Kami bercinta habis-habisan sesudah insiden didalam club semalam. Dan terbangun tepat satu jam setelah matahari terbit. Ash ingin kami meninggalkan hotel secepatnya, dia mendapat firasat buruk setelah kejadian semalam dan ingin kami cepat-cepat pergi dari Fall Faye secepatnya. Tepat pukul 07.30 kami telah usai berkemas, check-out dan bergegas masuk kedalam mobil tanpa banyak bicara. Ash telah menentukan tujuan kami berikutnya, Red Dawn.
Masih didalam area California timur, hanya butuh tiga jam perjalanan darat dari Fall Faye. Kami memutuskan tidak melewati Rute 66, dan memakai jalan umum. Menurut Ash, tempat ini merupakan kota kecil indah tersembunyi diantara dua bukit. Ash mendapatkan lokasi Red Dawn berkat informasi dari website resmi pariwisata California.
“ Kamu akan menyukainya” tukas Ash menoleh padaku, jemariku terbungkus erat didalam kehangatan tangan kekarnya.
“ Aku selalu percaya padamu” jawabku tersenyum. Bermalas-malasan pada sandaran kursi. Kemudian menguap lebar.
Tertawa, Ash menyahut. “ Tidurlah, perjalanan kita masih lama. Nanti akan kubangunkan jika sudah sampai”
Kali ini aku tak membantah. Rasa lelah, kurang tidur, dan kecemasan selama beberapa hari terakhir telah menumpuk menjadi satu dan mencapai batasnya. Mengangguk, aku mulai membiarkan angin serta alam membuaiku. Menciptakan sensasi menenangkan. Hingga rohku tertarik kedalam dunia lain.
***************************
Ash membangunkanku beberapa menit sebelum kami mencapai perbatasan menuju jalan masuk kota Red Dawn. Satu kata untuk menggambarkan tempat ini.
Menakjubkan
Sepanjang perjalanan dari gapura menuju pintu masuk kota utamanya mataku di manjakan oleh pemandangan keindahan bunga aneka warna dan jenis yang ditanam diatas tanah berhektar-hektar dikedua sisi jalan rayanya.
Anggrek, melati, mawar aneka warna, tulip, bunga matahari, lily, chrysanthemum beragam macam, dan masih banyak lagi bunga jenis lain dikumpulkan dalam satu area dikelompokkan berdasarkan warna. Wangi keharuman beragam bunga berkumpul jadi satu memenuhi paru-paru saat kaca jendela kuturunkan, rasanya aku tak membutuhkan parfum dan merasa ingin selalu hidup ditempat ini.
Ash memperlambat laju mobilnya saat kami tiba didepan gerbang masuk kota. Dua orang polisi bertubuh sama-sama tinggi dan kekar menghampiri kami, yang satu berkulit gelap sementara temannya merupakan kebalikan. Dia menurunkan kaca jendela, kedua petugas tersebut tersenyum ramah.
Setelah berbasa-basi sebentar mengenai tujuan kami ke kota mereka, kamipun mendapatkan informasi mengenai penginapan bagus dengan harga terjangkau disini. Namanya Black Sakura. Terletak disebelah barat kota, disamping kebun bunga Sakura. Kata mereka, pemiliknya memiliki teh bunga sakura terenak didunia. Seperti mereka pernah mencoba versi asli dari negaranya saja.
Perjalanan berikutnya terasa semakin menyenangkan. Red Dawn layak mendapatkan sorotan lebih karena keindahan kotanya. Bangunan berjejer rapi. Jalannya begitu mulus, dengan lalu lintas teratur. Udaranya sejuk bebas dari polusi, aneka jenis pohon ditanam disepanjang jalan memberikan kerindangan.Masyarakat kota yang berlalu lalang kebanyakan memilih berjalan kaki dan bersepeda, hanya segelintir orang memakai kendaraan beroda dan bermesin, itupun kebanyakan dari mereka adalah turis dilihat dari plat nomornya.
Mobil menikung pada pertigaan pertama menuju pusat kota. Disebelah kanan terdapat sederet ruko sebagai pusat perbelanjaan mulai dari boutiq, swalayan, toko obat 24 jam, hingga berbagai macam kafe dan restaurant. Diseberangnya berdiri sebuah rumah sakit kota dengan bangunan modern. Sebuah tugu bergambar rangkaian bunga raksasa dibangun tepat dititik tengah kota.
Menurut plang penunjuk arah, lurus akan menuju gedung Walikota sekaligus kawasan perkantoran dan alun-alun utama.Kiri daerah perumahan perumahan warga, sekolahan, tempat pemakaman kota. Mengikuti petunjuk, Ash mengambil lajur kanan yang merupakan areal perkebunan sekaligus tempat tujuan wisata Red Dawn.
Dari dalam mobil aku bisa melihat interaksi antar warganya. Mereka tampak sangat ramah, ceria, begitu bahagia seakan mereka hidup didalam surga. Menyenangkan melihatnya, mengingat hanya awan mendung yang selalu menggantung ditempat tinggalku.
Kendaraan melaju pada kecepatan rendah ketika memasuki daerah arus padat mendaki, aneka kebun bunga serta beragam model motel berjejer indah disepanjang jalan. Ketika mobil kami mencapai ujung perempatan menuju jalan raya besar, tampaklah papan penunjuk berkilauan berwarna emas dengan tulisan hitam besar-besar ‘ Black Saku-ra Boarding House’ diikuti gambar anak panah kekanan.
Kami segera menemukan bangunannya besar memanjang, bergaya machiya, alias rumah tradisional Jepang. Beratap melengkung, berbahan marmer ungu muda, berdiri di depan kebun sakura sekitar sehektar. Jelas paling mencolok serta menarik minat pengunjung dibanding penginapan lainnya.
Halaman depannya cukup penuh dijejali berbagai macam kendaraan. Tak heran jika kota ini kebanjiran wisatawan mengingat sekarang menjelang akhir pekan dan nanti malam akan diadakan festival besar tahunan yang pastinya bakal menyedot banyak perhatian turis maupun warga lokal.
Ash memarkir mobil disamping sedan abu-abu tahun 70’ an. Kami turun bersamaan, perutku seakan melompat naik ketika tangannya melingkar mengelilingi pinggangku. Terlihat sangat tampan dan protektif disaat bersamaan.Kami melewati air mancur berisi lotus merah, beragam tanaman hias dijejer rapi pada sepanjang jalan menuju lobi. Banyak tamu dan pegawai hotel berbaju kimono dengan satu motif serta warna biru untuk pria dan merah bagi wanita, berlalu lalang didalam ruang tunggunya.
Setibanya dimeja resepsionis, seorang gadis muda kutebak lebih muda dariku menyapa kami ramah. Kuperhatikan, dia satu-satunya yang memakai kimono warna berbeda dari pegawai lainnya, ungu tua. Melalui papan nama diatas dadanya, aku mengenalinya sebagai Yuki. Nama yang bagus, aku sempat belajar bahasa Jepang, dan arti Yuki adalah salju.
“ Selamat datang di penginapan Black Sakura, suatu kebanggaan anda datang kemari. Adakah yang bisa saya bantu?” suara Yuki begitu merdu dan lembut. Dia lebih pantas menjadi idola ketimbang resepsionis biasa.
Yuki adalah tipikal gadis Asia yang bakal membuat lelaki dari belahan dunia manapun bertekuk lutut. Meskipun bertubuh mungil ( karena dia lebih pendek dariku ) Yuki mempunyai rahang ovale bertulang kecil, dengan kulit mulus berwarna putih langsat. Bibirnya kecil dan ranum, sewarna buah tomat. Pipinya kemerahan dan kuduga itu asli bukan akibat tambahan blush-on. Yuki juga memiliki mata yang akan membuat gadis manapun iri. Bulat besar, dengan sepasang iris sehitam berlian. Rambutnya tiga kali gradasi warna lebih gelap daripada milik Ash, digulung jadi satu dipenuhi hiasan sakura. Dalam waktu sekejab saja aku langsung menyukai anak ini.
Tidak hanya karena dia cantik alami. Namun Yuki memiliki aura bernuansa putih, memandang wajahnya mampu membuatku merasa damai. Dan jelas, Yuki adalah satu dari sedikit perempuan langka yang tak terpengaruh pada penampilan fisik Ash. Aku bisa menyatakan jika Yuki gadis yang baik. Kurasa, Ash juga merasakan hal sama.
Sikutan Ash pada lengan kananku segera membuatku tersadar. Membuat Yuki tertawa manis didepan kami. Bagus, aku tadi pasti melongo memandangi seorang gadis cantik. Membuatnya berpikiran buruk tentangku.
“ Ya, tentu saja. Berikan kami kabar terbaik tempat ini” jawab Ash.
Yuki bahkan hanya mengangguk satu kali dan segera beralih pada komputernya. “ Anda beruntung, masih ada dua kamar royal family yang kosong” tukasnya tanpa mengalihkan pandangan pada layar. Yuki menunduk secepat kilat untuk mengambil sesuatu dibawah mejanya. Saat kembali memandang kami dia berkata. “ Mari saya antarkan”
Yuki membawa kami melalui jalur belakang, seorang pelayan laki-laki mengikuti dibagian paling belakang sambil menggeret kereta dorong berisi bawaan kami. Melewati lorong panjang berisi sederetan lukisan besar-besar dimana didalamnya terdapat gambar sepasang Suami Istri keturunan Jepang dengan seorang gadis cilik yang langsung membuat mataku membelalak.
“ Apa anda putri pemilik penginapan ini?” tanyaku tak bisa menahan diri, masih mengikuti Yuki.
Yuki menoleh pada kami sambil tersenyum, tak menghentikan langkahnya. “ Ya, nama belakangku Shiginuchi. Kedua Orang Tuaku adalah pendiri penginapan ini. Mereka pindah dari Okinawa, Jepang kemari dua tahun sebelum aku lahir. Aku besar dan tumbuh disini. Meski tinggal di Amerika, tapi jiwaku tetaplah orang Jepang” lalu pandangannya beralih kembali ke depan.
“ Harus kuakui aku kagum padamu, sangat jarang anak muda zaman sekarang masih memiliki nasionalisme setinggi dirimu” puji Ash sungguh-sungguh.
Yuki tampak tertawa didepan kami. “ Trims, kalian juga pasangan muda yang serasi. Kupikir jaman sekarang tak ada lagi pemuda bisa dipercaya” dia menoleh dan mengerlingkan satu matanya padaku. Membuat wajahku memerah.
Halaman belakangnya berupa jalan satu tapak yang menghubungkan puluhan bungalow bergaya khas Jepang tersebar melintang disepanjang sisi lajur kanan, seperti sudah terisi penuh, aku tahu dari suara-suara gaduh yang dibuat dari setiap ruangannya.
Yuki berhenti disebuah bungalow berpapan nomor duapuluh dua, mengeluarkan kuncinya kemudian membukakan pintunya untuk kami lalu memberikan tur singkat. Interiornya didesain etnik dengan beragam hiasan terbuat dari kayu tersebar, selain lampu utama terdapat penerangan tempel bercahaya kuning yang hanya dihidupkan jika mau saat malam. Sebuah ruang keluarga berisi sofa beludru coklat, karpet bulu ayam hitam, penghangat beserta kayu bakarnya, meja besar berisi koleksi buku dan majalah disudut.
Ruangan makannya terdiri dari sebuah meja panjang berkaki empat dengan empat kursi, semuanya berbahan mahogani. Terakhir kamar kami, yang tak kalah bernuansa indian, hiasan kepala rusa pada dinding atas,sebuah kasur double king size lengkap dengan tirai putihnya. Terakhir, tapi paling penting, kamar mandi. Sangat indah didesain bernuansa alam dengan hiasan dinding berupa bebatuan alam serta tanaman bambu mini berjejer sebagai hiasannya.
“ Semoga anda nyaman berada disini, dan kami harap pelayanan kami bisa memuaskan” ujarnya sopan.
“ Terimakasih, tempat ini luar biasa” jawab Ash seperlunya.
“ Ah, saya hampir lupa. Karena anda berdua baru disini jadi mungkin belum tahu jika, nanti setelah matahari terbenam warga kota akan mengadakan acara tahunan yang dihadiri seluruh penduduk dibagian alun-alun utama. Perayaan Malam Api Unggun. Acara setahun sekali ini merupakan tradisi leluhur sebagai salah satu ucapan syukur atas hasil panen selama musim panas. Ini terbuka untuk umum, saya harap anda berdua takkan melewatkannya”
Aku dan Ash saling bertatapan, jelas merasa tertarik. “ Tentu saja, kami akan datang” kataku, masih memandang Ash. Lalu Yuki lagi sekilas.
Yuki tersenyum, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kimononya dan mengu-lurkannya padaku. “ Khusus hari ini penginapan akan tutup pukul 16.00 karena itu setiap semua pengunjung wajib membawa kunci cadangan untuk masuk kedalam penginapan”
Aku mengambilnya dan memberinya ucapan terimakasih. Yuki memberi salam sekali lagi sebelum menutup pintu. Kami mendengar langkah zori ( sandal khas jepang terbuat dari anyaman warna-warni ) menjauh.
“ Dia gadis yang menyenangkan” kataku terus terang.
“ Oh coba lihat. Siapa bilang Aiyana Achak adalah musuh setiap wanita” godanya.
Merasa kesal, aku mencubit perutnya keras-keras hingga Ash mengerang. “ Jika itu berurusan denganmu. Sudah ah, aku mau mandi. Jangan mengikutiku kali ini” tukasku galak. Dan tawa Ash meledak ketika sudah berada didalam kamar mandi.
************
Seusai mandi, kami memutuskan menjelajahi ladang bunga sakura. Aku sudah mengganti atasanku dengan sweater putih kaos putih lengan panjang dan celana jeans kulit hitam. Sementara Ash memakai kaus pas badan hijau muda plus jaket kulit hitam, dia tidak mengganti celananya. Terlihat semakin keren dengan kamera digital SLR milikku menggantung dilehernya.
Satu tangan Ash merangkul pundakku sementara tangannya yang lain menggengam erat kameranya, kami berjalan menuruni undakan menuju jalan masuk ladang bunga. Kekasihku tengah asyik mengambil potret pemandangan sejak tadi.
Aku belum pernah menyentuh bunga sakura asli seumur hidupku, meskipun tidak suka warnanya karena pink tapi harus kuakui tanaman satu ini sungguh indah. Uniknya, tidak semua tumbuhan sakura didalam ladang ini merah muda. Ada beberapa pohon justru berwarna putih dan merah darah. Perpaduannya sangat indah.
Kulihat Ash amat fokus pada kumpulan burung yang bergerak diatas awan menuju kearah barat. Kemudian terdengar bunyi ‘klik’ nyaring sebanyak tiga kali. Kupandangi dirinya penuh kekaguman. Menyadari tengah kuperhatikan, Ash akhirnya berhenti memotret sambil berkata padaku. “ Bergayalah...” Berlagak seperti fotografer ternama.
Aku tertawa mengikuti permintaanya. Beberapa menit kemudian dia mulai sibuk mengambil gambarku. Berbagai pose diantara beragam jenis dan macam warna bunga, duduk, berdiri, bersila, tertawa, marah, hingga pose terjelek sekalipun. Namun favoritku adalah ketika dia berhasil menangkap fotoku yang tengah berdiri menengadahkan langit dengan mata terpejam, dibawah hujan bunga sakura. Itu merupakan suatu kebetulan.
Kami berhenti disaat udara hangat sore awal bulan September berhembus. Kelelahan, kami berdua memutuskan duduk pada area terbuka berumput pendek lembut dipenuhi berbagai macam warna bunga liar kecil tumbuh. Kubuka tas bahu kecilku dan mengeluarkan beberapa coklat bar plus teh s**u kemasan diatas rumput.
Ash menyambar sekotak teh s**u lalu meminumnya sampai habis, aku tertawa melihat kelakuannya. Ketika kami selesai makan, Ash berbaring disampingku. Kedua irisnya menatap tepat kedalam mataku, tangannya menjalar masuk kedalam sweaterku, membelai lembut perutku. Ini isyarat halus namun cukup bagiku.
Aku merasakan kebutuhan di perutku, gairahku meningkat ketika tangan Ash menelusuri bagian bawah pinggang hingga tulang belikatku. Aku berdiri dan menarik lepas sweater dari atas kepalaku,melepaskan ikat pinggang dan Ash membantuku menarik lepas celanaku. Api didalam mata Ash adalah nafsu. Aku berdiri diatasnya, masih memakai pakaian dalamku, memberinya perintah agar melakukan hal yang sama. Tanpa memprotes Ash melakukannya.
Lokasi kami tersembunyi, dan ini memberikan kami keberanian lebih untuk bertingkah seperti sekarang. Telanjang bulat ditengah-tengah ladang sakura disebuah kota kecil selatan California. Katakan aku gila, tapi inilah hal terhebatnya.
Kemudian,kami berdua mencengkram satu sama lain,lengannya keras,membuatku nyaman, ereksinya membesar diantara kami. Aku mencapai kejantanannya, memegangnya di dalam kedua tanganku dan mendesah padanya.
Dia mencium pundakku, terus turun ke dadaku, dan area sekitar kulitku yang menegang akibat putingku menegak. Berlutut didepanku, menyentuhkan dirinya diantara kakiku sehingga lenganku membuka lebar, kedua tanganku berada pada pundaknya.
Ash membelai bulatan menggunakan tangannya, membawa jarinya disekitar pinggangku untuk membuka lebar pahaku, dan membuka kewanitaanku yang lembab memakai mulutnya. Aku melenguh, lututku limbung ketika dia mencelupkan lidahnya kedalam diriku, memutari intiku yang sensitif kemudian menjentikannya dengan kelincahan. Ujung lidahnya tak henti-henti menyerempet pintu masukku, meluncur kedalam, memutar sekitarnya untuk menyentuh area kewanitaanku.
Getaran dilututku meningkat. Dia menangkapku dengan lengannya, membaringkanku di atas kain. Aku menautkan jariku pada rambutnya ketika Ash membawaku ke tepian o*****e.
Aku melenguh saat jari-jarinya basah oleh cairanku. Meluncur keluar dari intiku, mencari celah serta kulit meregang dibelakangnya. Ash menemukan pembukaanku lain nya, ketat dan keras. Dia menyapukan lidahnya, menggodaku, kemudian dia melakukan tekanan lembut, menggeliatkan jarinya hingga bagian pembukaku meregang lebih lebar sedikit demi sedikit. Aku mengerang keras pada sensasi itu, merasakan o*****e membelok didalamku. Sesaat sebelum tekanan menggelembung didalamku, aku merangkup wajahnya kemudian menaikkannya hingga kami bertatapan.
“ Aku ingin dirimu Ash! Sekarang! Didalamku” perintahku keras
Ash terkekeh, tampak gembira menikmati permainannya padaku berhasil. Ash merendahkan dirinya ke arahku. Menggunakan lengannya sebagai tumpuan, menciumku. Aku menemukan kejantanannya dengan jari-jariku yang mencari dan mengarahkannya. Menikmati kelembutannya ketika masuk, dan denyutan batangnya yang meluncur kedalam. Ash membisikkan namaku, mendapatkan ritme seimbang denganku pada awalnya pelan. Dia bergetar oleh kebutuhan, tubuhnya terguncang diatasku hingga menjadi tekanan cepat.
Ash mulai mendorongnya semakin cepat ketika nafasku menjadi desahan tak teratur. Kakiku terangkat keatas, melilitkannya disekitar pantatnya yang menegang serta menarik rapat. “ Oh Tuhan....” pekiknya menusuk lebih dalam saat setiap suku kata diucapkan.
Kejantanannya yang besar didalam diriku, lengannya disekitarku, suaranya ditelingaku hanya menyebutkan namaku serta kata-kata cinta. Perasaanku membuncah menjadi gelembung pelangi luar biasa besar. Seakan mengurung kami berdua dengan ketebalan tembok raksasa Cina. Ash tanpa belas kasihan, tangan dan mulutnya pada putingku, kasih sayangnya memenuhiku dan aku menangis karena pancaran sorot mata yang dia berikan saat ini murni cinta.
Kemudian ledakan besar itu terjadi. Gelembung itu pecah. Tapi kami tak menjadi berkeping-keping, justru sebaliknya. Rangkaian puzzle yang telah utuh dan disusun sempurna. Ash jatuh disampingku, menarikku kedalam pelukannya, menghujamiku dengan ciuman lembut. Tangan besarnya memenuhi wajahku, matanya dengan tulus mengatakan segala hal yang selama belasan tahun sempat dia pendam.
“ Jangan pernah pergi. Meninggalkanku. Menghilang. Melepaskanku. Apapun itu yang berhubungan dengan perpisahan kita. Jangan pernah melakukannya, karena aku takkan pernah menyerah untukmi. Baik sekarang, ataupun nanti”
Hatiku dipenuhi rasa haru.
Aku bukan tipe gadis yang gampang terayu kata-kata manis laki-laki, tapi dengan pemuda satu ini segalanya berbeda. Semua ucapannya, segala tindakannya. Murni kejujuran dan ketulusan.
Ash selalu menjadi pertama untukku.
Ciuman pertamaku....
Pelukan pertamaku....
Kekasih hatiku.....
Serta satu-satunya pria yang akan selalu kuserahkan tubuh dan jiwaku.
Ash menghapus air mataku dari pipiku, diantara isakan dan tawa aku menjawab. “ Tentu saja, aku terlalu mencintaimu untuk bisa melepaskanmu. Kurasa, mereka harus melepaskan jiwa kita dulu baru aku mau berpisah denganmu”
Wajah Ash melembut. Kali ini aku bergelung didalam kehangatan dadanya. Merasakan detak jantungnya. Mendengarkan debur didalam pembuluh darahnya. Tuhan, aku sangat mencintainya.