black  Sakura. Terletak  disebelah barat  kota, disamping kebun  bunga Sakura. Kata mereka, pemiliknya  memiliki teh bunga sakura terenak didunia. Seperti  mereka pernah mencoba versi asli dari negaranya saja.      Perjalanan  berikutnya terasa  semakin menyenangkan. Red  Dawn  layak  mendapatkan  sorotan lebih  karena keindahan  kotanya. Bangunan berjejer  rapi. Jalannya begitu mulus, dengan  lalu lintas teratur. Udaranya sejuk bebas  dari polusi, aneka jenis pohon ditanam disepanjang  jalan memberikan kerindangan.Masyarakat kota yang berlalu lalang kebanyakan  memilih berjalan kaki dan bersepeda, hanya segelintir orang memakai kendaraan  beroda dan bermesin, itupun kebanyakan dari mereka adalah turis dilihat dari plat  nomornya.      Mobil  menikung  pada pertigaan  pertama menuju pusat  kota. Disebelah kanan terdapat  sederet ruko sebagai pusat perbelanjaan  mulai dari boutiq, swalayan, toko obat 24  jam, hingga berbagai macam kafe dan restaurant. Diseberangnya  berdiri sebuah rumah sakit kota dengan bangunan modern. Sebuah  tugu bergambar rangkaian bunga raksasa dibangun tepat dititik tengah  kota.       Menurut  plang penunjuk  arah, lurus akan  menuju gedung Walikota  sekaligus kawasan perkantoran  dan alun-alun utama.Kiri daerah  perumahan perumahan warga, sekolahan, tempat  pemakaman kota. Mengikuti petunjuk, Ash mengambil  lajur kanan yang merupakan areal perkebunan sekaligus  tempat tujuan wisata Red  Dawn.      Dari  dalam mobil  aku bisa melihat  interaksi antar warganya. Mereka  tampak sangat ramah, ceria, begitu  bahagia seakan mereka hidup didalam  surga. Menyenangkan  melihatnya, mengingat  hanya awan mendung yang  selalu menggantung ditempat  tinggalku.      Kendaraan  melaju pada  kecepatan rendah  ketika memasuki daerah  arus padat mendaki, aneka  kebun bunga serta beragam  model motel berjejer indah disepanjang  jalan. Ketika mobil kami mencapai ujung perempatan  menuju jalan raya besar, tampaklah papan penunjuk berkilauan  berwarna emas dengan tulisan hitam besar-besar ‘ Black  Saku-ra Boarding  House’  diikuti  gambar anak  panah kekanan.       Kami  segera  menemukan bangunannya  besar memanjang, bergaya machiya, alias  rumah tradisional  Jepang. Beratap melengkung, berbahan  marmer ungu muda, berdiri di depan kebun  sakura sekitar sehektar. Jelas paling mencolok  serta menarik minat pengunjung dibanding penginapan  lainnya.      Halaman  depannya cukup  penuh dijejali berbagai  macam kendaraan. Tak heran  jika kota ini kebanjiran wisatawan  mengingat sekarang menjelang akhir pekan  dan nanti malam akan diadakan festival besar  tahunan yang pastinya bakal menyedot banyak perhatian  turis maupun warga lokal.      Ash  memarkir  mobil disamping  sedan abu-abu tahun  70’ an. Kami turun bersamaan, perutku  seakan melompat naik ketika tangannya melingkar  mengelilingi pinggangku. Terlihat sangat tampan dan  protektif disaat bersamaan.Kami melewati air mancur  berisi lotus merah, beragam tanaman hias dijejer rapi  pada sepanjang jalan menuju lobi. Banyak tamu dan pegawai  hotel berbaju kimono dengan satu motif serta warna biru untuk  pria dan merah bagi wanita, berlalu lalang didalam ruang tunggunya.       Setibanya  dimeja resepsionis, seorang  gadis muda kutebak lebih muda dariku  menyapa kami ramah. Kuperhatikan, dia satu-satunya  yang memakai kimono warna berbeda dari pegawai lainnya, ungu  tua. Melalui papan nama diatas dadanya, aku mengenalinya sebagai  Yuki. Nama yang bagus, aku sempat belajar bahasa Jepang, dan arti  Yuki adalah salju.       “ Selamat  datang di penginapan  Black  Sakura, suatu  kebanggaan  anda datang  kemari. Adakah  yang bisa saya  bantu?” suara Yuki  begitu merdu dan lembut. Dia  lebih pantas menjadi idola ketimbang  resepsionis biasa.      Yuki  adalah  tipikal gadis  Asia yang bakal  membuat lelaki dari  belahan dunia manapun  bertekuk lutut. Meskipun  bertubuh mungil ( karena dia lebih pendek dariku ) Yuki  mempunyai rahang ovale bertulang kecil, dengan kulit mulus berwarna  putih langsat. Bibirnya kecil dan ranum, sewarna buah tomat. Pipinya  kemerahan dan kuduga itu asli bukan akibat tambahan blush-on. Yuki  juga memiliki  mata yang akan  membuat gadis manapun  iri. Bulat besar, dengan  sepasang iris sehitam berlian. Rambutnya  tiga kali gradasi warna lebih gelap daripada  milik Ash, digulung jadi satu dipenuhi hiasan sakura. Dalam  waktu sekejab saja aku langsung menyukai anak ini.      Tidak  hanya karena  dia cantik alami. Namun  Yuki memiliki aura bernuansa  putih, memandang wajahnya mampu  membuatku merasa damai. Dan jelas, Yuki  adalah satu dari sedikit perempuan langka  yang tak terpengaruh pada penampilan fisik Ash. Aku  bisa menyatakan jika Yuki gadis yang baik. Kurasa, Ash  juga merasakan hal sama.       Sikutan  Ash pada  lengan kananku  segera membuatku  tersadar. Membuat Yuki  tertawa manis didepan kami. Bagus, aku  tadi pasti melongo memandangi seorang gadis cantik. Membuatnya  berpikiran buruk tentangku.      “ Ya, tentu  saja. Berikan  kami kabar terbaik  tempat ini” jawab Ash.       Yuki  bahkan  hanya mengangguk  satu kali dan segera  beralih pada komputernya. “ Anda  beruntung, masih ada dua kamar royal family  yang kosong” tukasnya tanpa mengalihkan pandangan  pada layar. Yuki menunduk secepat kilat untuk mengambil  sesuatu dibawah mejanya. Saat kembali memandang kami dia berkata. “ Mari  saya antarkan”      Yuki  membawa  kami melalui  jalur belakang, seorang  pelayan laki-laki mengikuti  dibagian paling belakang sambil  menggeret kereta dorong berisi bawaan  kami. Melewati lorong panjang berisi sederetan  lukisan besar-besar dimana didalamnya terdapat gambar  sepasang Suami Istri keturunan Jepang dengan seorang gadis  cilik yang langsung membuat mataku membelalak.           “ Apa  anda putri  pemilik penginapan  ini?” tanyaku tak bisa  menahan diri, masih mengikuti  Yuki.       Yuki  menoleh  pada kami  sambil tersenyum, tak  menghentikan langkahnya. “ Ya, nama  belakangku Shiginuchi. Kedua Orang Tuaku  adalah pendiri penginapan ini. Mereka pindah  dari Okinawa, Jepang kemari dua tahun sebelum aku lahir. Aku  besar dan tumbuh disini. Meski tinggal di Amerika, tapi jiwaku  tetaplah orang Jepang” lalu pandangannya beralih kembali ke depan.      “ Harus  kuakui aku  kagum padamu, sangat  jarang anak muda zaman  sekarang masih memiliki nasionalisme  setinggi dirimu” puji Ash sungguh-sungguh.      Yuki tampak  tertawa didepan  kami. “ Trims, kalian  juga pasangan muda yang  serasi. Kupikir jaman sekarang  tak ada lagi pemuda bisa dipercaya”  dia menoleh dan mengerlingkan satu matanya  padaku. Membuat wajahku memerah.           Halaman  belakangnya  berupa jalan  satu tapak yang  menghubungkan puluhan  bungalow  bergaya  khas Jepang  tersebar melintang  disepanjang sisi lajur  kanan, seperti sudah terisi  penuh, aku tahu dari suara-suara  gaduh yang dibuat dari setiap ruangannya.       Yuki  berhenti  disebuah bungalow  berpapan nomor duapuluh dua, mengeluarkan  kuncinya kemudian membukakan pintunya untuk  kami lalu memberikan tur singkat. Interiornya  didesain etnik dengan beragam hiasan terbuat dari  kayu tersebar, selain lampu utama terdapat penerangan  tempel bercahaya kuning yang hanya dihidupkan jika mau saat malam. Sebuah  ruang keluarga berisi sofa beludru coklat, karpet bulu ayam hitam, penghangat  beserta kayu bakarnya, meja besar berisi koleksi buku dan majalah disudut.       Ruangan  makannya terdiri  dari sebuah meja panjang  berkaki empat dengan empat  kursi, semuanya berbahan mahogani. Terakhir  kamar kami, yang tak kalah bernuansa indian, hiasan  kepala rusa pada dinding atas,sebuah kasur double king  size lengkap dengan tirai putihnya. Terakhir, tapi paling penting, kamar  mandi. Sangat indah didesain bernuansa alam dengan hiasan dinding berupa  bebatuan alam serta tanaman bambu mini berjejer sebagai hiasannya.      “ Semoga  anda nyaman  berada disini, dan  kami harap pelayanan  kami bisa memuaskan” ujarnya  sopan.      “ Terimakasih, tempat  ini luar biasa” jawab  Ash seperlunya.      “ Ah, saya  hampir lupa. Karena  anda berdua baru disini  jadi mungkin belum tahu jika, nanti  setelah matahari terbenam warga kota akan  mengadakan acara tahunan yang dihadiri seluruh  penduduk dibagian alun-alun utama. Perayaan  Malam Api  Unggun. Acara  setahun  sekali ini  merupakan tradisi  leluhur sebagai salah  satu ucapan syukur atas  hasil panen selama musim panas. Ini terbuka  untuk umum, saya harap anda berdua takkan melewatkannya”      Aku  dan Ash  saling bertatapan, jelas  merasa tertarik. “ Tentu saja, kami  akan datang” kataku, masih memandang Ash. Lalu  Yuki lagi sekilas.      Yuki  tersenyum, lalu  mengeluarkan sesuatu  dari dalam saku kimononya  dan mengu-lurkannya padaku. “ Khusus  hari ini penginapan akan tutup pukul 16.00  karena itu setiap semua pengunjung wajib membawa  kunci cadangan untuk masuk kedalam penginapan”      Aku  mengambilnya  dan memberinya  ucapan terimakasih.  Yuki memberi salam sekali  lagi sebelum menutup pintu. Kami  mendengar langkah zori ( sandal  khas jepang  terbuat dari anyaman  warna-warni ) menjauh.       “ Dia  gadis yang  menyenangkan” kataku  terus terang.      “ Oh  coba lihat. Siapa  bilang Aiyana Achak  adalah musuh setiap wanita” godanya.      Merasa  kesal, aku  mencubit perutnya  keras-keras hingga Ash  mengerang. “ Jika itu berurusan  denganmu. Sudah ah, aku mau mandi. Jangan  mengikutiku kali ini” tukasku galak. Dan tawa  Ash meledak ketika sudah berada didalam kamar  mandi.  ************      Seusai  mandi, kami  memutuskan menjelajahi  ladang bunga sakura. Aku  sudah mengganti atasanku dengan  sweater putih kaos putih lengan panjang  dan celana jeans kulit hitam. Sementara Ash  memakai kaus pas badan hijau muda plus jaket  kulit hitam, dia tidak mengganti celananya. Terlihat  semakin keren dengan kamera digital SLR milikku menggantung  dilehernya.      Satu  tangan  Ash merangkul  pundakku sementara  tangannya yang lain  menggengam erat kameranya, kami  berjalan menuruni undakan menuju  jalan masuk ladang bunga. Kekasihku  tengah asyik mengambil potret pemandangan  sejak tadi.      Aku  belum  pernah menyentuh  bunga sakura asli  seumur hidupku, meskipun  tidak suka warnanya karena  pink tapi harus kuakui tanaman  satu ini sungguh indah. Uniknya, tidak  semua tumbuhan sakura didalam ladang ini  merah muda. Ada beberapa pohon justru berwarna  putih dan merah darah. Perpaduannya sangat indah.          Kulihat  Ash amat  fokus pada  kumpulan burung  yang bergerak diatas  awan menuju kearah barat. Kemudian  terdengar bunyi ‘klik’ nyaring sebanyak  tiga kali. Kupandangi dirinya penuh kekaguman. Menyadari  tengah kuperhatikan, Ash akhirnya berhenti memotret sambil  berkata padaku. “ Bergayalah...” Berlagak seperti fotografer  ternama.      Aku  tertawa  mengikuti  permintaanya. Beberapa  menit kemudian dia mulai  sibuk mengambil gambarku. Berbagai  pose diantara beragam jenis dan macam  warna bunga, duduk, berdiri, bersila, tertawa, marah, hingga  pose terjelek sekalipun. Namun favoritku adalah ketika dia  berhasil menangkap fotoku yang tengah berdiri menengadahkan langit dengan  mata terpejam, dibawah hujan bunga sakura. Itu merupakan suatu kebetulan.      Kami  berhenti  disaat udara  hangat sore awal  bulan September berhembus. Kelelahan, kami  berdua memutuskan duduk pada area terbuka  berumput pendek lembut dipenuhi berbagai macam  warna bunga liar kecil tumbuh. Kubuka tas bahu kecilku  dan mengeluarkan beberapa coklat bar plus teh s**u kemasan  diatas rumput.      Ash  menyambar  sekotak teh  s**u lalu meminumnya  sampai habis, aku tertawa  melihat kelakuannya. Ketika kami  selesai makan, Ash berbaring disampingku. Kedua  irisnya menatap tepat kedalam mataku, tangannya menjalar  masuk kedalam sweaterku, membelai lembut perutku. Ini isyarat  halus namun cukup bagiku.       Aku  merasakan  kebutuhan di  perutku, gairahku  meningkat ketika tangan  Ash menelusuri bagian bawah  pinggang hingga tulang belikatku. Aku  berdiri dan menarik lepas sweater dari  atas kepalaku,melepaskan ikat pinggang dan  Ash membantuku menarik lepas celanaku. Api didalam  mata Ash adalah nafsu. Aku berdiri diatasnya, masih memakai  pakaian dalamku, memberinya perintah agar melakukan hal yang sama. Tanpa  memprotes Ash melakukannya.      Lokasi  kami tersembunyi, dan  ini memberikan kami keberanian  lebih untuk bertingkah seperti sekarang. Telanjang  bulat ditengah-tengah ladang sakura disebuah kota kecil  selatan California. Katakan aku gila, tapi inilah hal terhebatnya.      Kemudian,kami  berdua mencengkram  satu sama lain,lengannya keras,membuatku nyaman, ereksinya  membesar diantara kami. Aku mencapai kejantanannya, memegangnya  di dalam kedua tanganku dan mendesah padanya.      Dia  mencium  pundakku, terus  turun ke dadaku, dan  area sekitar kulitku yang  menegang akibat putingku menegak. Berlutut  didepanku, menyentuhkan dirinya diantara kakiku  sehingga lenganku membuka lebar, kedua tanganku berada  pada pundaknya.      Ash  membelai  bulatan menggunakan  tangannya, membawa jarinya  disekitar pinggangku untuk membuka  lebar pahaku, dan membuka kewanitaanku  yang lembab memakai mulutnya. Aku melenguh, lututku  limbung ketika dia mencelupkan lidahnya kedalam diriku, memutari  intiku yang sensitif kemudian menjentikannya dengan kelincahan. Ujung  lidahnya tak henti-henti menyerempet pintu masukku, meluncur kedalam, memutar  sekitarnya untuk menyentuh area kewanitaanku.       Getaran  dilututku  meningkat. Dia  menangkapku dengan  lengannya, membaringkanku  di atas kain. Aku menautkan  jariku pada rambutnya ketika  Ash membawaku ke tepian o*****e.       Aku  melenguh  saat jari-jarinya  basah oleh cairanku. Meluncur  keluar dari intiku, mencari celah  serta kulit meregang dibelakangnya. Ash  menemukan pembukaanku lain nya, ketat dan  keras. Dia menyapukan lidahnya, menggodaku, kemudian  dia melakukan tekanan lembut, menggeliatkan jarinya hingga  bagian pembukaku meregang lebih lebar sedikit demi sedikit. Aku  mengerang keras pada sensasi itu, merasakan o*****e membelok didalamku. Sesaat  sebelum tekanan menggelembung didalamku, aku merangkup wajahnya kemudian menaikkannya  hingga kami bertatapan.      “ Aku  ingin dirimu  Ash! Sekarang! Didalamku”  perintahku keras      Ash  terkekeh, tampak  gembira menikmati  permainannya padaku  berhasil. Ash merendahkan dirinya  ke arahku. Menggunakan lengannya sebagai  tumpuan, menciumku. Aku menemukan kejantanannya  dengan jari-jariku yang mencari dan mengarahkannya. Menikmati  kelembutannya ketika masuk, dan denyutan batangnya yang meluncur  kedalam. Ash membisikkan namaku, mendapatkan ritme seimbang denganku  pada awalnya pelan. Dia bergetar oleh kebutuhan, tubuhnya terguncang diatasku  hingga menjadi tekanan cepat.      Ash mulai  mendorongnya  semakin cepat  ketika nafasku menjadi  desahan tak teratur. Kakiku  terangkat keatas, melilitkannya  disekitar pantatnya yang menegang  serta menarik rapat. “ Oh Tuhan....” pekiknya  menusuk lebih dalam saat setiap suku kata diucapkan.      Kejantanannya  yang besar didalam  diriku, lengannya disekitarku, suaranya  ditelingaku hanya menyebutkan namaku serta  kata-kata cinta. Perasaanku membuncah menjadi  gelembung pelangi luar biasa besar. Seakan mengurung  kami berdua dengan ketebalan tembok raksasa Cina. Ash  tanpa belas kasihan, tangan dan mulutnya pada putingku, kasih  sayangnya memenuhiku dan aku menangis karena pancaran sorot mata  yang dia berikan saat ini murni cinta.       Kemudian  ledakan besar  itu terjadi. Gelembung  itu pecah. Tapi kami tak  menjadi berkeping-keping, justru  sebaliknya. Rangkaian puzzle yang  telah utuh dan disusun sempurna. Ash  jatuh disampingku, menarikku kedalam pelukannya, menghujamiku  dengan ciuman lembut. Tangan besarnya memenuhi wajahku, matanya  dengan tulus mengatakan segala hal yang selama belasan tahun sempat  dia pendam.             “ Jangan  pernah pergi. Meninggalkanku. Menghilang. Melepaskanku. Apapun  itu yang berhubungan dengan perpisahan kita. Jangan  pernah melakukannya, karena  aku takkan pernah menyerah untukmi. Baik  sekarang, ataupun nanti”      Hatiku  dipenuhi  rasa haru.      Aku  bukan  tipe gadis  yang gampang  terayu kata-kata  manis laki-laki, tapi  dengan pemuda satu ini  segalanya berbeda. Semua ucapannya, segala  tindakannya. Murni kejujuran dan ketulusan.      Ash  selalu  menjadi pertama  untukku.      Ciuman  pertamaku....      Pelukan  pertamaku....      Kekasih  hatiku.....      Serta  satu-satunya  pria yang akan  selalu kuserahkan  tubuh dan jiwaku.      Ash  menghapus  air mataku  dari pipiku, diantara  isakan dan tawa aku menjawab. “ Tentu  saja, aku terlalu mencintaimu untuk bisa  melepaskanmu. Kurasa, mereka harus melepaskan  jiwa kita dulu baru aku mau berpisah denganmu”      Wajah  Ash melembut. Kali  ini aku bergelung didalam  kehangatan dadanya. Merasakan  detak jantungnya. Mendengarkan debur  didalam pembuluh darahnya. Tuhan, aku sangat  mencintainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN